Kamis, 30 November 2017

ORANG-ORANG WALDENSES - 4.

Hasil gambar untuk gambar orang waldensia


Di tengah-tengah kegelapan yang menutupi dunia ini selama supremasi kekuasaan kepausan, terang kebenaran tidak dapat seluruhnya dipadamkan. Ada saksi-saksi Allah pada setiap zaman -- orang-orang yang memelihara imannya pada Kristus sebagai satu-satunya pengantara antara Allah dan manusia, yang berpegang pada Alkitab sebagai satu-satunya pedoman hidup, dan yang menguduskan hari Sabat yang benar. Generasi berikutnya tidak akan pernah tahu betapa besar dunia ini berhutang kepada orang-orang ini. Mereka di cap sebagai orang-orang bida'ah (penganut aliran yang bertentangan dengan aliran resmi), yang memegang kepercayaan yang keliru. Motif mereka diragukan, tabiat mereka di fitnah, tulisan-tulisan mereka di kekang, disalah-artikan, atau dirusakkan. Namun mereka tetap berdiri teguh, dan sepanjang zaman mereka mempertahankan kemurnian iman mereka, sebagai warisan suci bagi generasi yang akan datang.
      Sejarah umat Allah selama zaman-zaman kegelapan yang mengikuti supremasi kekuasaan Romawi, telah dituliskan di surga, tetapi hanya sedikit dalam catatan sejarah manusia. Hanya sedikit catatan keberadaan mereka yang bisa didapatkan, kecuali dalam hal tuduhan-tuduhan para penganiaya mereka.  Adalah kebijakan Roma untuk menghilangkan setiap perbedaan pendapat mengenai ajaran-ajaran atau dekrit-dekritnya. Setiap yang menyimpang, apakah manusia atau tulisan, harus dibinasakan. Pernyataan keragu-raguan atau yang mempertanyakan kekuasaan dogma kepausan, telah cukup alasan untuk membinasakan nyawa orang kaya atau miskin, bangsawan atau rakyat jelata. Roma juga berusaha untuk membinasakan
setiap catatan mengenai kekejamannya terhadap orang-orang yang mengingkari kekuasaannya. Konsili-konsili kepausan mengeluarkan dekrit agar semua buku-buku dan tulisan-tulisan yang berisi catatan-catatan seperti itu harus di bakar.  Sebelum alat-alat cetak ditemukan, terdapat hanya sedikit buku-buku, dan dalam bentuk yang tidak tahan lama di simpan. itulah sebabnya penganut-penganut agama Romawi hanya mengalami sedikit hambatan dalam melaksanakan maksud-maksud mereka.
      Tak satupun gereja yang berada dalam kekuasaan Romawi yang, tanpa di ganggu, bisa menikmati kebebasan hati nuraninya. Segera setelah kepausan memperoleh kekuasaan,  ia menghancurkan semua yang menolak mengakui jalan-jalannya.  Dan satu per satu gereja itu tunduk kepada pemerintahan dan kekuasaannya. 
      Di Britania Raya (Inggeris) telah sejak lama berakar Kekristenan primitif. Kabar Injil yang di terima orang-orang Briton pada abad-abad pertama tidak dicemarkan oleh kemurtadan Roma. Penganiayaan yang dilakukan oleh kaisar-kaisar kafir, yang mencapai tempat jauh ini,  adalah satu-satunya pemberian yang di terima oleh gereja-gereja Britania dari Roma. Banyak orang-orang Kristen yang melarikan diri dari penganiayaan di Inggeris dan berlindung di Skotlandia. Dari sini kebenaran itu telah di bawa ke Irlandia, dan di semua negeri kabar Injil itu telah di terima dengan sukacita.
      Pada waktu bangsa Saxon menyerang Britania, maka kekafiran memperoleh kekuasaan. Para penakluk ini merasa dirinya diremehkan kalau digurui oleh budak-budak mereka. Dan orang-orang Kristen telah di paksa untuk mengundurkan diri ke gunung-gunung dan ke daerah-daerah bersemak-semak. Namun terang yang tersembunyi untuk sementara, terus menyala. Di Skotlandia, seabad kemudian, terang itu menyinarkan terang yang menerangi negeri-negeri yang jauh. Dari Irlandia, muncullah Columba yang saleh dengan teman-temannya, yang menghimpun orang-orang percaya di pulau terpencil, Iona. Mereka membuat pulau ini menjadi pusat usaha pekabaran Injil. Salah seorang dari evangelis dari pusat pekabaran Injil ini adalah pemelihara hari Sabat menurut Alkitab, dan dengan demikian kebenaran ini telah diperkenalkan kepada orang-orang. Sebuah sekolah telah didirikan di Iona, dari mana para misionaris dikirimkan, bukan saja ke Skotlandia dan Inggeris, tetapi juga ke Jerman, ke Swis dan bahkan ke Italia.
      Akan tetapi Roma telah memusatkan perhatiannya ke Britania dan memutuskan untuk menguasainya. Pada abad keenam, misionarisnya menobatkan orang-orang kafir Saxon. Orang-orang barbar Saxon kafir yang sombong ini menerima para misionaris Roma, dan mempengaruhi ribuan orang untuk memeluk kepercayaan Romawi itu. Sementara pekerjaan itu maju, para pemimpin kepausan bersama-sama dengan mereka yang telah ditobatkan menhadapi orang-orang Kristen primitif. Tampaklah perbedaan yang menyolok. Orang Kristen primitif adalah sederhana, rendah hati, berpegang pada Alkitab dalam tabiat, pengajaran dan sikap, sementara para pemimpin kepausan bersama orang-orang Saxon yang sombong ditandai dengan menganut ketakhyulan, kemegahan dan kecongkakan kepausan. Utusan Roma meminta agar gereja-gereja Kristen mengakui supremasi kekuasaan kepausan. Orang-orang Briton dengan rendah hati menjawab bahwa mereka ingin mengasihi semua orang, tetapi paus tidak berhak menguasai gereja, dan yang bisa mereka berikan kepadanya hanyalah sikap tunduk yang berlaku bagi setiap pengikut Kristus. Berkali-kali mereka mengusahakan agar orang-orang Kristen ini tunduk kepada kekuasaan Roma. Tetapi orang-orang Kristen yang rendah hati itu, yang heran melihat kesombongan yang diperlihatkan oleh para utusan paus, dengan tegas menjawab bahwa mereka tidak mengenal pemimpin lain selain Kristus. Sekarang nyatalah roh kepausan yang sebenarnya. Pemimpin-pemimpin Roma itu berkata, "Jikalau kamu tidak menerima saudara-saudara yang membawa perdamaian kepadamu, maka kamu akan menerima musuh yang membawa kepadamu peperangan. Jikalau kamu tidak mau bersatu dengan kami untuk menunjukkan jalan kehidupan kepada orang-orang Saxon, maka kamu akan menerima pukulan maut dari mereka."  -- D'Aubigne, "History of the Reformation in the Sixteenth Century,"   b. 17, ch. 2. Ini bukanlah gertak sambal. Peperangan, persekongkolan dan tipu muslihat telah dilakukan terhadap saksi-saksi iman Alkitab ini, sampai
Gereja Britania dihancurkan atau dipaksa tunduk kepada kekuasaan paus.
      Di negeri-negeri di luar kekuasaan Roma, selama berabad-abad telah terdapat kelompok-kelompok Kristen yang tetap hampir bebas seluruhnya dari kebejatan kepausan. Mereka dikelilingi oleh kekafiran, dan dengan berlalunya zaman telah dipengaruhi oleh kesalahan-kesalahan kekafiran tersebut.  Tetapi mereka tetap menganggap Alkitab sebagai satu-satunya ukuran iman, dan berpegang kepada banyak kebenarannya. Orang-orang Kristen ini percaya keabadian hukum Allah dan memelihara hari Sabat hukum yang keempat. Jemaat-jemaat yang memegang iman dan praktek seperti ini terdapat di Afrika tengah dan di antara orang-orang Armenia di Asia.
      Tetapi dari antara mereka yang menolak pelanggaran kekuasaan kepausan itu, orang-orang Waldenseslah yang berdiri paling depan. Di negeri dimana kepausan telah memantapkan kedudukannya, maka kepalsuannya dan kebejatannyalah yang paling di tentang. Selama berabad-abad jemaat-jemaat di Piedmont mempertahankan kebebasan mereka. Tetapi waktunya akhirnya tiba pada waktu Roma memaksa mereka menyerah. Setelah dengan sia-sia berjuang melawan kekejaman Roma, para pemimpin jemaat ini dengan enggan mengakui supremasi kekuasaan kepausan, kepada siapa nampaknya seluruh dunia memberi pengakuan tanda takluk.  Namun, ada sebagian orang  yang menolak patuh kepada kekuasaan paus atau pejabat-pejabatnya. Mereka memutuskan untuk tetap mempertahankan kesetiaannya kepada Allah, dan memelihara kemurnian dan kesederhanaan iman mereka. Maka pemisahanpun terjadi. Mereka yang bergabung pada iman yang dahulu, sekarang mengasingkan diri. Sebagian mereka meninggalkan Alpen, negeri leluhur mereka, dan mengangkat panji-panji kebenaran di negeri asing. Sebagian yang lain mengasingkan diri ke lembah-lembah sempit dan celah-celah bukit terjal. Di tempat-tempat ini mereka memelihara kebebasan mereka menyembah Allah.
      Iman yang selama berabad-abad di pegang dan diajarkan oleh orang-orang Kristen Waldenses sangat bertentangan dengan doktrin palsu yang dikemukakan oleh Roma. Kepercayaan agama mereka di dapat dari firman Allah yang tertulis, sistem Kekristenan yang benar. Tetapi petani-petani yang rendah hati ini, di tempat pengasingan mereka yang tersembunyi dan tertutup dari dunia luar, dan yang harus mengerjakan pekerjaan mereka sehari-hari menggembalakan ternak dan memelihara kebun anggur, belum sampai kepada kebenaran yang menentang dogma dan ajaran gereja yang murtad itu. Iman mereka bukanlah iman yang baru saja di terima. Kepercayaan agama mereka adalah warisan dari leluhur mereka. Mereka merasa puas dengan jemaat kerasulan -- "iman yang telah disampaikan kepada orang kudus" ( Yudas 3). "Jemaat di padang
belantara," bukan hierarkhi yang dengan sombongnya bertahta di ibu kota besar dunia, adalah jemaat Kristus yang benar, penjaga kebenaran yang Allah suruh umat-Nya berikan kepada dunia ini.
      Salah satu sebab utama yang menyebabkan pemisahan jemaat yang benar dari Roma, ialah kebencian Roma kepada hari Sabat Alkitab. Sebagaimana diberitahukan oleh nubuatan, kekuasaan kepausan membuangkan kebenaran itu. Hukum Allah diinjak-injak, sementara tradisi dan adat kebiasaan manusia ditinggikan. Gereja-gereja yang telah di bawah kekuasaan kepausan dari mulanya telah di paksa untuk menghormati hari Minggu sebagai hari kudus. Di tengah-tengah kesalahan dan takhyul yang merajalela itu, banyak yang menjadi bingung, sementara mereka yang memelihara hari Sabat, mereka juga tidak bekerja pada hari Minggu. Hal ini tidak memuaskan para pemimpin kepausan. Mereka di tuntut bukan saja menyucikan hari Minggu, tetapi harus menajiskan hari Sabat. Dan mereka akan mengumumkan dan mencaci-maki dengan bahasa yang paling keras,  mereka yang berani menghormati hari Sabat. Hanya dengan melarika diri dari kekuasaan Roma saja seseorang dapat menuruti hukum Allah di dalam kedamaian. 
      Orang-orang Waldenses adalah di antara orang-orang Eropa yang pertama mendapat terjemahan Kitab Suci. (lihat Lampiran).  Beratus-ratus tahun sebelum Pembaharuan (Reformasi), mereka memiliki Alkitab dalam naskah bahasa mereka sendiri, mereka memiliki kebenran yang tidak dipalsukan, dan oleh karena ini mereka menjadi sasaran kebencian dan penganiayaan. Mereka menyatakan Gereja Roma sebagai Babilon murtad yang diwahyukan, dan meskipun nyawa mereka di ancam bahaya mereka berdiri teguh menolak kebejatannya. Sementara itu, di bawah tekanan penganiayaan yang berkepanjangan, beberapa orang berkompromi dalam iman mereka, sedikit demi sedikit mereka menyerah dalam prinsip-prinsip mereka yang jelas. Sebagian yang lain tetap berpegang teguh kepada kebenaran. Selama zaman kegelapan dan
kemurtadan, terdapatlah orang-orang Waldenses yang menyangkal supremasi Roma, yang menolak penyembahan patung sebagai pemujaan terhadap berhala, dan yang memelihara hari Sabat yang benar. Mereka tetap mempertahankan iman mereka meskipun di bawah topan oposisi yang ganas. Meskipun dilukai oleh tombak Savoyard dan dihanguskan oleh api Romawi, mereka tetap berdiri tabah walaupun menghadapi marabahaya demi firman Allah dan kehormatan-Nya. 
      Orang-orang Waldenses mendapatkan persembunyian mereka di balik puncak gunung-gunung pertahanan yang tinggi -- yang sepanjang zaman menjadi perlindungan bagi orang-orang yang di aniaya dan yang di tindas. Di sini terang kebenaran itu tetap bersinar di tengah-tengah kegelapan Zaman Pertengahan. Di sini, selama seribu tahun, saksi-saksi kebenaran mempertahankan iman yang mula-mula itu. 
      Allah telah menyediakan bagi umat-Nya satu kaabah kebesaran yang dahsyat, sesuai dengan kebenaran yang sangat besar yang dipercayakan kepada tanggungjawab mereka. Kepada mereka yang dipengasingan yang setia, gunung-gunung itu adalah lambang kebenaran Yehovah yang tak terubahkan. Mereka menunjukkan puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi itu kepada anak-anak mereka dalam kebesarannya yang tak berubah, dan membicarakan kepada mereka mengenai Dia yang pada-Nya tidak ada keadaan berubah-ubah atau bayangan perubahan, yang firman-Nya bertahan tetap seperti bukit-bukit
yang kekal. Allah telah meletakkan gunung-gunung dan memperlengkapinya dengan kekuatan. Tak ada tangan yang mampu selain tangan Penguasa Tak Terbatas itu, yang dapat memindahkannya dari tempatnya. Demikianlah juga Ia telah menetapkan hukum-Nya, yang menjadi dasar pemerintahan-Nya di surga maupun di dunia ini. Tangan manusia mungkin bisa menangkap sesamanya manusia dan membinasakan hidup mereka;  tetapi Tangan itu dapat mencabut gunung-gunung itu dari dasarnya dan melemparkannya kedalam lautan, sebagimana itu dapat mengubah satu perintah hukum Yehovah, atau menghapuskan salah satu janji-janji-Nya kepada mereka yang melakukan kehendak-Nya.  Dalam kesetiaan mereka kepda hukum-Nya, hamba-hamba Allah haruslah seperti teguhnya bukit-bukit yang tidak berubah.
      Gunung-gunung yang mengelilingi lembah dibawahnya telah menjadi saksi kepada kuasa penciptaan Allah dan kepastian perlindungan serta pemeliharaan-Nya yang tidak pernah gagal. Para musafir itu belajar mencintai lambang diam kehadiran Yehovah. Mereka tidak mengeluh atas kesulitan yang menimpa mereka. Mereka tidak pernah merasa kesepian di antara gunung-gunung terpencil itu. Mereka berterimakasih kepada Allah oleh karena Dia telah menyediakan bagi mereka suatu perlindungan dari angkara murka dan kekejaman manusia. Mereka bersukacita dalam kebebasan mereka untuk berbakti kepada-Nya. Sering, jika di kejar oleh musuh, kekuatan bukit-bukit itu terbukti menjadi pertahanan yang pasti. Dari tebing-tebing yang sangat tinggi mereka menyanyikan lagu-lagu pujian kepada Allah, dan pasukan tentera Roma tidak dapat
mendiamkan nyanyian ucapan syukur mereka itu. 
      Kesalehan para pengikut Kristus adalah murni, sederhana dan bersemangat. Mereka menilai prinsip-prinsip kebenaran melebihi nilai rumah, tanah, teman, kaum keluarga, bahkan hidup itu sendiri. Mereka berusaha dengan sungguh-sungguh membuat prinsip ini berkesan dan tertanam di dalam hati para pemuda. Sejak masa kanak-kanak para pemuda telah di beri pelajaran Alkitab dan di ajar untuk menganggap suci tuntutan hukum Allah. Alkitab jarang ada pada waktu itu; oleh sebab itu firman yang berharga itu harus di taruh di dalam ingatan. Banyak dari antara mereka mampu menghafalkan bagian-bagian dari Perjanjian Lama dan Perjjanjian Baru. Pemikiran tentang Allah dihubungkan dengan pemandangan alam yang indah dan agung,  dan dengan berkat-berkat sederhana kehidupan sehari-hari. Anak-anak kecil belajar memandang Allah dengan rasa syukur sebagai pemberi setiap karunia dan setiap penghiburan.
      Orang-orang tua yang lemah lembut dan penuh kasih sayang, mengasihi anak-anak mereka dengan bijaksana untuk membiasakan diri merasa puas diri. Dihadapan mereka terbentang kehidupan yang penuh dengan cobaan dan kesukaran, dan barangkali mati syahid. Mereka telah di didik sejak kecil menanggung kesukaran, tunduk kepada penguasa, namun berpikir dan bertindak bagi diri mereka sendiri. Sejak dini mereka telah di ajar untuk memikul tanggungjawab, menjaga pembicaraan dan mengerti kebijaksanaan berdiam diri.  Satu perkataan yang ceroboh yang terdengar oleh musuh dapat membahayakan bukan saja nyawa orang yang berbicara itu, tetapi juga nyawa ratusan saudara-saudaranya. Karena sebagaimana serigala mencari mangsanya, demikianlah musuh-musuh kebenaran mengejar mereka yang berani menuntut kebebasan iman keagamaannya.
      Orang-orang Waldenses telah mengorbankan harta duniawi demi kebenaran, dan dengan kesabaran yang gigih mereka bekerja untuk mendapatkan  makanan mereka. Setiap jengkal tanah yang bisa dikerjakan di antara gunung-gunung dikerjakan dengan cermat. Lembah-lembah dan kaki-kaki bukit yang kurang subur telah di buat memberikan hasil yang bertambah. Berhemat dan penyangkalan diri menjadi bagian dari pendidikan yang diberikan kepada anak-anak sebagai warisan dari leluhur. Kepada mereka diajarkan bahwa Allah merancang kehidupan untuk berdisiplin,  dan kebutuhan mereka akan terpenuhi hanya oleh usaha pribadi, oleh pemikiran dan perencanaan yang hati-hati, perhatian dan iman. Proses itu memang menuntut kerja keras dan melelahkan, tetapi baik dan menyehatkan, sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh manusia yang telah jatuh dalam dosa, sebagai sebuah sekolah yang disediakan Allah untuk pelatihan dan pengembangannya. Sementara pemuda itu di tempa tahan uji menghadapi kerja keras dan kesulitan, budaya intelek juga tidak dilalaikan. Mereka di ajar bahwa semua tenaga dan kekuatan mereka adalah milik Allah, dan bahwa semua harus ditingkatkan dan dikembangkan untuk pelayanan-Nya. 
      Jemaat -jemaat Vandois, di dalam kemurniannya dan kesederhanaannya, menyerupai jemaat-jemaat pada zaman rasul-rasul. Mereka menolak supremasi kepausan dan penjabat-pejabat tingginya, dan mereka membuat Alkitab sebagai satu-satunya kekuasaan tertinggi yang tidak dapat salah. Pendeta-pendeta mereka berbeda dengan imam-imam Roma yang megah bagaikan raja. Mereka mengikuti teladan Tuhannya, yang "datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani." Mereka memberi makan kawanan domba Allah, menuntun mereka ke padang rumput yang hijau dan mata air hidup firman-Nya yang kudus. Berbeda jauh dari keindahan dan kebesaran manusia yang angkuh, orang-orang ini berkumpul bukan di dalam bangunan gereja  yang megah atau katedral yang agung, tetapi di bawah bayang-bayang bukit-bukit di lembah Alpine, atau pada waktu bahaya, di tempat-tempat perlindungan di celah-celah bukit-bukit batu, untuk mendengarkan firman kebenaran dari hamba-hamba Kristus. Para pendeta itu bukan hanya mengkhotbahkan kabar Injil itu, tetapi mereka juga mengunjungi orang-orang sakit, mengajar dan menguji pengetahuan agama pada anak-anak, menegur kesalahan, berusaha menyelesaikan perselisihan dan memajukan keharmonisan dan rasa persaudaraan. Pada waktu damai, mereka dibelanjai dengan pemberian sukarela orang-orang. Tetapi seperti Rasul Paulus, si pembuat kemah itu, masing-masing belajar cara-cara berdagang atau profesi lain oleh mana, bila perlu, mereka menghidupi dirinya.
      Para pemuda menerima pengajaran dari para pendeta mereka. Alkitab dijadikan mata pelajaran utama, sementara perhatian juga diberikan kepada cabang-cabang pengetahuan umum lainnya. Injil Matius dan Yohanes dihafalkan dengan tulisan para rasul lainnya. Mereka juga dipekerjakan untuk menyalin Alkitab. Sebagian naskah berisi seluruh Alkitab itu, sebagian lagi hanya berisi pilihan-pilihan singkat, sebagian berisi keterangan ayat-ayat yang diberikan oleh mereka yang mampu menjelaskan Alkitab itu. Dengan demikian dimunculkanlah harta kebenaran yang telah lama disembunyikan oleh mereka yang berusaha meninggikan dirinya di atas Allah.
      Dengan sabar, dengan kerja keras yang tak mengenal lelah, kadang-kadang di dalam gua-gua yang dalam dan gelap di dalam tanah, yang diterangi hanya oleh obor, Alkitab itu telah di tulis ayat demi ayat, fatsal demi fatsal. Demikianlah pekerjaan itu berjalan terus, kehendak Allah yang telah dinyatakan itu bersinar terus seperti emas murni. Betapa semakin bersinar, semakin terang dan semakin berkuasanya kehendak Allah itu oleh karena mengalami pencobaan, hanya mereka yang terlibat langsung dalam pekerjaan ini saja yang dapat mengetahuinya. Malaikat-malaikat dari surga mengelilingi pekerja-pekerja yang setia ini.
      Setan telah mendesak imam kepausan dan pejabat-pejabat tingginya untuk mengubur Firman kebenaran itu di bawah sampah kesalahan, kemurtadan dan ketakhyulan. Tetapi dengan cara yang paling mengherankan firman itu telah terpelihara dengan murni sepanjang Zaman Kegelapan. Firman itu tidak membawa cap manusia,  tetapi meterai Allah. Manusia tidak jemu-jemunya berusaha mengaburkan arti Alkitab yang sederhana dan jelas, dan membuatnya bertentangan kepada kesaksian mereka sendiri. Tetapi seperti bahtera di atas laut yang bergelombang besar, Firman Allah itu mengatasi badai yang mengancamnya dengan kebinasaan. Sebagaimana tambang yang berisi emas dan perak tersembunyi jauh di bawah permukaan tanah, demikianlah semua orang harus menggali untuk mendapatkan kandungannya yang berharga. Demikianlah
juga Alkitab mengandung harta kebenaran yang akan dinyatakan hanya oleh mencarinya dengan sungguh-sungguh, rendah hati serta dengan doa. Allah merancang Alkitab itu sebagai buku pelajaran bagi semua umat manusia, pada masa kanak-kanak, pemuda dan dewasa, dan untuk dipelajari sepanjang masa.  Ia memberikan firman-Nya kepada manusia sebagai penyataan diri-Nya sendiri. Setiap kebenaran baru yang terlihat adalah pernyataan segar tabiat Pengarangnya. Mempelajari Alkitab adalah cara yang ditetapkan ilahi untuk menghubungkan manusia itu lebih dekat kepada Penciptanya, dan memberikan kepada mereka pengetahuan yang lebih jelas mengenai kehendak-Nya. Alkitab itu adalah media komunikasi antara Allah dan manusia.
      Sementara orang-orang Waldenses itu menganggap bahwa takut akan Allah adalah permulaan kebijaksanaan, mereka juga tidak buta terhadap pentingnya hubungan dengan dunia ini, dengan pengetahuan mengenai manusia dan kehidupan yang aktif, di dalam memperluas pemikiran dan mempercepat daya tangkap. Dari sekolah-sekolah mereka di pegunungan, beberapa pemuda telah mereka kirim ke institusi pendidikan di kota-kota Perancis dan Italia, dimana terdapat bidang-bidang studi, pemikiran dan pengamatan yang lebih luas daripada dikampung halaman mereka di pegunungan Alpen.  Pemuda-pemuda yang di kirim itu terbuka kepada pencobaan. Mereka menyaksikan kejahatan dan kebejatan, menghadapi agen-agen cerdik Setan yang membujuk mereka dengan bujukan yang paling halus dan penipuan yang paling berbahaya. Tetapi pendidikan mereka sejak kecil telah menjadi tabiat yang mempersiapkan mereka untuk menghadapi semua pencobaan ini.
      Di sekolah-sekolah yang mereka masuki, mereka tidak membuat persahabatan karib dengan siapapun. Jubah-jubah mereka telah di buat sedemikian rupa sehingga dapat menyembunyikan harta yang paling mahal -- naskah-naskah berharga Alkitab. Ini semua, adalah hasil kerja berbulan-bulan dan bertahun-tahun,  mereka bawa bersama mereka, dan bilamana keadaan memungkinkan tanpa menimbulkan kecurigaan, mereka dengan hati-hati meletakkan barang-barang itu di jalan orang-orang yang hatinya tampaknya terbuka untuk menerima kebenaran. Dari sejak pangkuan ibu, pemuda Waldenses telah di latih untuk maksud ini. Mereka mengerti pekerjaan mereka dan melakukannya dengan setia. Orang-orang yang bertobat kepada iman yang benar telah dimenangkan di institusi pendidikan ini, dan sering prinsip-prinsipnya telah menyusup ke seluruh sekolah. Namun para pemimpin kepausan tidak dapat menelusuri asal-usul apa yang mereka sebut kemurtadan yang bejat atau bida'ah, meskipun dilakukan penyelidikan yang ketat.
      Roh Kristus adalah roh pengabar Injil (misionaris).  Gerakan pertama hati yang dibaharui adalah membawa orang-orang lain juga kepada Juru Selamat. Demikianlah juga roh orang-orang Kristen Vaudois. Mereka merasa bahwa Allah meminta dari mereka lebih dari sekedar memelihara kebenaran itu dalam kemurniannya di dalam jemaat mereka, bahwa tanggungjawab yang sungguh-sungguh ditanggungkan kepada mereka untuk memancarkan terangnya menyinari mereka yang berada di dalam kegelapan. Dengan kuasa sangat hebat firman Allah, mereka berusaha mematahkan rantai perbudakan yang dilakukan oleh Roma. Pendeta-pendeta Vaudois telah di latih sebagai misionaris. Setiap orang yang diharapkan memasui
pelayanan kependetaan, pertama-tama harus mempunyai pengalaman sebagai pengabar Injil atau evangelis. Mereka harus melayani selama tiga tahun  diberbagai ladang misi sebelum mereka di beri tanggungjawab mengurus jemaat di kampung halamannya. Pekerjaan ini, yang  menuntut penyangkalan diri dan pengorbanan pada permulaannya, adalah penyesuaian pendahuluan kepada kehidupan kependetaan, yang pada waktu itu yang mencobai jiwa seseorang. Pemuda yang menerima penahbisan kepada jabatan kudus, memandang ke depan bukan kepada harta dan kemuliaan dunia, tetapi kepada kehidupan yang penuh kerja keras dan bahaya, dan mungkin nasib sebagai syahid (martir). Para misionaris itu keluar berdua-dua, sebagaimana Yesus mengirimkan murid-murid-Nya.  Setiap orang muda biasanya ditemani oleh seorang yang lebih tua dan
berpengalaman. Orang muda itu, yang di bawah bimbingan temannya yang bertanggungjawab untuk melatihnya, harus mematuhi dan memperhatikan pengajaran yang diberikan oleh temannya. Kedua teman sekerja ini tidak selamanya bersama-sama, tetapi sering bertemu untuk berdoa dan memperoleh petunjuk atau nasihat, dengan demikian menguatkan satu sama lain di dalam iman.
      Jika tujuan misi mereka ketahuan, pastilah mereka akan gagal. Oleh sebab itu, dengan hati-hati dan cermat mereka harus menyembunyikan maksud mereka yang sebenarnya. Setiap pendeta mempunyai pengetahuan mengenai perdagangan atau bidang-bidang profesi lain, dan para misionaris itu melakukan tugas-tugas misionarisnya secara rahasia di bawah naungan profesinya sebagai pedagang atau yang lain-lain. Biasanya mereka memilih sebagai pedagang atau penjaja barang-barang. "Mereka membawa kain sutera, batu permata, dan barang-barang lain yang pada waktu itu tidak mudah dapat di beli kecuali di pasar-pasar yang jauh. Dan mereka di sambut sebagai pedagang, yang seharusnya mereka di tolak dengan kasar kalau
sebagai misionaris." -- Wylie, b. 1, ch. 7.  Sementara itu hati mereka terangkat kepada Allah memohon akal budi untuk menyatakan harta yang lebih berharga dari emas atau batu permata. Dengan secara rahasia dan diam-diam mereka membawa salinan Alkitab, baik sebagian maupun seluruhnya. Dan bilamana kesempatan muncul, mereka menarik perhatian langganan kepada naskah-naskah ini. Sering perhatian untuk membaca firman Tuhan dibangkitkan, dan beberapa bagian-bagian Alkitab itu ditinggalkan pada mereka yang berminat menerimanya.
      Pekerjaan para misionaris ini dimulai di dataran dan lembah-lembah di kaki pegunungan mereka, tetapi kemudian meluas ke luar dari daerahnya itu. Dengan kaki telanjang dan dengan jubah yang kasar seperti yang di pakai Tuhannya dahulu, mereka melewati kota-kota besar dan menembusi negeri-negeri yang jauh. Dimana-mana mereka menebarkan benih yang berharga itu. Gereja-gereja bertumbuh disepanjang jalan yang mereka lalui. Dan darah orang yang mati syahid itu  menjadi saksi bagi kebenaran. Hari Allah akan menyatakan tuaian yang limpah jiwa-jiwa yang dikumpulkan sebagai hasil pekerjaan orang-orang yang setia ini. Dengan terselubung dan dengan diam-diam, firman Tuhan menerobos Kekristenan, dan menemui
penerimaan dengan senang hati di rumah-rumah dan di dalam hati orang-orang.
      Bagi orang-orang Waldenses Alkitab bukanlah sekedar catatan apa yang dilakukan Allah kepada manusia pada masa lalu, dan suatu pernyataan tanggungjawab dan tugas pada masa kini, tetapi membukakan marabahaya dan kemuliaan pada masa yang akan datang.  Mereka percaya bahwa tidak jauh lagi akhir dari segala sesuatu. Dan sementara mereka mempelajari Alkitab di dalam doa dan air mata, mereka semakin mendapat kesan mendalam dengan kata-katanya yang berharga itu, dan dengan tugas mereka untuk memberitahukan kepada orang lain mengenai kebenaran yang menyelamatkan itu. Mereka melihat rencana keselamatan itu dengan jelas dinyatakan di halaman-halamannya yang kudus. Dan mereka menemukan
penghiburan, pengharapan dan kedamaian di dalam mempercayai Yesus. Sementara itu menerangi pengertian mereka dan memberi kegembiraan kepada hati mereka, mereka rindu untuk menyinarkan terang itu kepada  orang-orang lain yang berada di dalam kegelapan kesalahan kepausan.
      Mereka melihat bahwa di bawah tuntunan paus dan imam-imamnya orang banyak dengan sia-sia berusaha memperoleh pengampunan oleh menyiksa tubuhnya untuk dosa-dosa jiwa mereka.  Di ajar untuk percaya kepada pekerjaan baik untuk menyelamatkan mereka, mereka selalu memandang kepada dirinya sendiri, pikiran mereka tetap dalam keadaannya yang berdosa. Mereka melihat diri mereka dihadapkan kepada murka Allah, yang menyiksa jiwa dan tubuh, namun tidak ada kelepasan. Dengan demikian jiwa-jiwa itu telah di ikat oleh ajaran-ajaran atau doktrin-doktrin Roma. Beribu-ribu orang meninggalkan teman-temannya dan kaum keluarganya dan menghabiskan waktunya di dalam sel-sel biara. Dengan berpuasa
berulang-ulang dan dengan mencambuk dengan kejam, dengan berdoa semalam-malaman, dengan tertelentang lemah berjam-jam lamanya di atas lantai yang dingin dan lembab yang sangat menyedihkan, dengan pengembaraan dan ziarah yang jauh, dengan menghukum diri sendiri untuk menebus dosa-dosa dan penyiksaan yang mengerikan, ribuan orang dengan sia-sia mencari kedamaian hati nurani. Di tekan oleh perasaan berdosa, dan dibayang-bayangi oleh ketakutan kepada murka pembalasan Allah, banyaklah yang menderita sampai menemui ajalnya tanpa seberkas sinar pengharapan mereka memasuki kuburnya.
      Orang-orang Waldenses rindu untuk membagi-bagikan roti hidup kepada jiwa-jiwa yang kelaparan ini, membukakan kepada mereka kabar kedamaian di dalam janji-janji Allah, dan menuntun mereka kepada Kristus sebagai satu-satunya pengharapan keselamatan mereka. Doktrin yang mengatakan bahwa perbuatan baik boleh menyucikan pelanggaran kepada hukum Allah yang mereka pegang, didasarkan atas kepalsuan. Kebergantungan kepada jasa manusia menghalangi pandangan kepada kasih Kristus yang tidak terbatas itu. Yesus mati sebagai korban bagi manusia, sebab manusia yang sudah jatuh itu tidak dapat berbuat apa-apa untuk menyenangkan Allah atas dirinya. Jasa Juru Selamat yang sudah tersalib dan bangkit kembali itu adalah azas iman Kristen. Ketergantungan jiwa-jiwa kepada Kristus adalah suatu realita, dan hubungan jiwa-jiwa
itu kepada-Nya haruslah sedekat seperti anggota tubuh kepada badan atau seperti cabang kepada pokok anggur itu.

      Pengajaran para paus dan imam-imam telah menuntun manusia memandang tabiat Allah, dan bahkan Kristus, sebagai yang keras, bengis, suram dan menakutkan. Juru Selamat dinyatakan sebagai yang tidak mempunyai simpati kepada manusia di dalam keadaannya yang telah jatuh, sehingga pengantaraan imam-imam dan orang-orang kudus perlu dimintakan. Mereka yang pikirannya telah diterangi oleh firmn Allah rindu untuk menunjukkan jiwa-jiwa ini kepada Yesus sebagai Juru Selamatnya yang berbelas kasihan dan yang penuh kasih sayang. Juru Selamat yang merentangkan tangan-Nya berdiri mengundang semua orang untuk datang kepada-Nya dengan beban dosa mereka, dengn kekhawatirannya dan keletihannya.
Mereka rindu untuk menyingkirkan semua hambatan yang telah di tumpuk oleh Setan sehingga orang-orang tidak bisa lagi melihat janji-janji Tuhan, dan datang langsung kepada Allah, mengakui dosa-dosa dan memperoleh pengampunan dan perdamaian.
      Dengan kerinduan,  misionaris Vaudois itu membukakan kabar Injil kebenaran yang berharga itu kepada pikiran orang-orang yang bertanya-tanya. Dengan hati-hati ia memberikan bagian Alkitab yang telah di salin. Adalah merupakan kesukaan besar baginya untuk memberikan pengharapan bagi jiwa-jiwa yang di landa dosa, jiwa yang sungguh-sungguh, yang melihat hanya Allah pembalas, yang menunggu pelaksanaan pengadilan. Dengan bibir yang gemetar dan mata yang berlinang air mata, ia sering melipat lututnya, membukakan kepada saudara-saudaranya janji-janji mulia yang dinyatakan menjadi harapan satu-satunya bagi orang berdosa. Demikianlah terang kebenaran itu menerusi banyak pikiran yang telah digelapkan,
menggulung kembali awan gelap sampai Matahari Kebenaran bersinar ke dalam hati dengan kesembuhan di dalam sinar-Nya. Sering terjadi bahwa beberapa bagian Alkitab di baca berulang-ulang; yang mendengarkan mau agar diulangi, seolah-olah untuk memastikan kepada dirinya bahwa ia telah mendengarnya dengan benar. Khusunya pengulangan kata-kata ini sangat dirindukan, "Darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa" (1 Yoh. 1:7).  "Dan sam seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal" (Yoh. 3:14,15). 
      Banaklah yang tidak dapat di tipu sehubungan dengan tuntutan-tuntutan Roma. Mereka melihat betapa sia-sianya pengantaraan orang-orang atau malaikat-malaikat atas orang-orang berdosa. Sementara terang benar itu terbit di dalam pikiran mereka, mereka berseru dengan sukacita, "Kristuslah imanku; darah-Nyalah korbanku; mezbah-Nyalah tempat pengakuanku."  Mereka menaruh dirinya sepenuhnya kepada jasa Yesus, lalu mengulang-ulangi perkataan ini,  "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah" ( Iberani 11:6). "Sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kisah 4:12).
      Kepastian kasih Juru Selamat tampaknya terlalu banyak untuk disadari oleh jiwa-jiwa malang yang di landa topan kebingungan. Begitu besar kelegaan yang diberikannya, sinar yang begitu terang dipancarkan kepada mereka, sehingga mereka merasa seolah-olah telah di angkat ke surga. Tangan mereka dengan yakin diletakkan di atas tangan Kristus. kaki mereka dijejakkan di atas Batu Zaman. Semua ketakutan kepada kematian telah sirna. Sekarang mereka dapat menghadapi penjara dan dapur api jika dengan itu mereka bisa memuliakan nama Penebus mereka.
      Di tempat-tempat rahasia firman Allah telah dibawakan dan di baca, kadang-kadang kepada perseorangan, kadang-kadang kepada sekelompok kecil orang yang rindu kepada terang dan kebenaran. Seringkali sepanjang malam digunakan dengan cara ini. Begitu besar keheranan dan kekaguman para pendengar sehingga tidak jarang pemberita belas kasihan itu di paksa untuk menghentikan pembacaannya sampai pengertian mereka dapat menangkap berita keselamatan itu. Sering kata-kata seperti ini diucapkan, "Maukah Allah meneima persembahanku? Maukah Ia tersenyum kepadaku? Maukah Ia mengampuni aku?"  Lalu dibacakan jawabnya, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan
memberi kelegaan kepadamu" (Matius 11:28).
      Iman menangkap janji itu, dan respons kesukaanpun terdengarlah: "Tidak perlu lagi mengadakan perjalanan ziarah yang jauh, tidak perlu lagi perjalanan ke kuil-kuil yang meletihkan. Aku boleh datang kepada Yesus sebagaimana aku ada, penuh dosa dan cemar, dan Ia tidak akan menghinakan doa penyesalan atau pertobatan. 'Dosamu diampuni.'  Dosaku, bahkan dosaku, juga dapat diampuni!"
      Suatu arus sukacita yang suci akan memenuhi hati, dan nama Yesus akan dibesarkan oleh puji-pujian dan ucapan terimakasih dan syukur.  Jiwa-jiwa yang berbahagia itu kembali ke kampung halaman mereka masing-masing untuk menyebarkan terang, untuk menceriterakan kembali pengalaman baru mereka kepada orang lain, sebaik mereka bisa, bahwa mereka telah menemukan Jalan yang hidup dan benar. Ada kuasa yang aneh dan khidmat di dalam firman Alkitab yang berbicara langsung ke dalam hati orang-orang yang rindu kepada kebenaran. Itu adalah suara Allah, yang membawa keyakinan kepada mereka yang mendegarkannya.
      Pemberita atau pesuruh kebenaran itu meneruskan perjalanannya. Tetapi penampilannya yang rendah hati, ketulusannya, kesungguh-sungguhannya dan semangatnya yang menyala-nyala sering menjadi pokok pembicaraan. Dalam berbagai hal pendengar-pendengarnya tidak menanyakan kapan ia datang dan kemana ia akan pergi. Mereka begitu dipenuhi, mula-mula dengan kejutan, dan sesudah itu rasa syukur dan sukacita, sehingga tidak terpikir lagi untuk bertanya. Bilamana mereka membujuknya bersama kerumah mereka, ia menjawab bahwa ia harus mengunjungi domba yang hilang dari kawanannya. Apakah ia itu malaikat dari surga?  Mereka bertanya.

      Dalam bebagai keadaan, pemberita atau pesuruh kebenaran itu tidak kelihatan lagi. Ia telah pergi ke negeri lain, atau ia telah di sekap di dalam penjara bawah tanah, atau barangkali ia telah di bunuh di tempat ia menyaksikan kebenaran itu. Tetapi firman yang ditinggalkannya di belakangnya tidak dapat dibinasakan. Firman itu telah bekerja di dalam hati orang-orang. Hasil terbaiknya hanya akan diketahui pada waktu penghakiman.
      Para misionaris Waldenses itu telah menyerbu kerajaan Setan. Dan kuasa kegelapan bangkit dengan kewaspadaan yang lebih besar. Setiap usaha untuk memajukan kebenaran diamati dengan seksama oleh raja kejahatan, dan ia menimbulkan rasa takut agen-agennya.  Para pemimpin kepausan melihat gejala-gejala yang membahayakan kepentingan mereka dari usaha-usaha yang rendah hati ini. Jika terang kebenaran dibiarkan bersinar tanpa hambatan, maka ia akan menyapu bersih awan tebal kesalahan yang menyelimuti orang-orang. Terang itu akan menuntun pikiran manusia hanya kepada Allah saja, dan dengan demikian akan menghancurkan supremasi Roma.
      Kehadiran orang-orang ini, yang berpegang kepada iman yang mula-mula itu, telah menjadi kesaksian tetap kepada kemurtadan Roma, dan oleh sebab itu telah membangkitkan kebencian dan penganiayaan yang paling kejam. Penolakan mereka menyerahkan Alkitab itu juga merupakan suatu pelanggaran yang tidak bisa di terima oleh Roma. Roma memutuskan untuk menghapuskan mereka dari muka bumi ini. Sekarang mulailah perang melawan umat Allah di rumah mereka dipegunungan. Para pemeriksa mulai bekerja, maka terulanglah pembantaian orang-orang yang tidak bersalah, seperti Habil yang tidak bersalah dahulu itu di bantai oleh Kain, si pembunuh.
      Lagi-lagi tanah mereka yang subur diterlantarkan, tempat tinggal dan rumah kebaktian mereka di sapu bersih, sehingga yang pada suatu waktu adalah ladang-ladang subur dan rumah orang-orang yang tidak bersalah dan rajin, sekarang yang tinggal hanyalah kegersangan. Sebagaimana binatang buas semakin buas setelah menghisap darah, demikianlah amukan orang-orang kepausan dinyalakan semakin besar oleh penderitaan korban mereka. Banyak dari saksi-saksi ini oleh karena iman mereka di kejar-kejar ke gunung-gunung, di buru sampai ke lembah-lembah dimana mereka bersembunyi, yang ditutupi oleh hutan lebat dan batu-batu besar.
      Tidak ada celaan moral yang bisa dituduhkan kepada kelompok yang diharamkan ini. Musuh-musuhnya sendiri menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang suka damai, tenang dan saleh. Kesalahan besar mereka adalah bahwa mereka tidak mau berbakti kepada Allah seperti yang dikehendaki oleh paus. Untuk kejahatan ini maka ditimpakanlah kepada mereka segala cemoohan dan hinaan dan siksaan yang dapat diciptakan oleh manusia atau Setan.
      Bilamana Roma pada suatu waktu  memutuskan untuk memusnahkan sekte yang di benci ini, satu surat perintah dikeluarkan oleh paus, yang mengutuk mereka sebagai orang-orang murtad, dan mengirim mereka ke pembantaian. (lihat Lampiran). Mereka tidak di tuduh sebagai orang-orang yang malas atau yang tidak jujur, atau orang yang mengacau, tetapi telah dinyatakan bahwa mereka tampak sebagai orang saleh yang kudus yang menggoda "domba yang benar."  Oleh sebab itu paus memerintahkan agar  "sekte yang jahat dan menjijikkan yang berbahaya itu"  jika mereka "menolak untuk meninggalkan keyakinannya, maka akan dihancurkan sebagai ular berbisa." -- Wylie, b. 16, ch. 1. Apakah penguasa yang sombong ini mengharapkan akan bertemu kembali dengan kata-kata itu?  Apakah ia tahu bahwa kata-kata itu telah di catat di buku surga, untuk menghadapinya pada pengadilan surga kelak?  "Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini," kata Yesus, "kamu telah melakukannya untuk Aku" ( Matius 25:40). 
      Surat perintah itu memanggil semua anggota jemaat untuk bergabung memerangi orang-orang bida'ah, yang murtad itu. Sebagai perangsang untuk mengambil bagian dalam pekerjaan kejam ini, seseorang akan "dibebaskan dari segala beban dan hukuman, baik secara umum atau khusus. Mereka yang ikut berperang akan dibebaskan dari setiap sumpah yang telah diucapkan. Akan disahkan haknya atas harta yang sebelumnya mungkin diperoleh dengan tidak sah, dan memperoleh pengampunan dosa, jika mereka harus membunuh orang-orang murtad atau bida'ah itu.  Perintah itu juga membatalkan semua kontrak dengan orang-orang Vaudois, dan memerintahkan untuk meninggalkan rumah mereka  serta melarang semua orang untuk membantu mereka dalam hal apapun. Dan memberi kuasa kepada semua orang untuk mengambil harta milik mereka." -- Wylie, b. 16, ch. 1. Dokumen ini dengan jelas menyatakan siapa yang menjadi dalangnya. Itu adalah auman suara gemuruh naga itu, bukan suara Kristus yang terdengar di situ.
      Para pemimpin kepausan tidak akan menyesuaikan tabiat mereka dengan standar hukum Allah, tetapi mendirikan satu standar yang sesuai dengan kehendak mereka,  dan memutuskan memaksa semua  menyesuaikan diri dengan standar ini, sebab Roma menghendaki demikian. Tragedi yang paling mengerikan telah berlaku.  Imam-imam yang bejat dan penuh dengan hujat, bersama-sama dengan paus telah melakukan pekerjaan yang di suruh oleh Setan mereka lakukan.  Belas kasihan tidak ada lagi pada diri mereka. Roh yang sama yang menyalibkan Kristus dan yang membunuh para rasul, roh yang sama yang menggerakkan kaisar Nero yang haus darah menimpa orang-orang yang setia pada zamannya, itulah yang bekerja untuk menumpas kekasih-kekasih Allah dari dunia ini.
      Penganiayaan yang menimpa orang-orang yang takut kepada Allah selama beberapa abad telah mereka tanggung dengan kesabaran dan ketetapan hati yang memuliakan Penebus mereka. Walaupun ada perang yang dilancarkan terhadap mereka, dan pembantaian yang tidak berperikemanusiaan yang ditujukan kepada mereka, mereka terus mengirim misionaris untuk menyebarkan kebenaran yang berharga itu. Mereka di buru-buru untuk di bunuh, namun darah mereka menyirami biji-biji kebenaran yang ditaburkan, dan biji-biji kebenaran itu tidak gagal untuk mengeluarkan buah-buah.  Demikianlah orang-orang Waldenses bersaksi bagi Allah, berabad-abad sebelum kelahiran Martin Luther.  Tercerai berai di berbagai negeri, mereka menaburkan bibit Reformasi yang mulai pada zamannya Wycliffe, yang bertumbuh meluas dan mendalam pada masa Martin Luther, dan akan diteruskan sampai akhir zaman oleh mereka yang juga besedia menderita segala sesuatu "oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus" (Wahyu 1:9).

Rabu, 29 November 2017

KEMURTADAN - 3

Hasil gambar untuk gambar kepausan

Rasul Paulus dalam suratnya yang ke dua kepada orang-orang Tesalonika, meramalkan tentang kemurtadan besar yang akan mengakibatkan terbentuknya kuasa kepausan. Ia menyatakan bahwa hari Kristus tidak akan datang, kecuali "datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka yang harus binasa, yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang di sebut atau yang di sembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah" (2 Tes. 2:3,4,7). Dan lebih jauh rasul itu mengamarkan saudara-saudaranya bahwa, "rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja."  Bahkan pada hari-hari permulaan itupun ia melihat menjalar ke dalam gereja, kesalahan yang membuka jalan
kepada pengembangan kepausan. 
      Sedikit demi sedikit, mula-mula secara sembunyi-sembunyi dan diam-diam, kemudian semakin terbuka setelah semakin bertambah kuat dan semakin menguasai pikiran manusia, rahasia kejahatan itu menampakkan pekerjaan penipuan dan penghujatannya. Hampir tidak bisa disadari kebiasaan-kebiasaan kekafiran mendapatkan jalan memasuki gereja Kristen. Roh berkompromi dan penyesuaian diri untuk seketika lamanya telah di tahan oleh penganiayaan kejam yang dialami jemaat dari kekafiran. Tetapi sementara penganiayaan berhenti dan Kekristenan memasuki pengadilan dan istana raja-raja, jemaat itu
telah menanggalkan kerendahan dan kesederhanaan Kristus dan rasl-rasul-Nya, dan menggantikannya dengan kesombongan dan keangkuhan imam-imam kafir dan para penguasa. Dan tuntunan Allah di ganti dengan teori-teori dan tradisi manusia. Pertobatan tak berarti kaisar Constantine pada permulaan abad ke empat membawa kesukaan besar. Dan dunia ini, yang diselubungi suatu bentuk kebenaran, memasuki gereja. Sekarang pekerjaan yang korup berkembang dengan pesat. Kekafiran yang tampaknya akan menang menjadi penakluk. Roh kekafiran menguasai jemaat. Ajarannya, upacara-upacaranya dan takhyul telah digabungkan kedalam perbaktian orang-orang yang mengaku pengikut Kristus. Kompromi antara kekafiran dan Kekristenan mengakibatkan berkembangnya  "manusia durhaka" yang diramalkan di dalam nubuatan sebagai yang melawan dan yang meninggikan dirinya melebihi Allah. Sistem raksasa agama palsu itu adalah buah karya  kuasa Setan, -- sebagai monumen usahanya untuk mendudukkan dirinya sendiri di atas takhta untuk memerintah dunia ini menuruti kehendaknya.
      Setan pada suatu kali berusaha untuk membentuk suatu kompromi dengan Kristus. Ia mendatangi Anak Allah di padang gurun pencobaan, dan menunjukkan kepada-Nya semua kerajaan dunia ini serta kemuliaannya. Ia akan memberikan semuanya itu kepada-Nya jikalau saja Ia mau mengakui supremasi raja kegelapan itu. Kristus menghardik penggoda yang keterlaluan itu, dan mengusirnya pergi. Tetapi Setan memperoleh keberhasilan yang lebih besar dengan menggunakan pencobaan yang sama kepada manusia. Untuk memperoleh keuntungan-keuntungan dan kehormatan duniawi, jemaat telah di tuntun untuk mencari bantuan dan dukungan orang-orang besar dunia. Dan dengan menolak Kristus, jemaat itu di bujuk untuk tunduk kepada wakil Setan -- bishop Romawi.
      Salah satu doktrin utama Romanisme ialah bahwa paus adalah kepala gereja universal Kristus yang kelihatan, yang di beri kuasa utama mengatasi semua bishop dan pendeta di seluruh bagian dunia ini. Lebih daripada itu, paus telah di beri satu-satunya gelar Keilahian. Ia dijuluki "Paus Tuhan Allah" (lihat lampiran), dan telah dinyatakan sebagai seorang yang tidak dapat salah. Ia menuntut pernyataan rasa  hormat dari semua manusia. Tuntutan yang sama yang diajukan oleh Setan di padang gurun pencobaan, masih tetap diajukannya melalui Gereja Roma, dan sangat banyaklah orang yang siap sedia memberikan kepadanya penghormatan itu.
      Tetapi orang-orang yang takut dan meghormati Allah menghadapi asumsi ini dengan keberanian surgawi sebagaimana Kristus menghadapi bujukan licik musuh itu:  "Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti" (Lukas 4:8).  Allah tidak pernah memberi isyarat di dalam firman-Nya yang Ia telah menunjuk seseorang menjadi kepala gereja. Ajaran (doktrin) mengenai supremasi kepausan adalah bertentangan langsung dengan pengajaran Alkitab. Paus tidak mungkin mempunyai kuasa atas gereja Kristus kecuali dengan perebutan kekuasaan.
      Para pengikut Romanisme terus menerus menuduh kaum Protestan sebagai orang-orang yang menyimpang dari iman dan dengan sengaja memisahkan diri dari gereja yang benar. Tetapi sebenarnya tuduhan ini mengenai dan berlaku bagi mereka sendiri. Merekalah yang telah menurunkan panji-panji Kristus, dan berpaling dari "iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus" (Yudas 3).
      Setan mengetahui benar bahwa Alkitab akan menyanggupkan manusia untuk mengetahui penipuannya dan melawan kuasanya. Bahkan, adalah oleh Firman itu Juru Selamat dunia ini telah mampu melawan serangan Setan itu. Pada setiap serangan, Kristus menggunakan perisai kebenaran abadi, dengan berkata, "Ada tertulis."  Kepada setiap usul musuh, Ia menghadapkan akal budi dan kuasa Firman itu. Setan harus membuat manusia itu mengabaikan dan tidak mengerti Alkitab agar ia dapat mempertahankan serangan-serangannya kepada manusia dan mendirikan kekuasaan kepausan yang di rebut itu. Alkitab akan meninggikan Allah, dan menempatkan manusia fana itu pada posisinya yang sebenarnya. Oleh sebab
itu kebenarannya yang kudus harus ditutupi dan di tindas. Logika seperti itu telah di anut oleh Gereja Roma. Selama bertahun-tahun pengedaran Alkitab telah di larang. Orang-orang di larang  membacanya dan mempunyainya dirumahnya. Dan para pastor yang tidak jujur dan keji dan pejabat-pejabat tinggi Gereja Roma menerjemahkan pengajaran Alkitab untuk mendukung kepura-puraan mereka. Dengan demikian, paus menjadi seseorang yang secara universal diakui sebagai wakil Allah di dunia ini, yang di beri kuasa atas gereja dan negara.
      Alat penunjuk kesalahan telah disingkirkan. Setan bekerja sesuka hatinya. Nubuatan telah mengatakan bahwa kepausan telah "berusaha untuk mengubah waktu dan hukum" (Daniel 7:25). Dan usaha ini telah diwujudkan dengan tidak berlambatan. Untuk memperoleh orang-orang yang bertobat dari kekafiran,  suatu pengganti penyembahan berhala telah diadakan, dengan demikian memajukan penerimaan mereka akan Kekristenan secara resmi. Pemujaan terhadap patung-patung dan benda-benda keramat, secara berangsur-angsur diperkenalkan kepada perbaktian Kristen. Dekrit majelis umum (lihat lampiran) pada akhirnya menetapkan sistem pemujaan berhala. Untuk penyempurnaan penodaan tempat yang suci, Roma memberanikan diri untuk menghapus dari taurat Allah hukum yang kedua yang melarang penyembahan berhala, dan membagi hukum yang ke sepuluh agar tetap jumlah hukum itu sepuluh.
      Pemberian konsesi kepada penyembahan berhala membuka jalan kepada pengabaian lebih jauh kekuasaan Surgawi. Setan, yang bekerja melalui pemimpin-pemimpin gereja yang tidak suci, memalsukan hukum keempat dan mencoba menyingkirkan hari Sabat kuno, hari yang telah diberkati dan dikuduskan (Kej. 2:2,3), dan sebagai gantinya meninggikan hari berpesta orang kafir sebagai "hari matahari yang patut dihormati." Mula-mula perobahan ini tidak dilakukan secara terbuka. Pada abad-abad pertama, hari Sabat yang sebenarnya telah dipelihara oleh semua orang Kristen. Mereka menjaga kehormatan Allah, dan percaya bahwa hukum-Nya tidak bisa dirubah. Dengan bersemangat mereka menjaga kesucian ajarannya. Tetapi dengan kelicikan yang amat sangat, Setan bekerja melalui agen-agennya untuk mencapai tujuannya. Agar
supaya perhatian orang-orang boleh dialihkan kepada hari Minggu, hari itu telah dijadikan hari pesta prayaan menghormati kebangkitan Kristus. Diadakan juga upacara keagamaan pada hari itu, namun hari Minggu itu di anggap sebagai hari rekreasi, karena hari Sabat masih di pelihara sebagai hari kudus.
      Untuk mempersiapkan jalan bagi pekerjaan yang telah ditetapkan untuk di capai, Setan telah menuntun orang-orang Yahudi, sebelum kedatangan Kristus, untuk membebani pemelihara hari Sabat dengan ketepatan yang sangat ketat, sehingga membuat pemeliharaan hari Sabat itu sebagai suatu beban. Sekarang, dengan mengambil keuntungan dari terang palsu yang mengharuskan pemeliharaan itu, ia melemparkan cemoohan pada hari itu sebagai lembaga Yahudi. Sementara orang-orang Kristen umumnya terus memelihara hari Minggu hari pesta kesukaan, ia menuntun mereka untuk membenci Yudaisme dan menjadikan hari Sabat suatu hari berpuasa, hari kesedihan dan kemurungan.
      Pada permualaan abad keempat, kaisar Constantine  mengeluarka suatu dekrit yang membuat hari Minggu menjadi hari perayaan umum di seluruh kekaisaran Romawi (lihat lampiran). Hari matahari itulah di puja oleh orang-orang kafir, dan telah dihormati oleh orang-orang Kristen. Adalah kebijakan kaisar untuk mempersatukan kepentingan yang bertentangan antara kekafiran dan Kekristenan. Ia telah di dorong untuk melakukan ini oleh para bishop gereja, yang diilhami oleh ambisi dan kehausan akan kekuasaan, dengan pertimbangan, jika hari yang sama di pelihara oleh baik orang Kristen maupun orang kafir, maka akan meningkat penerimaan orang-orang kafir terhadap Kekristenan, dan dengan demikian memajukan kuasa dan
kemuliaan gereja. Tetapi sementara banyak orang-orang Kristen yang takut akan Allah secara berangsur-angsur di tuntun untuk menganggap hari Minggu sebagai hari yang mempunyai tingkat kekudusan, mereka masih tetap berpegang pada hari Sabat yang benar sebagai hari kudus Allah, dan memeliharanya sebagai penurutan kepada hukum keempat.  
      Penipu ulung itu belum menyelesaikan pekerjaannya. Ia telah bertekad untuk mengumpulkan dunia Kristen di bawah panji-panjinya dan menjalankan kuasanya melalui wakilnya, paus yang angkuh, yang mengatakan dirinya sebagai wakil Kristus. Melalui orang-orang kafir yang setengah bertobat, imam-imam yang ambisius dan orang-orang gereja yang mengasihi dunia ini, ia mencapai maksud dan tujuannya . Musyawarah-musyawarah akbar telah diadakan dari waktu ke waktu, dimana pejabat-pejabat tinggi gereja dari seluruh dunia di undang untuk berkumpul. Di dalam hampir semua musyawarah, hari Sabat yang telah ditetapkan oleh Allah, telah di tekan dan semakin direndahkan, sementara hari Minggu semakin ditinggikan. Demikianlah pesta perayaan kekafiran akhirnya dihormati sebagai lembaga ilahi, sementara hari Sabat
yang menurut Alkitab, telah dinyatakan sebagai peninggalan Yudaisme, yang pengikutnya telah dinyatakan terkutuk.
      Yang murtad itu telah berhasil meninggikan dirinya sendiri "di atas segala yang di sebut atau yang di sembah sebagai Allah" (2 Tes. 2:4). Ia telah berani mengganti ajaran hukum ilahi yang menunjukkan semua umat manusia kepada Allah yang benar dan hidup itu. Dalam hukum keempat, Allah dinyatakan sebagai khalik, pencipta langit dan bumi, yang dengan demikian membedakannya dari semua allah-allah palsu. Hari Sabat itu adalah sebagai peringatan kepada pekerjaan penciptaan, dan hari ketujuh itu telah disucikan sebagai hari istirahat bagi manusia. Hari Sabat itu di rancang agar Allah yang hidup itu selalu berada di dalam pikiran manusia sebagai sumber segala sesuatu dan tujuan dari penghormatan dan perbaktian. Setan berusaha keras untuk membalikkan manusia itu dari kesetiaannya kepada Allah dan dari penurutannya
kepada hukum-Nya. Itulah sebabnya ia menunjukkan usahanya terutama menentang hukum yang menunjuk kepada Allah sebagai Khalik. Protestan dewasa ini mengatakan bahwa kebangkitan Kristus pada hari Minggu itu menjadi hari Sabat orang Kristen. Tetapi bukti-bukti Alkitabiah tidak cukup. Tidak ada penghormatan seperti itu diberikan kepada hari itu baik oleh Kristus maupun oleh rasul-rasul-Nya. Pemeliharaan hari Minggu sebagai institusi Kristen bermula dalam "rahasia kedurhakaan" (2 Tes. 2: 7) yang, bahkan pada zaman Rasul Paulus, telah memulai pekerjaannya. Di mana dan kapankah Tuhan mengadopsi anak kepausan ini? Alasan sah apakah yang dapat diberikan untuk perubahan yang tidak disetujui Alkitab?
      Pada abad keenam kepausan telah berdiri dengan kokoh. Tahta kekuasaannya telah ditetapkan di kota kerajaan, dan imam (bishop) Roma telah dinyataka menjadi kepala atas semua gereja. Kekafiran telah menerima kepausan. Naga itu telah memberikan kepada binatang itu "kekuatannya, dan tahtanya dan kekuasaannya yang besar" ( Wahyu 13:2; lihat juga Lampiran). Dan pada waktu itulah masa 120 tahun penindasan kepausan yang telah diramalkan dalam nubuatan Daniel dan Wahyu ( Daniel 7:25; Wahyu 13:5-7). Orang-orang Kristen telah di paksa untuk memilih apakah melepaskan integritas mereka dan menerima upacara dan perbaktian kepausan atau menghabiskan hidup mereka di dalam penjara bawah tanah
yang gelap atau menderita kematian di atas rak penyiksaan, di bakar, atau di pancung kepalanya. Pada waktu itu telah digenapi perkataan Yesus, "Dan kamu akan diserahkan juga oleh orangtuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan di bunuh dan kamu akan di benci semua orang oleh karena nama-Ku" ( Lukas 21:16,17). Penganiayaan atas orang-orang yang setia dilakukan dengan lebih kejam dari sebelumnya, dan dunia ini menjadi medan perang yang luas. Selama ratusan tahun gereja Kristus berlindung di tempat-tempat terpencil dan tempat yang tidak tentu. Beginilah kata nabi itu, "Perempuan itu lari ke padang gurun, dimana telah disediakan suatu tempat
baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya" ( Wahyu 12:6).
      Naiknya kekuasaan Gereja Roma menandai permulaan Zaman Kegelapan. Sementara kekuasaannya bertambah, kegelapan semakin bertambah. Iman telah dialihkan dari Kristus, fondasi yang benar itu, kepada paus Roma. Sebagai gantinya percaya kepada Anak Allah untuk pengampunan dosa-dosa dan keselamatan kekal, orang-orang memandang kepada paus dan kepada imam-imam dan ulama-ulama yang telah di beri kuasa. Mereka telah di ajar bahwa paus adalah pengantara duniawi mereka, dan bahwa tak seorangpun dapat mendekati Allah kecuali melalui dia. Dan lebih jauh, ia berdiri sebagai ganti Allah bagi mereka, dan oleh sebab itu secara mutlak harus dituruti. Setiap penyimpangan dari tuntutan ini telah cukup alasan menjalankan hukuman paling berat bagi tubuh dan jiwa para pelanggar. Dengan demikian pikiran orang-orang telah dialihkan dari Allah kepada orang-orang yang bersalah, berdosa dan kejam, dan juga kepada raja kegelapan sendiri, yang menjalankan kuasanya melalui mereka. Dosa ditutupi di dalam jubah kesucian. Pada waktu Alkitab di tindas dan di tekan, dan manusia menganggap dirinya tertinggi, kita hanya melihat penipuan, tipu muslihat dan penghinaan. Dengan ditinggikannya hukum-hukum dan tradisi manusia, maka nyatalah kebobrokan yang diakibatkan oleh mengesampingkan hukum Allah.
      Masa itu adalah malapetaka bagi gereja Kristus. Tinggal sedikit saja yang seti mempertahankan standar. Walaupun kebenaran itu tidak ditinggalkan tanpa saksi-saksi, namun kadang-kadang kelihatannya kesalahan dan takhyul lebih meraja-lela dan menonjol;  dan agama yang benar seakan-akan lenyap dari muka bumi ini. Injil tidak lagi tampak, tetapi bentuk-bentuk agama berlipat ganda , dan orang-orang dibebani dengan tuntutan yang keras.
      Mereka di ajar bukan saja memandang paus sebagai pengantara mereka, tetapi mempercayai tugas paus untuk menghapus dosa mereka. Perjalanan yang lama berziarah, tindakan-tindakan pengampunan dosa, pemujaan atau penyembahan kepada benda-benda keramat dan benda-benda peninggalan, mendirikan gereja-gereja, kuil-kuil, tempat-tempat dan makam-makam suci serta mezbah-mezbah, pembayaran sejumlah besar uang kepada gereja -- semua ini serta tindakan-tindakan serupa, dipadukan untuk meredakan murka Allah atau mengambil hati-Nya, seolah-olah Allah itu seperti manusia, yang marah oleh karena perkara kecil atau dapat ditenangkan dengan pemberian- pemberian atau tindkan-tindakan
pengampunan!
      Meskipun kejahatan meraja-lela, bahkan di antara pemimpin Gereja Roma, pengaruhnya tampaknya tetap semakin bertambah. Kira-kira pada penghujung abad ke delapan, para paus telah menyatakan bahwa pada masa-masa permulaan gereja, imam (bishop) Romawi telah mempunyai kuasa spiritual seperti yang mereka punyai sekarang ini. Untuk menguatkan pernyataan ini, berbagai sarana harus di buat untuk menunjukkan kekuasaan. Dan hal ini telah diusulkan atau dikemukakan oleh bapak segala bohong itu. Tulisan-tulisan kuno telah dipalsukan oleh biarawan. Dekrit majelis (konsili) telah ditemukan sebelum diumumkan, untuk mendirikan supremasi universal kepausan sejak dari zaman permulaan. Dan sesuatu gereja yang telah menolak kebenaran, dengan tamaknya menerima penipuan itu. (lihat Lampiran).
      Beberapa orang pembangun yang setia yang membangun di atas dasar yang benar (1 Kor. 3:10,11) telah dibingungkan dan di hambat oleh omong- kosong ajaran-ajaran palsu yang menghadang pembangunan itu.  Sama seperti para pembangun di atas tembok kota Yerusalem pada zaman Nehemia, beberapa orang telah siap untuk mengatakan, "Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan puing masih sangat banyak. Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini" (Nehemia 4:10,14). Beberapa orang yang dulunya pembangun yang setia menjadi tawar hati karena sudah letih, karena sudah terus berjuang melawan penganiayaan, penipuan, kejahatan, dan setiap hambatan lain yang dapat di buat oleh Setan untuk merintangi kemajuan pembangunan itu. Dan demi ketenangan dan keamanan bagi harta milik dan nayawa mereka, mereka meninggalkan dasar yang benar. Yang lain, tidak gentar oleh perlawanan musuh-musuh mereka, tanpa takut menyatakan, "Jangan kamu takut kepada mereka! Ingatlah kepada Tuhan yang maha besar dan dahsyat" (Nehemia 4:10,14). Dan mereka terus bekerja, masing-masing dengan pedang di pinggang (Epesus 6:17).
      Roh kebencian yang sama dan perlawanan kepada kebenaran telah mengilhami musuh-musuh Allah pada segala zaman, dan kewaspadaan serta kesetiaan yang sama di butuhkan dari hamba-hamba-Nya. Kata-kata Kristus yang ditujukan kepada murid-murid yang pertama itu dapat berlaku kepada para pengikut-Nya pada akhir zaman, "Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua  orang: berjaga-jagalah" (Mark. 13:37).
      Kegelapan tampaknya semakin kelam. Penyembahan berhala telah menjadi semakin umum. Lilin-lilin dinyalakan di depan patung-patung, dan doa-doa diucapkan kepada mereka. Hal-hal yang paling tidak masuk akal dan kebiasaan takhyul meraja-lela. Pikiran manusia sama sekali telah dikuasai oleh takhyul,  sehingga pertimbangan sehat tampaknya sudah hilang.Sementara imam-imam dan bishop-bishop sendiri adalah orang-orang pecinta kepelesiran, penuh hawa nafsu dan bejat, maka orang-orang yang meminta tuntunan dari mereka akan tenggelam di dalam kebodohan dan kejahatan.
      Kesombongan kepausan telah maju selangkah lagi, pada waktu di abad kesebelas Paus Gregory VII memproklamasikan kesempurnaan Gereja Roma. Di antara hal-hal atau dalil-dalil yang ia kemukakan ialah antara lain menyatakan bahwa gereja tidak pernah salah, atau tidak akan pernah salah, sesuai dengan Alkitab. Tetapi bukti-bukti dari Alkitab tidak disertakan dalam pernyataan itu. Paus yang angkuh itu juga menyatakan bahwa ia mempunyai kuasa untuk memberhentikan para kaisar dan menyatakan bahwa tak seorangpun boleh mengubah keputusan yang ia buat. Tetapi ia mempunyai hak istimewa untuk mengubah keputusan-keputusan orang lain. (lihat Lampiran).
      Suatu gambaran yang menyolok mengenai sifat kekejaman paus yang tidak bisa salah ini ialah perlakuannya terhadap kaisar Jerman, Henry IV. Karena di duga mengabaikan kekerasan paus, raja ini diturunkan dari tahtanya dan diasingkan. Takut oleh karena pembangkangan dan ancaman putranya sendiri yang telah mendapat mandat kepausan untuk memberontak melawan dia, Henry IV merasa perlu untuk mengadakan perdamaian dengan Roma. Bersama isteri dan hamba-hambanya, ia melintasi pegunungan Alpen pada waktu pertengahan musim dingin, agar supaya ia boleh merendahkan dirinya dihadapan paus. Setelah tiba di istana Paus Gregory VII, ia telah di tuntun keluar istana tanpa pengawal-pengawalnya. Dan di sana, di tempat yang begitu dinginnya musin saju, tanpa penutup kepala dan alas kaki dengan pakaian yang menyedihkan, ia menunggu izin paus untuk datang menghadap. Setelah tiga hari terus menerus berpuasa dan membuat pengakuan dosa, barulah paus mau memberikan pengampunan kepadanya. Itupun hanya dengan syarat yang, kaisar harus menunggu sanksi dari paus sebelum ia boleh memakai lambang kerajaan atau melakukan wewenang kerajaan kembali. Dan Paus Gregory VII merasa berbahagia atas kemenangannya dan menyombongkan diri bahwa adalah tugasnya untuk mencabut kesombongan raja-raja. 
      Betapa besar perbedaan antara kesombongan yang sok mau berkuasa dari paus yang angkuh ini dengan kerendahan hati dan kelemah-lembutan Kristus yang menggambarkan diri-Nya sendiri memohon di pintu hati untuk masuk, agar Ia boleh masuk membawa pengampunan dan damai. Dan yang telah mengajar murid-murid-Nya, "Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu" (Matius 20:27).
      Pada abad-abad berikutnya semakin banyak kesalahan yang ditemukan di dalam ajaran (doktrin) yang dikeluarkan oleh Roma. Bahkan sebelum terbentuknya kepausan, pengajaran para filsuf kafir telah mendapat perhatian dan telah menanamkan pengaruhnya di dalam gereja. Banyak orang yang mengaku bertobat masih tetap bergantung kepada faham falsafah kekafiran mereka. Dan bukan saja mereka terus mempelajarinya, tetapi menganjurkannya kepada orang lain sebagai sarana untuk memperluas pengaruh mereka di antara orang kafir. Dengan demikian kesalahan yang serius telah dimasukkan ke dalam kepercayaan Kristen. Salah satu yang menonjol ialah kepercayaan mengenai kekekalan alamiah manusia dan kesadarannya di dalam kematian. Doktrin inilah yang menjadi dasar Roma memanggil di dalam doa orang-orang kudus yang telah meninggal dunia dan pemujaan kepada Perawan Maria. Dari kepercayaan ini muncul pula kepercayaan yang menyimpang mengenai penyiksaan yang kekal bagi orang-orang yang tidak mengakui dosa-dosanya, suatu kepercayaan yang pada mulanya telah digabungkan kepada kepercayaan kepausan.
      Kemudian, jalan telah dipersiapkan bagi masuknya ciptaan kekafiran yang lain, yang Roma sebut purgatori (api penyucian), dan digunakan untuk menakut-nakuti orang-orang yang mudah percaya da berpegang kepada takhyul. Dengan ajaran kepercayaan yang menyimpang ini memperkuat adanya tempat penyiksaan, di tempat mana jiwa-jiwa yang belum tergolong ke dalam kutukan kekal harus menderita hukuman atas dosa-dosanya, dan dari tempat ini juga, setelah dibersihkan dari kekotoran, mereka diterima masuk ke surga (lihat Lampiran).
      Masih diperlukan suatu buat-buatan lain untuk menyanggupkan Roma memperoleh keuntungan dari ketakutan dan sifat buruk pengikut-pengikutnya. Hal ini ialah doktrin (ajaran) pengampunan dosa.  Pengampunan penuh dosa-dosa masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang, dan pembebasan dari semua kesakitan dan hukuman dijanjikan bagi semua mereka yang mau mendaftarkan diri berperang bersama paus untuk melebarkan kekuasaannya, untuk menghukum musuh-usuhnya, atau untuk membasmi mereka yang berani menyangkal  supremasi spiritual kepausan. Orang-orang juga di ajar bahwa dengan membayar sejumlah uang kepada gereja mereka boleh membebaskan diri dari dosa, dan juga membebaskan jiwa teman-teman mereka yang sudah meninggal yang telah dimasukkan ke dalam api penyiksaan. Dengan cara ini Roma mengisi peti perbendaharaannya, dan mempertahankan kebesaran dan kemewahannya, dan sifat buruk yang seolah-olah wakil Dia yang tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya. (lihat Lampiran).
      Peraturan upacara perjamuan kudus Tuhan yang berda sarkan Alkitab telah digantikan dengan upacara misa yang bersifat penyembahan berhala. Imam-iman kepausan berpura-pura, oleh penyamaran tak berperasaan, untuk mengubah roti dan anggur sederhana itu menjadi "tubuh dan darah Kristus." -- Cardinal Wiseman's Lectures on "The Real Presence," Lecture 8, sec. 3, par. 26. Dengan hujatan lancang mereka mengatakan bahwa mereka mempunyai kuasa penciptaan Allah, Pencipta segala sesuatu. Orang-orang Kristen di paksa, di siksa sampai mati, untuk mengakui terus-terang iman mereka dalam kemurtadan yang mengerikan dan menghinakan surga. Mereka yang menolak telah dilemparkan ke dalam nyala api.(lihat
Lampiran).
      Pada abad ketigabelas, telah ditetapkan suatu alat kepausan yang paling mengerikan dari semua, yang di sebut "Inkuisisi" (Pemeriksaan). Raja kegelapan bekerja-sama dengan para pemimpin kepausan. Dalam rapat-rapat (konsili) rahasia mereka, Setan dengan malaikat-malaikatnya mengendalikan pikiran orang-orang jahat, sementara di tengah-tengah berdiri tidak kelihatan malaikat-malaikat Allah, mencatat dengan teliti keputusan-keputusan jahat dan kejam mereka, dan menuliskan sejarah perbuatan mereka yang sangat mengerikan bagi  mata manusia.  "Babilon yang besar" telah "mabuk karena meminum darah orang-orang kudus."  Berjuta-juta orang yang mati syahid (martir) yang telah diremukkan, berseru-seru kepada Allah
memohon pembalasan atas kuasa yang murtad itu.
      Kepausan telah menjadi raja dunia yang lalim dan sewenang-wenang. Raja-raja dan kaisar-kaisar tunduk kepada dekrit kepausan Roma. Nasib manusia, baik sekarang maupun selama-lamanya, tampaknya ada dalam pengendalian dan kekuasaannya. Selama beratus-ratus tahun ajaran-ajaran atau doktrin-doktrin Roma telah di terima secara luas dan mutlak. Upacara-upacaranya dilakukan dengan khidmat, hari-hari rayanya dirayakan secara umum. Pastor-pastornya dihormati dan di dukung dengan limpahnya. Tidak pernah seperti itu sebelumnya. Gereja Roma memperoleh kewibawaan, keagungan atau kuasa yang lebih besar.
      Akan tetapi, "tengah hari kepausan adalah tengah malam bagi dunia ini." -- Wylie, "History of Protestantism," book 1, chap.4.  Alkitab yang Suci hampir tidak di kenal lagi, bukan saja oleh orang-orang biasa, tetapi juga oleh imam-imam. Seperti orang-orang Farisi zaman dahulu kala, para pemimpin kepausan membenci terang itu yang akan menyatakan dosa-dosa mereka. Hukum Allah, ukuran kebenaran itu, telah di tolak. Mereka menjalankan kekuasaan tanpa  batas, dan melakukan kejahatan tanpa rintangan. Penipuan, keserakahan dan ketidak-bermoralan merajalela dimana-mana. Orang-orang dengan leluasa melakukan kejahatan, dengan mana ia bisa memburu harta atau mendapat kedudukan.
      Istana-istana paus dan para pejabat tinggi gereja telah menjadi tempat pesta-pora dan kebejatan moral yang paling memalukan dan menjijikkan. Beberapa pejabat kepausan yang sedang berkuasa telah melakukan kejahatan sehingga pemerintah-pemerintah sekular memberontak berusaha menyingkirkan pejabat-pejabat gereja yang bertindak bagaikan binatang buas, yang terlalu menjijikkan untuk di toleransi. Selama berabad-abad Eropah tidak mengalami kemajuan dalam pendidikan, seni dan kebudayaan. Kelumpuhan moral dan intelektual telah menimpa Kekristenan.
      Keadaan dunia di bawah kekuasaan Romawi menyatakan kegenapan nubuatan nabi Hosea yang menakutkan, "Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu, maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu."   ". . . sebab tidak ada kesetiaan dan tidak ada kasih dan tidak ada pengenalan akan Allah di negeri itu.  Hanya mengutuk, berbohong, membunuh, mencuri, berzinah, melakukan kekerasan dan penumpahan darah menyusul penumpahan darah" (Hosea 4: 6, 1, 2).  Semuanya itu adalah akibat dari meniadakan firman Allah.

Sabtu, 11 November 2017

PENGANIAYAAN PADA ABAD-ABAD PERMULAAN -- 2


Hasil gambar untuk gambar penganiayaan romawi


Bilamana Yesus menyatakan kepada murid-murid-Nya  mengenai nasib kota Yerusalem dan pemandangan tentang kedatangan-Nya yang kedua kali, Ia juga meramalkan pengalaman umat-Nya mulai dari waktu Ia di angkat dari antara mereka sampai kepada Ia kembali di dalam kuasa dan kemuliaan untuk melepaskan mereka. Dari atas Bukit Zaitun Juru Selamat melihat badai yang akan menimpa jemaat kerasulan. Dan menerawang lebih jauh ke masa depan, mata-Nya  melihat dengan jelas badai ganas yang mengerikan yang akan memukul pengikut-pengikut-Nya pada masa-masa kegelapan dan penganiayaan yang akan datang. Dalam beberapa ucapan-ucapan singkat yang mengerikan, Ia meramalkan bagian pemimpinpemimpin dunia ini yang akan dibagikan kepada jemaat Allah. (Matius 24:21,22). Pengikut-pengikut Kristus harus
menjalani jalan penghinaan, celaan dan penderitaan yang sama seperti yang dijalani oleh Tuhannya.  Kebencian dan permusuhan yang ditimbulkan terhadap Penebus dunia ini akan ditunjukkan terhadap semua yang percaya kepada nama-Nya.
      Sejarah jemaat yang mula-mula itu menyaksikan kegenapan kata-kata Juru Selamat. Kuasa-kuasa dunia dan neraka mempersiapkan diri mereka melawan Kristus dalam pribadi pengikut-pengikut-Nya. Kekafiran melihat, jika Injil menang, maka kuil-kuil dan mezbah-mezbahnya akan dimusnahkan. Oleh sebab itu ia memerintahkan pasukan-pasukannya untuk membinasakan Kekristenan.  Api penganiayaan telah di sulut. Orang-orang Kristen telah di rampas harta miliknya dan di usir dari rumah mereka. Mereka "bertahan dalam perjuangan yang berat" (Iberani 10:32). "Ada pula yang di ejek dan di dera, bahkan yang di belenggu dan dipenjarakan" (Iberani 11:38-38). Banyak yang memeteraikan kesaksian mereka dengan darahnya. Kaum bangsawan dan hamba, orang kaya dan orang miskin, orang-orang terpelajar dan orang-orang bodoh,
semuanya sama di bantai tanpa belas kasihan.
      Penganiayaan ini bermula pada zaman kaisar Nero, pada waktu Rasul Paulus mati syahid, berlangsung terus dengan semakin kejam atau kurang selama berabad-abad. Orang-orang Kristen di tuduh dengan tuduhan palsu melakukan kejahatan yang mengerikan, dan dinyatakan sebagai penyebab bencana besar seperti bahaya kelaparan, wabah dan gempa bumi. Sementara mereka menjadi sasaran kebencian dan kecurigaan, para penuduh, demi keuntungannya, mengkhianati orang yang tidak bersalah itu. Mereka di tuduh sebagai pemberontak yang melawan kerajaan, sebagai musuh agama, dan sebagai wabah bagi masyarakat. Banyaklah yang dilemparkan kepada binatang buas, atau di bakar hidup-hidup di amfiteater. Sebagian disalibkan, yang lain di bungkus dengan kulit binatang liar dan dilemparkan ke arena untuk di cabik-cabik oleh anjing-anjing ganas. Hukuman mereka sering di buat menjadi hiburan utama pada pesta-pesta umum.  Orang banyak berjubel menikmati tontonan itu, dan tertawa serta bertepuk tangan menyaksikan korban yang sedang menderita menghadapi maut.
      Kemana saja pengikut Kristus mencari perlindungan, mereka terus di buru sepeti binatang mangsa. Mereka terpaksa mencari persembunyian di tempat-tempat terpencil yang tidak ada orang.  "Kekurangan, kesesakan dan siksaan. Dunia ini tidak layak bagi mereka. Mereka mengembara di padang gurun dan di pegunungan, dalam gua-gua dan celah-celah gunung" (Iberani 11:36-38). Katakomb-katakomb (kuburan di bawah tanah) dimanfaatkan menjadi tempat persembunyian beribu-ribu orang. Di bawah bukit-bukit di luar kota Roma, terowongan panjang telah di gali di tanah dan batu. Jaringan lorong-lorong gelap dan rumit di buat bermil-mil di luar tembok kota. Di tempat pengasingan bawah tanah inilah pengikut-pengikut Kristus
menyembunyikan orang mati mereka. Dan di sini jugalah mereka bertempat tinggal bilamana mereka dicurigai dan dipersalahkan mengenai sesuatu. Bilamana Pemberi Hidup itu membangunkan mereka yang telah melakukan perjuangan yang baik, banyaklah orang-orang yang telah mati syahid demi Kristus yang akan keluar dari gua bawah tanah yang suram itu.
      Meskipun mengalami penganiayaan yang paling kejam, saksi-saksi Yesus ini tetap memelihara iman mereka tidak tercemar. Meskipun jauh dari segala kesenangan, ditutupi dari sinar matahari, dan tinggal di dalam gelap di dalam tanah, mereka tidak mengeluh sedikitpun. Dengan kata-kata iman, ketabahan, dan pengharapan mereka menguatkan satu sama lain untuk menanggung penderitaan dan kekurangan dan kesesakan. Kehilangan berkat-berkat duniawi tidak bisa memaksa mereka untuk menyangkal iman mereka pada Kristus. Pencobaan dan penganiayaan hanyalah langkah-langah yang membawa mereka semakin dekat kepada istirahat dan upah mereka.
      Seperti hamba-hamba Allah pada zaman dahulu kala, banyak dari mereka yang  "di siksa dan tidak mau menerima pembebasan, supaya mereka menerima kebangkitan yang lebih baik" (Iberani 11:25).  Hal ini mengingatkan kepada pikiran mereka  kata-kata Guru mereka, yang bilamana di aniaya demi Kristus, mereka akan sangat bersukacita karena besarlah upah mereka di surga, karena demikianlah juga nabi-nabi di aniaya sebelum mereka. Mereka bersukacita karena mereka dianggap layak menderita demi kebenaran. Dan naynyian kemenangan berkumandang naik dari dalam api yang mengamuk. Oleh iman mereka memandang ke atas, mereka melihat Kristus dan malaikat-malaikat menghadapi peperangan surga, memandang kepada mereka dengan penuh perhatian, dan menghargai kesetiaan dan keteguhan hati mereka. Satu suara turun dari takhta Allah kepada mereka,  "Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan" (Wahyu 2:10).
      Sia-sialah usaha Setan menghancurkan jemaat Kristus dengan kekerasan. Pertentangan yang besar di mana murid-murid Yesus menyerahkan hidup mereka, tidak berakhir pada waktu murid-murid pembawa standar moral ini di bunuh. Mereka menaklukkan pada waktu mereka dikalahkan. Pekerja-pekerja Allah di bunuh, tetapi pekerjaan-Nya maju terus dengan mantap. Kabar Injil itu terus tersebar, dan jumlah pengikut-pengikut-Nya  terus bertambah. Injil itu menerusi daerah-daerah yang tidak mudah dimasuki, bahkan sampai ke daerah kekuaasaan Roma. Seorang Kristen dalam pembelaannya berkata kepada penguasa kafir yang mendorong penganiayaan:  Engkau boleh "membunuh kami, menyiksa kami, menghukum kami .  . .  . Ketidak-adilanmu adalah bukti bahwa kami tidak bersalah . . . . Atau kejahatanmu tidak berguna bagimu."  Semuanya itu menjadi undangan kuat memanggil orang lain kepada  keyakinannya yang kuat.  "Semakin sering kami engkau babat, semakin banyak kami bertumbuh, darah orang-orang Kristen itu adalah benih." --  Tertullian's  "Apology," par. 50 (ed. T. and T. Clark, 1869).
      Ribuan orang dipenjarakan dan di bunuh, tetapi yang lain muncul menggantikan tempat mereka. Dan mereka yang telah mati syahid (martir) oleh karena iman mereka yang teguh kepada Kristus, telah diperhitungkan Tuhan sebagai penakluk. Mereka telah melakukan perjuangan dengan baik, dan mereka akan menerima mahkota kemuliaan bilamana Kristus datang kembali. Penderitaan yang mereka tanggung telah membuat orang-orang Kristen semakin dekat kepada satu sama lain dan kepada Penebus mereka. Teladan kehidupan mereka dan sikap mereka  menghadapi kematian telah menjadi kesaksian abadi bagi kebenaran. Dan tanpa diharapkan pengikut-pengikut Setan meninggalkan tugasnya dan menggabungkan diri di bawah
panji-panji Kristus.
      Oleh sebab itu Setan menetapkan rencananya untuk berperang lebih keras dan lebih berhasil melawan pemerintaha Allah, dengan cara menanamkan panji-panjinya di dalam jemaat Kristen. Jikalau para pengikut Kristus dapat di tipu, dan di tuntun untuk melawan Allah, maka kekuatan, ketahanan dan keteguhan mereka akan dapat dihancurkan, dan mereka akan jatuh menjadi mangsa yang tidak berdaya.
      Sekarang permusuhan besar ini berusaha memenangkan dengan tipu daya licik apa yang tidak dimenangkan dengan kekerasan. Penganiayaan dihentikan, dan digantikan dengan daya tarik kekayaan duniawi yang berbahaya dan kehormatan duniawi. Para pemuja berhala telah di tuntun untuk menerima sebahagian iman Kristen, sementara mereka menolak kebenaran-kebenaran penting lainnya. Mereka mengaku menerima Yesus sebagai Anak Allah dan percaya kepada kematian dan kebangkitan-Nya. Tetapi mereka tidak punya pendirian mengenai dosa dan tidak merasa perlu bertobat atau perubahan hati. Oleh karena pihak mereka telah memberi konsesi, maka mereka mengusulkan agar orang-orang Kristen juga memberi konsesi agar supaya semuanya boleh bersatu dalam landasan iman dalam Kristus. 
      Sekarang jemaat berada dalam bahaya yang sangat menakutkan. Penjara, penyiksaan, api dan pedang adalah lebih berkat dibandingkan dengan ini. Sebagian orang Kristen berdiri teguh dan menyatakan tanpa kompromi kepada Setan. Sebagian yang lain setuju menyerah atau memodifikasi sebagian bentuk kepercayaan mereka, dan bersatu dengan mereka yang telah menerima sebagian Kekristenan itu, dan mengatakan bahwa ini adalah bentuk pertobatan mereka sepenuhnya. Ini adalah masa kesukaran dan penderitaan yang dalam kepada pengikut-pengikut setia Kristus. Dengan jubah Kekristenan yang pura-
pura, Setan membuat dirinya disenangi oleh jemaat, untuk merusak iman mereka, dan mengalihkan pikiran mereka dari firman kebenaran. 
      Kebanyakan orang Kristen pada akhirnya setuju menurunkan standar moral mereka, sehingga terbentuklah satu persekutuan antara Kekristenan dan kekafiran. Meskipun mereka yang berbakti kepada dewa-dewa mengaku bertobat dan dipersatukan dengan gereja, mereka masih terus bergantung kepada penyembahan berhalanya, hanya mengganti obyek peribadatan mereka kepada patung Yesus, bahkan patung-patung Maria dan orang-orang kudus lainnya. Dengan demikian bau busuk ragi penyembahan berhala di bawa masuk ke dalam gereja yang dilanjutkan dengan pekerjaan-pekerjaan jahatnya.
Ajaran-ajaran yang tidak kuat dan mantap, upacara takhyul dan acara penyembahan berhala telah digabungkan dengan iman dan peribadatannya. Sementara para pengikut Kristus dipersatukan dengn para penyembah berhala,  agama Kristen telah menjadi rusak, dan jemaat telah kehilangan kesucian dan kuasanya. Namun, ada sebahagian yang tidak disesatkan oleh penipu ini.  Mereka masih tetap mempertahankan kesetiaannya kepada Pencipta kebenaran, dan berbakti hanya kepada Allah
saja.
      Akan selalu ada dua kelompok orang-orang yang menyatakan dirinya pengikut-pengikut Kristus. Sementara yang satu kelompok mempelajari kehidupan Juru Selamat dan dengan sungguh-sungguh memperbaiki kekurangan mereka serta menyesuaikan diri dengan Teladan mereka, kelompok yang lain menghindari kebenaran yang praktis dan mudah dimengerti, yang mengungkapkan kesalahan mereka. Bahkan dalam keadaan terbaik sekalipun, jemaat itu tidak terdiri dari orang-orang yang seluruhnya benar, suci dan sungguh-sungguh.  Juru Selamat kita mengajarkan bahwa mereka yang dengan sengaja
memanjakan diri dalam dosa tidak boleh di terima menjadi anggota jemaat. Namun Ia menghubungkan kepada diri-Nya orang-orang yang bertabiat buruk dan memberikan kepada mereka manfaat pengajaran dan teladan-Nya, agar supaya mereka boleh mempunyai kesempatan melihat kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut. Di antara ke dua belas rasul terdapat seorang pengkhianat. Yudas di terima bukan karena cacad tabiatnya, tetapi ia di terima  meskipun tabiatnya demikian. Ia telah dihubungkan dengan murid-murid itu, agar melalui pengajaran dan teladan Kristus mudah-mudahan ia boleh belajar apa itu tabiat Kristiani, dan dengan demikian di tuntun untuk melihat kesalahannya, untuk bertobat, dan oleh rahmat ilahi, menyucikan jiwanya "dalam menuruti kebenaran." Tetapi Yudas tidak berjalan dalam terang yang dengan ramah diizinkan bersinar kepadanya. Oleh memanjakan diri dalam dosa, ia mengundang godaan Setan. Sikap tabiat buruknya menjadi sangat menonjol. Ia menyerahkan pikirannya ke bawah pengendalian kuasa kegelapan. Ia menjadi marah bilamana kesalahannya di tegur, dan dengan demikian ia telah di tuntun melakukan kejahatan mengerikan mengkhianati Tuhannya. Demikianlah semua orang yang menyukai kejahatan yang mengaku saleh, membenci mereka yang mengganggu ketenangannya oleh menegur dosa-dosanya. Bilamana kesempatan diberikan kepada mereka, seperti Yudas, mereka akan mengkhianati yang menegur mereka meskipun demi kebaikan mereka.
      Para rasul menemui di dalam jemaat orang-orang yang mengaku saleh sementara secara sembunyi-sembunyi menyukai kejahatan. Ananias dan Safira bertindak sebagai penipu, berpura-pura mengorbankan seluruh uangnya kepada Allah, pada waktu dengan tamaknya mereka menahan sebahagian untuk mereka sendiri. Roh kebenaran yang menyatakan kepada para rasul tabiat sebenarnya orang berpura-pura ini. Dan pengadila Allah membebaskan jemaat dari titik yang menodai kesuciannya. Tanda tindakan Roh Kristus di dalam jemaat merupakan suatu teror kepada orang-orang munafik dan pelaku kejahatan. Mereka tidak tahan lama berhubungan dengan orang-orang yang senantiasa menjadi wakil-wakil Kristus, dalam tabiat dan watak. Dan sementara cobaan dan penganiayaan datang ke atas pengikut-pengikut-Nya, hanya mereka yang rela menyangkal semuanya demi kebenaran saja yang menjadi murid-murid-Nya. Jadi selama penganiayaan berlanjut, jemaat itu relatif tetap suci. tetapi sesudah berhenti, orang-orang yang bertobat yang kurang sungguh-sungguh dan kurang pengabdian ditambahkan,  maka terbukalah jalan bagi Seta untuk menjejakkan kakinya.
      Akan tetapi tidak ada persekutuan antara Putra terang dengan putra kegelapan, dan tidak akan ada persekutuan antara pengikut-pengikut mereka. Bilamana oang-orang Kristen mau bersekutu dengan mereka yang setengah-setengah bertobat dari kekafiran, mereka memasuki satu jalan yang menuntun mereka semakin jauh dan semakin jauh dari kebenaran. Setan bersuka bahwa ia telah berhasil menipu begitu banyak pengikut Kristus. Ia kemudian mengerahkan lebih banyak kuasanya dalam usaha ini dan mengilhami mereka untuk menganiaya mereka yang tetap setia kepada Allah. Tidak ada yang paling mengerti cara menentang iman Kristen yang benar seperti mereka yang pada suatu waktu pernah mempertahankannya. Dan orang-orang Kristen yang murtad ini, bergabung bersama-sama  dengan teman-temannya yang setengah kafir, menunjukkan peperangan mereka menentang doktrin paling penting Kristus.
      Dibutuhkan perjuangan keras dari mereka yang akan berdiri tetap setia dan teguh melawan penipuan dan kebencian mereka yang menyamar dalam jubah pendeta yang diperkenalkan kedalam jemaat. Alkitab tidak lagi di terima sebagai ukuran iman. Doktrin kebebasan beragama di anggap sebagai suatu penyimpangan, dan mereka yang menjunjungnya di benci dan dikucilkan dan diharamkan.
      Setelah melalui pertikaian panjang dan sengit, mereka yang setia dan sedikit,  memutuskan untuk menghilangkan semua persekutuan dengan gereja yang murtad, kalau gereja itu tetap menolak membebaskan dirinya dari kepalsuan dan penyembahan berhala. Mereka melihat bahwa pemisahan mutlak diperlukan jikalau mereka mau menuruti firman Allah. Mereka tidak berani bersikap toleransi terhadap kesalahan-kesalahan yang fatal bagi jiwa mereka sendiri dan memberikan contoh yang membahayakan iman anak-anak dan cucu-cucu mereka. Untuk menjamin perdamaian dan persatuan, mereka siap melakukan konsesi yang sesuai dengan kesetiaan kepada Allah. Tetapi mereka merasa bahwa perdamaian sekalipun akan terlalu mahal jika harus di beli dengan mengorbankan prinsip. Jikalau persatuan dapat di jamin hanya oleh
dikompromikannya kebenaran dan kebajikan, maka biarlah ada perbedaan dan bahkan peperangan.
      Adalah baik bagi jemaat dan dunia jikalau prinsip yang menggerakkan jiwa-jiwa yang berdiri teguh itu,  dihidupkan kembali di dalam hati mereka yang mengaku umat Allah.  Ada bahaya acuh tak acuh dalam hubungannya dengan ajaran atau doktrin yang mejadi tiang-tiang iman Kristen. Ada pendapat yang muncul bahwa,  pada akhirnya,  ajaran-ajaran itu tidaklah sesuatu yang vital. Degenerasi ini menguatkan usaha kaki-tangan Setan, sehingga teori-teori palsu dan penipuan-penipuan fatal yang membahayakan hidup umat-umat yang setia yang menolaknya dan melayaninya pada masa lalu, sekarang di anggap sebagai sesuatu yang menyenangkan oleh ribuan orang yang mengatakan dirinya pengikut-pengikut Kristus.
      Orang-orang Kristen yang mula-mula itu memang adalah umat-umat yang khas. Tingkah laku mereka yang tidak bercela dan iman mereka yang tidak bisa dibengkokkan merupakan teguran yang senantiasa mengganggu ketenteraman orang-orang berdosa. Biarpun jumlah mereka sedikit, tidak mempunyai harta, kedudukan dan jabatan yang terhormat, mereka menjadi ancamn yang menakutkan bagi pelaku-pelaku kejahatan dimana saja tabiat dan ajaran mereka dinyatakan. Oleh sebab itu mereka di benci oleh orang jahat, seperti Habil di benci oleh Kain abangnya. Dengan alasan itulah Kain membunuh Habil, demikian juga mereka yang menolak pengendalian Roh Suci, membunuh umat-umat Allah. Dengan alasan yang sama juga
orang-orang Yahudi menolak dan menyalibkan Juru Selamat, -- oleh karena kesucian dan kekudusan tabiat-Nya senantiasa merupakan teguran kepada sifat korup dan mementingkan diri mereka.  Sejak zaman Kristus sampai sekarang, murid-murid-Nya yang setia telah membangkitkan kebencian dan pertentangan mereka yang mencintai dan mengikuti jalan-jalan dosa.
      Lalu, bagaimanakah kabar Injil itu bisa di sebut kabar perdamaian? Pada waktu nabi Yesaya meramalkan tentang kelahiran Mesias, ia memberikan gelar kepada-Nya "Putra Raja Damai."  Ketika para malaikat memberitahukan kepada para gembala bahwa Kristus telah lahir, mereka menyanyi di atas padang Betlehen, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya" (Lukas 2:14). Tampaknya ada kontradiksi antara pernyataan nubuat dan perkataan Kristus, "Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang." Tetapi dengan jelas dapat di mengerti bahwa keduanya sangat selaras.  Kabar Injil itu adalah berita damai. Kekristenan adalah
sebuah sistem, yang bila di terima dan dituruti akan menyebarkan damai, keselarasan dan kebahagiaan di seluruh bumi ini. Agama Kristus akan mempersatukan dalam ikatan persaudaraan yang erat semua orang yang menerima pengajaran-Nya. Misi Yesus adalah memperdamaikan umat manusia dengan Alla, demikian juga antara sesama manusia. Akan tetapi kebanyakan dunia ini berada di bawah pengendalian Setan, musuh Kristus yang paling kejam.  Kabar Injil menyatakan kepada mereka prinsip-prinsip kehidupan yang seluruhnya bertentangan dengan tabiat dan keinginan-keingian mereka, dan mereka lalu bangkit melawannya. Mereka membenci kesucian yang menyatakan dan menyalahkan dosa-dosa mereka. Dan mereka yang
menganiaya dan membinasakan orang-orang yang membujuk mereka menerima tuntunan yang benar dan kudus. Dalam pengertian inilah -- oleh karena kebenaran yang ditinggikan kadang-kadang membawa kebencian dan permusuhan -- kabar Injil itu di sebut pedang.
      Pemeliharaan misterius Tuhan yang mengizinkan orang-orang benar itu menderita penganiayaan di tangan orang-orang jahat, telah menyebabkan kebingungan kepada banyak orang yang lemah iman. Sebahagian mereka bahkan sudah siap untuk tidak lagi menaruh percaya kepada Allah, sebab Ia membuat orang paling jahat memperoleh kemakmuran, sementar orang-orang terbaik dan tersuci menderita dan di siksa oleh orang-orang jahat yang berkuasa. Orang bertanya, bagaimana mungkin seorang yang adil dan murah hati, dan yang kuasanya tidak terbatas, dapat menerima ketidak-adilan dan penindasan? Inilah satu pertanyaan yang kita tidak bisa lakukan apa-apa. Allah telah memberikan kepada kita cukup bukti kasih-Nya. Dan kita
tidak perlu meragukan kebaikan-Nya, sebab kita tidak bisa mengerti cara kerja pemeliharaan-Nya itu. Jurus Selamat berkata kepada murid-murid-Nya, setelah meramalkan kebimbangan yang akan menimpa  jiwa  mereka pada hari-hari percobaan dan kegelapan, "Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu" ( Yoh. 15:20). Yesus menderita untuk kita lebih dari yang seseorang pengikut-Nya derita dari kekejaman orang-orang jahat. Mereka yang di panggil untuk menahan siksaan dan mati syahid adalah mengikuti jejak Anak Allah yang kekasih.
      "Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya" (2 Pet. 3:9). Ia tidak melupakan atau melalaikan anak-anak-Nya. Tetapi Ia mengizinkan orang-orang jahat menyatakan tabiat mereka yang sebenarnya, agar supaya tak seorangpun yang rindu melakukan kehendak-Nya tidak boleh tertipu oleh mereka. Sekali lagi orang benar itu ditempatkan di dalam dapur kepicikan agar mereka sendiri boleh disucikan. Agar teladan mereka boleh meyakinkan orang-orang lain mengenai realitas dan kebaikan. Dan juga agar oleh keteguhan mereka boleh menyatakan kesalahan orang yang tak beriman dan tidak percaya.
      Allah mengizinkan orang jahat itu memperoleh kemakmuran, dan menyatakan permusuhan terhadap Dia, agar supaya bilamana mereka telah mencapai puncak kejahatannya, semua boleh melihat keadilan dan dan rahmat-Nya dalam kebinasaan mereka. Hari pembalasan-Nya tidak lama lagi dimana semua mereka yang telah melanggar hukum-Nya dan yang menindas umat-Nya akan memperoleh upah yang adil bagi setiap perbuatan mereka. Dan dimana setiap perbuatan kejahatan atau ketidak-adilan terhadap umat-umat Allah yang setia akan dihukum seolah-olah perbuatan itu dilakukan kepada Kristus sendiri. 
      Ada lagi pertanyaan lain dan yang lebih penting yang harus menjadi perhatian jemaat-jemaat dewasa ini. Rasul Paulus menyatakan bahwa "setiap yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya" (2 Tim. 3:12). Lalu, mengapa penganiayaan itu nampaknya seperti tertidur? Sebab satu-satunya ialah bahwa jemaat telah meyesuaikan diri dengan standar duniawi, oleh sebab itu tidak menimbulkan perlawanan. Agama pada zaman kita ini bukanlah agama yang bertabiat suci dan kudus sebagaimana yang menandai iman Kristen pada zaman Kristus dan rasul-rasul-Nya. Hanyalah oleh karena roh berkompromi dengan dosa, oleh karena kebenaran agung firman Tuhan di anggap tidak berbeda dengan dunia ini, oleh karena sangat sedikit kesalehan vital di dalam jemaat, yang membuat Kekristenan sangat populer di dunia ini. Cobalah ada kebangunan iman dan kuasa jemaat yang mula-mula itu, maka roh penganiayaanpun akan dibangunkan dan api penganiayaan itupun akan di sulut kembali.