Senin, 11 Desember 2017

LUTHER DIHADAPAN MAHKAMAH -- 8.

Hasil gambar untuk gambar LUTHER DIHADAPAN MAHKAMAH    --    8.


Seorang kaisar baru, Charles V, naik takhta di Jerman. Dan dengan segera utusan Roma menyampaikan ucapan selamat mereka, dan mengajak kaisar itu untuk menggunakan kuasanya melawan Pembaharuan. Sebaliknya, penguasa Saxony, kepada siapa kaisar Charles V berhutang budi untuk mahkotanya, memohon kepadanya agar jangan mengambil tindakan terhadap Luther sebelum ia memberikan waktu kepada Luther untuk didengar. Dengan demikian kaisar berada pada posisi yang sulit dan membingungkan. Para pengikut paus akan merasa puas kalau saja raja memerintahkan menjatuhkan hukuman mati bagi Luther. Penguasa Saxony telah dengan tegas menyatakan bahwa "baik kepada sri baginda kaisar maupun kepada seseorang lain telah ditunjukkan bahwa tulisan-tulisan Luther belum bisa dibantah," oleh sebab itu ia meminta, "agar Dr. Luther diberi surat jalan jaminan keselamatan agar ia bisa menghadap pengadilan yang terdiri dari kaum
terpelajar, orang-orang saleh dan para hakim yang adil."  --  D'Aubigne, b. 6, ch. 11.
      Perhatian semua pihak sekarang tertuju kepada mahkamah negara Jerman yang akan bersidang di Worms, segera sesudah penobatan Charles menjadi kaisar. Ada masalah-masalah politik dan kepentingan yang harus dipertimbangkan oleh konsili nasional ini. Untuk pertama kalinya para pangeran Jerman bertemu dengan rajanya yang masih muda dimahkamah perundingan. Dari seluruh pelosok negeri telah berdatangan para pemuka agama dan pemerintahan. Para penguasa, para bangsawan yang berkuasa yang bangga atas hak-hak warisan mereka, para rohaniawan yang bangga dengan menyadari kedudukan mereka yang tinggi dan berkuasa, para kesatria dengan pembawa senjatanya, dan para duta besar negara-negara asing dan negeri-negeri yang jauh, semuanya berkumpul di Worms. Namun, yang menjadi pokok masalah yang menarik perhatian yang terbesar di mahkamah itu ialah masalah Pembaharu dari Saxony itu. 
      Sebelumnya  kaisar  Charles  telah  menunjuk  penguasa  Saxony  untuk  membawa  Luther bersamanya ke mahkamah, dengan jaminan perlindungan, dan menjanjikan akan mengadakan diskusi bebas dengan orang-orang yang berkompeten dalam masalah-masalah yang diperdebatkan. Luther sudah sangat rindu untuk menghadap kaisar. Kesehatannya pada waktu ini sangat memburuk, namun ia menulis kepada penguasa Saxony, "Kalau saya tidak bisa pergi dalam keadaan sehat ke Worms, saya akan diusung kesana dalam keadaan sakit seperti sekarang ini. Oleh karena jika kaisar memanggil saya, saya tidak menyangsikan bahwa panggilan itu adalah panggilan Allah Sendiri. Jika mereka  menginginkan membuat keributan terhadap saya,  dan sangat besar kemungkinannya (karena bukan atas perintah mereka saya disuruh menghadap), saya akan menyerahkan masalah itu ketangan Tuhan. Dia masih tetap hidup dan memerintah, yang telah memelihara tiga orang pemuda didalam dapur api yang bernyala-nyala. Jikalau Dia tidak menyelamatkan aku, hidupku kurang berarti. Marilah kita cegah Injil itu dari jatuh kepada hinaan orang jahat, dan marilah kita tumpahkan darah kita demi Injil itu, agar mereka yang takut akan firman itu memperoleh kemenangan.
Bukanlah  hakku  untuk  menentukan  apakah  kehidupanku  atau  kematianku  menyebabkan keselamatan semua orang . . . . Yang mulia bisa mengharapkan segala sesuatu daripadaku . . . kecuali melarikan diri dan menarik mundur keyakinan saya. Saya tidak bisa melarikan diri, dan demikian juga menarik kembali ajaran-ajaranku."  --  Idem, b. 7, ch. 1.
      Pada waktu berita tersiar di Worms bahwa Luther akan menghadap mahkamah, terjadilah kegemparan umum.  Aleander, utusan paus, kepada siapa kasus ini secara khusus dipercayakan, terkejut dan marah. Ia melihat bahwa akibat semua ini akan membahayakan kepentingan kepausan. Penyelidikan mahkamah terhadap sesuatu kasus yang telah diputuskan paus dengan hukuman mati akan mendatangkan penghinaan kepada kekuasaan dan kedaulatan paus. Lebih jauh, ia juga khawatir,  bahwa  kemahiran  berbicara  dan  kemampuan  berargumentasi  Luther  akan  dapat mengalihkan para pangeran dari kepentingan dan ketaatannya kepada paus. Oleh sebab itu ia mengajukan protes keras kepada Charles mengenai rencana menghadirkan Luther di Worms. Kira-kira pada waktu itu surat keputusan pengucilan Luther telah dikeluarkan. Dan ini, ditambah dengan kehadiran utusan paus itu mendesak kaisar untuk menerimanya. Ia menulis surat kepada penguasa Saxony, bahwa jika Luther tidak mau menarik kembali ajaran-ajarannya, ia harus tetap tinggal di Wittenberg. 
      Belum lagi puas dengan kemenangan ini, Aleander bekerja keras dengan segala kemampuan dan kekuasaan untuk mewujudkan hukuman Luther. Dengan kegigihannya ia mendesak perhatian para pangeran, pejabat-pejabat tinggi gereja, dan anggota-anggota mahkamah yang lain agar menuduh Pembaharu itu  dengan tuduhan "penghasutan, pemberontakan, tidak hormat kepada Tuhan, dan penghujatan."    Akan  tetapi  kekerasan  dan  nafsu  yang  ditunjukkan  oleh  utusan  paus  itu menunjukkandengan jelas roh yang menggerakkannya. "Ia digerakkan oleh kebencian dan rasa balas dendam," kata orang-orang, "bukannya oleh kesungguh-sungguhan dan kesalehan."  --  Idem, b. 7, ch. 1. Mayoritas peserta mahkamah itu cenderung mendukung masalah Luther itu lebih dari sebelumnya.
      Dengan melipat-gandakan usaha, Aleander mendesak kaisar agar melaksanakan keputusan paus.Tetapi,  sesuai  dengan  hukukm  yang  berlaku  di Jerman, hal ini tidak bisa dilakukan tanpa persetujuan para pangeran. Oleh karena akhirnya kaisar kalah atas desakan utusan kepausan, ia menyuruh  utusan  kepausan  itu  membawa  kasus  itu  ke  mahkamah.  "Hari  itu  adalah  hari kesembongan bagi duta paus. Mahkamah itu sungguh besar, tetapi masalah lebih besar lagi. Aleander  membela  kepentingan  Roma,  .  .  .  ibu  suri  dan  induk  semua  gereja."  Ia  harus mempertahankan kepangeranan Petrus dihadapan kumpulan kekuasaan dunia Kekristenan. "Ia mempunyai karunia berbicara dan pada waktu yang sama ia diagungkan. Allah menyuruh agar Roma hadir dan membela diri dengan ahli pidatonya yang terbaik dihadapan pengadilan yang termulia, sebelum ia dinyatakan bersalah."  --  Wylie, b. 6, ch. 4.   Dengan ragu-ragu, mereka yang memihak kepada Pembaharu, menunggu akibat dari pidato Aleander. Penguasa Saxony tidak hadir, tetapi atas perintahnya beberapa orang penasihatnya mencatat amanat utusan paus itu.
      Dengan  segala  kemampuan  pengetahuan  dan  kemahiran  berbicara,  Aleander  berusaha melenyapkan kebenaran. Tuduhan demi tuduhan dilontarkan kepada Luther sebagai musuh gereja dan negara, musuh orang yang masih hidup maupun yang sudah mati, musuh para alim ulama maupun orang awam, anggota-anggota konsili maupun orang-orang Kristen biasa. Ia menyatakan, "Oleh karena kesalahan Luther seratus ribu orang bida'ah" harus dibakar.
      Sebagai kesimpulan ia berusaha mencela pengikut-pengikut iman yang diperbaharui, "Apalah semua pengikut Luther itu? Mereka adalah sekelompok guru-guru biadab, imam-imam bejat, biarawan-biarawan tak bermoral, pengacara-pengacara dungu, dan bangsawan-bangsawan hina dan rakyat biasa yang telah ditipu dan disesatkan. Betapa lebih tinggi kelompok Katolik dari mereka dalam jumlah, kemampuan dan kuasa! Suatu dekrit suara bulat dari mahkamah yang mulia ini akan memberi kejelasn bagi orang sederhana, mengamarkan yang kurang hati-hati, meneguhkan hati yang bimbang dan memberikan kekuatan pada yang lemah." -- D'Aubigne, b. 7, ch. 3.
      Dengan senjata yang sama penganjur-penganjur kebenaran diserang pada sepanjang zaman. Argumen-argumen serupa masih terus dihadapkan kepada mereka yang berani menyatakan ajaran firman Tuhan yang langsung dan jelas itu untuk melawan kesalahan yang sudah ditetapkan. "Siapa-siapakah pengkhotbah doktrin-doktrin baru ini?" seru mereka yang menginginkan agama populer. "Mereka tidak terpelajar, jumlahnya sedikit, dan terdiri dari golongan  orang-orang miskin. Namun mereka mengatakan mempunyai kebenaran, dan menjadi umat pilihan Allah. Mereka itu bodoh dan ditipu. Betapa gereja kita lebih unggul dalam jumlah dan pengaruh! Betapa banyak orang besar  dan  terpelajar  ada  diantara  kita!  Betapa  banyak  kuasa  ada  dipihak  kita!  "Inilah argumentasi-argumentasi yang sangat berpengaruh atas dunia ini. Tetapi argumentasi itu tidak lebih berpengaruh sekarang daripada waktu zamannya Pembaharu itu. Pembaharuan tidak berakhir bersama Luther, sebagaimana banyak orang mengira. Pembaharuan itu akan diteruskan sampai penutupan sejarah dunia. Luther mempunyai tugas besar merefleksikan terang itu kepada orang lain yang telah diizinkan Allah bersinar kepadanya. Namun, ia belum menerima semua terang yang akan diberikan kepada dunia ini. Sejak waktu itu sampai sekarang terang yang baru bersinar terus atas Alkitab, dan kebenaran-kebenaran baru terus dibukakan.
      Amanat utusan paus itu memberikan kesan mendalam bagi mahkamah. Luther yang mempunyai kebenaran yang jelas dan meyakinkan dari Firman Allah tidak hadir untuk mengalahkan jagonya kepausan itu. Tak ada usaha yang dilakuka untuk mempertahankan Pembaharu itu. Ada gejala-gejala kecenderungan umum bukan saja mempersalahkan Luther dan doktrin-doktrin yang diajarkannya, tetapi  jika  mungkin,  menumpas  semua  bida'ah.  Roma  menikamti  kesempatan  yang  paling menyenangkan  untuk  mempertahankan  kepentingannya.  Semua  yang  bisa  ia  katakan  untuk membuktikan kebenarannya sendiri sudah ia katakan. Akan tetapi kemenangan nyata itu adalah pertanda kekalahan. Sejak waktu itu perbedaan antara kebenaran dan kesalahan akan terlihat lebih jelas, sementara keduanya melakukan perang terbuka. Sejak waktu itu kedudukan Roma tidak lagi seaman sebelumnya.
      Meskipun sebahagian besar anggota mahkamah tidak keberatan kepada pembalasan Roma, tetapi banyak dari antara mereka melihat dan menyesalkan kemerosotan moral yang terjadi di dalam gereja, dan menginginkan suatu pemeberantasan penyalah-gunaan yang diderita oleh orang-orang Jerman yang diakibatkan oleh korupsi dan ketamakan hirarki. Utusan paus telah menyajikan peraturan kepausan dengan sangat terang. Sekarang Tuhan menggerakkan hati seorang anggota mahkamah untuk memberikan gambaran yang benar akibat dari kelaliman kepausan. Duke George berdiri  dengan  teguh  dihadapan  musyawarah  dan  dengan  sangat  tepat  memaparkan penipuan-penipuan dan kemurkaan kepausan dan akibat-akibatnya yang mengerikan. Sebagai penutup ia mengatakan, "Inilah beberapa penyalah-gunaan yang diteriakkan terhadap  Roma. Semua perasaan malu telah dikesampingkan, dan tujuan mereka satu-satunya ialah  . . . . uang, uang, uang . .
. sehingga para pengkhotbah yang seharusnya mengajarkan kebenaran tidak mengucapkan apa-apa selain kepalsuan. Dan kepalsuan ini bukan saja diterima, tetapi diberi penghargaan, sebab semakin besar kebohongan, semakin besar keuntungannya. Dari mata air yang kotor inilah mengalir air yang cemar. Kebejatan membukakan tangannya kepada ketamakan dan keserakahan akan harta . . . .  Oh, skandal para ulamalah yang menjebloskan banyak jiwa-jiwa yang malang kedalam hukuman yang kekal. Suatu pembaharuan umum harus dilakukan."  --  Idem, b. 7, ch. 4.
      Penyelewengan kepausan yang hebat tidak bisa disampaikan Luther sendiri. Dan fakta bahwa pembicara adalah musuh utama Pembaharu, akan memberikan pengaruh yang lebih besar kepada kata-katanya.
      Seandainya mata para peserta musyawarah terbuka, mereka akan melihat para malaikat Allah berada di tengah-tengah mereka memancarkan sinar-sinar terang menerangi kegelapan kesalahan dan kepalsuan, dan membuka pikiran dan hati mereka untuk menerima kebenaran. Adalah kuasa kebenaran dan akal budi Allah yang menguasai bahkan lawan-lawan Pembaharuan, dan dengan demikian menyediakan jalan bagi pekerjaan besar yang akan dicapai. Martin Luther tidak hadir di mahkamah itu, tetapi suara Seseorang yang lebih besar dari Luther telah diperdengarkan disitu. 

      Mahkamah segera membentuk sebuah komite untuk menyusun satu daftar penindasan kepausan yang begitu membebani kehidupan orang Jerman. Daftar yang berisi seratus satu malam penindasan ini  diserahkan  kepada  kaisar,  dengan  permohonan  agar  segera  mengambil  tindakan  untuk memperbaiki penyalah-gunaan itu. "Betapa banyaknya jiwa orang Kristen yang hilang, "  kata para pemohon,  "  betapa  banyaknya  perampasan,  pemerasan  yang  dilakukan  oleh  skandal  yang mengelilingi  dunia  Kekristenan!  Adalah  kewajiban  kita  untuk  mencegah  bangsa  kita  dari kehancuran dan kehinaan. Untuk alasan inilah kami memohon dengan kerendahan hati tetapi dengan sangat  agar  kaisar  memerintahkan  pembaharuan  umum  dan  bertanggungjawab  mengenai pelaksanaannya."  --  Idem, b. 7, ch. 4.
      Sekarang konsili menghendaki kehadiran Pembaharu itu dihadapan mereka. Walaupun Aleander memohon, memprotes, dan mengancam, akhirnya kaisar menyetujuinya dan Luther diperintahkan untuk hadir didepan mahkamah. Bersama-sama dengan surat perintah itu dikeluarkan juga surat jaminan keselamatan, untuk menjaminnya kembali ketempat yang aman. Surat-surat ini dibawa ke Wittenberg oleh seorang pengawal yang ditugaskan untuk membawaya ke Worms. 
      Sahabat-sahabat Luther takut dan cemas. Mengetahui prasangka buruk dan rasa permusuhan mereka terhadap Luther, sahabat-sahabat Luther khawatir kalau-kalau surat jaminan keselamatan itu sendiri tidak dihargai. Dan mereka meminta agar jangan membahayakan hidup Luther. Luther menjawab, "Para pengikut kepausan tidak menginginkan kedatangan saya ke Worms. Yang mereka inginkan ialah hukuman dan kematian saya. Tidak ada asalah. Janganlah berdoa untuk saya, tetapi berdoalah untuk firman Tuhan . . . .  Kristus akan memberikan Roh-Nya kepada saya untuk mengalahkan pelayan-pelayan kepalsuan itu. Saya tidak mengacuhkan mereka selama hidupku, dan aku akan bergembira karena mengalahkan mereka oleh kematianku. Mereka sekarang sibuk di Worms untuk memaksa saya menarik kembali ajaran-ajaran saya. Dan inilah penarikan kembali saya:  saya sudah katakan sebelumya bahwa paus adalah wakil Kristus, dan sekarang saya menyatakan bahwa dia adalah lawan Tuhan kita, dan rasul Setan."  --  Idem, b. 7, ch. 6.
      Luther tidak mengadakan perjalanan berbahaya itu sendirian. Selain pesuruh kerajaan, tiga orang sahabatnya yang paling karib memastikan untuk menyertai dia. Melanchthon sungguh-sungguh ingin pergi bersamanya. Hatinya begitu terjalin dengan hati Luther, dan ia rindu untuk mengikutinya, kalau perlu, kedalam penjara atau kepada kematian. Tetapi permohonannya ditolak. Seandainya Luther harus binasa, maka harapan Pembaharuan harus terpusat kepada teman sekerjanya yang masih muda ini. Luther berkata pada waktu berpisah dari Melanchthon, "Jikalau seandainya saya tidak kembali, dan musuh-musuh saya membunuh saya,  teruskanlah mengajar dan berdiri teguh dalam kebenaran. Bekerjalah sebagai penggantiku . . . . Jikalau engkau bertahan hidup terus, maka kematianku tidak berakibat apa-apa."  --  Idem,  ch. 7.  Para mahasiswa dan rakyat banyak yang menyaksikan keberangkatan Luther sangat terharu. Orang banyak yang hatinya telah dijamah oleh kabar Injil, mengucapkan selamat jalan dengan menangis. Demikianlah Pembaharu itu bersama teman-temannya berangkat dari Wittenberg. 
      Sepanjang perjalanan, mereka melihat bahwa pikiran orang-orang diganggu oleh firasat buruk. Dibeberapa kota tidak ada penghormatan yang diberikan kepada mereka. Pada waktu mereka berhenti  untuk  beristirahat  pada  malam  hari,  seorang  imam  yang  ramah  menyatakan kekhawatirannya dengan menunjukkan kepada Luther gambar seorang pembaharu bangsa Italia yang telah mengalami mati syahid. Hari berikutnya mereka mengetahui bahwa tulisan-tulisan Luther telah diharamkan dan dilarang di Worms. Para pesuruh kekaisaran telah mengumumkan dekrit kaisar, dan menghimbau orang-orang untuk membawa karya-karya Luther yang dilarang itu kepada pengadilan. Pengawal, khawatir akan keselamatan Luther pada konsili itu, dan berpikir mungkin keputusan Luther mulai goyah, bertanya kalau-kalau ia masih ingin terus pergi. Luther menjawab, "Meskipun dilarang disetiap kota, saya akn jalan terus."  --  Idem, ch. 7.  
      Di Erfurt, Luther disambut dengan hormat. Ia dikelilingi oleh banyak orang pada waktu ia melewati jalan-jalan kota yang dulu sering ditelusurinya dengan membawa kantong sebagai peminta-minta. Ia mengunjungi kamar biara yang pernah ditempatinya, sambil merenungkan perjuangan melalui mana sinar terang yang sekarang membanjiri Jerman telah dicurahkan kepada jiwanya. Ia diminta untuk berkhotbah. Hal ini sebenarnya telah dilarang baginya, tetapi pengawalnya mengizinkannya, dengan demikian maka biarawan yang pernah bekerja keras di biara itu sekarang naik mimbar. 
      Kepada perkumpulan yang penuh sesak itu ia mngucapkan perkataan Kristus,  "Damai sejahtera bagi kamu."  "Para  ahli filsafat, para doktor dan para penulis, "  katanya, "telah berusaha mengajarkan kepada manusia cara untuk memperoleh hidup yang kekal, dan mereka itu tidak berhasil. Sekarang saya memberitahukan kepadamu, .  .  .  bahwa Allah telah membangkitkan seorang Manusia dari kematian, Tuhan kita Yesus Kristus, agar Dia membinasakan kematian, membasmi dosa sampai keakar-akarnya, dan menutup pintu naraka. Inilah pekerjaan keselamatan, . . . Kristus telah memenangkannya! Inilah berita sukacita. Dan kita diselamatkan oleh usaha-Nya, dan bukan oleh usaha kita.  .  .  .   Tuhan kita Yesus Kristus berkata, 'Damai sejahtera bagi kamu.  Lihatlah tangan-Ku.'  Sebenarnya yang ia katakan ialah, Lihatlah, hai manusia!  adalah Aku, Aku sendiri satu-satunya, yang telah menghapuskan dosamu dan yang telah menebus engkau. Dan sekarang engkau beroleh kedamaian, kata Tuhan."  --  Idem, b. 7, ch. 7.
      Ia melanjutkan,  menunjukkan bahwa iman yang benar akan dinyatakan oleh kehidupan yang kudus. "Oleh karena Allah telah menyelamatkan kita, marilah kita mengatur pekerjaan kita sedemikian rupa agar berkenan kepada-Nya. Apakah engkau kaya? biarlah kekayaanmu digunakan untuk keperluan orang-orang miskin. Apakah engkau miskin? biarlah pelayananmu berkenan kepada orang kaya. Jikalau usahamu hanya berguna bagimu saja, maka pelayanan yang kamu sangka diberikan kepada Allah adalah dusta."  --  Idem, b. 7, ch. 7.
      Orang-orang mendengar dengan terpesona. Roti hidup telah dibagi-bagikan kepada jiwa-jiwa yang lapar itu. Kristus ditinggikan dihadapan mereka mengatasi para paus, para utusan paus, para kaisar dan raja-raja. Luther tidak menyinggung kedudukannya yang penuh bahaya. Ia tidak berusaha membuat dirinya pusat perhatian atau simpati. Ia tidak memikirkan dirinya oleh karena Kristus. Ia berlindung dibelakang Orang dari Golgota itu, dan memikirkan hanya untuk menyatakan Yesus sebagai Penebus orang-orang berdosa. 
      Sementara  Pembaharu meneruskan perjalanannya, dimana-mana ia disambut dengan perhatian besar. Orang-orang berkerumun mengelilinginya, dan suara-suara bersahabat mengamarkannya mengenai maksud para pengikut Roma. "Mereka akan membakarmu," kata beberapa orang, "dan memperabukan tubuhmu seperti yang mereka lakukan pada John Huss."  Luther menjawab, "Walaupun mereka menyalakan api sepanjang jalan dari Worms ke Wittenberg, dan nyala api itu sampai ke langit, saya akan menjalaninya dalam nama Tuhan. Saya akan tampil dihadapan mereka. Saya akan masuk kedalam rahang raksasa ini dan mematahkan gigi-giginya, dan sambil mengakui Tuhan Yesus Kristus." --  Idem, b. 7, ch. 7.
      Kabar semakin mendekatnya ia kekota Worms menimbulkan kegemparan.  Sahabat-sahabatnya takut mengenai keselamatannya. Musuh-musuhnya takut keberhasilan mereka terganggu. Usaha keras dilakukan untuk mencegahnya memasuki kota. Atas dorongan para pengikut paus, ia telah diajak ke sebuah kastel seorang ksatria yang ramah, dimana dinyatakan bahwa semua masalah atau kesulitan dapat diatur secara bersahabat.  Sahabat-sahabatnya berusaha menunjukkan ketakutan mereka dengan menjelaskan bahaya-bahaya yang mengancamnya. Tetapi semua usaha mereka gagal. Luther tanpa goyah, mengatakan, "Sekalipun ada Setan di Worms sebanyak genteng yang diatas rumah-rumah, saya tetap akan memasukinya." -- Idem, b. 7, ch. 7.
      Sementara ia memasuki kota Worms, orang banyak berkerumun di pintu gerbang kota untuk menyambut dia. Begitu besar penyambutan itu, bahkan kaisar sendiripun belum pernah disambut seperti itu. Kegembiraan pada waktu itu begitu meluap-luap. Dan dari tengah-tengah orang banyak itu  terdengar  suara  nyaring  bernada  sedih  yang  berulang-ulang  menerikakkan  nada  ratapan penguburan, sebagai amaran kepada Luther mengenai nasib yang menantinya.  "Allah akan menjadi pelindungku," katanya, sementara ia turun dari keretanya.
      Para pengikut paus sebelumnya tidak percaya kalau Luther berani untuk tampil di Worms, sehingga kedatangannya membuat mereka dipenuhi ketakutan. Kaisar dengan segera meminta para penasihatnya untuk mempertimbangkan apa yang harus dilakukan. Salah seorang imam, pengikut paus yang keras, menyatakan, "Sudah lama kita diminta pendapat mengenai masalah ini. Biarlah yang mulia melenyapkan orang ini dengan segera. Bukankah kaisar Sigismund yang menyebabkan John Huss mati dibakar? Kita tidak berkewajiban untuk memberi atau mematuhi surat jaminan keselamatan seorang bida'ah."  "Tidak," kata kaisar, "kita harus mengingat janji kita." --  Idem, b. 7, ch. 8. Itulah sebabnya diputuskan bahwa Pembaharu itu harus didengar. 
      Seluruh penduduk kota itu ingin melihat orang luar biasa ini, dan banyaklah pengunjung yang memenuhi penginapan-pengipan. Luther belum sembuh benar dari penyakitnya. Ia sangat letih oleh karena  perjalanan  yang  memakan  waktu  dua  minggu  penuh.  Ia  harus  siap  menghadapi kejadian-kejadian penting hari esok, dan ia memerlukan istirahat dan ketenangan. Akan tetapi begitu banyak orang yang rindu menemui dia, sehingga ia hanya sempat beristirahat beberapa jam saja. Para bangsawan, ksatria, imam dan penduduk kota berkerumun menelilingi dia. Diantara mereka banyak  para  bangsawan  yang  begitu  keras  memohon  kepada  kaisar  suatu  pembaharuan penyalah-gunaan dan penyelewengan gereja, dan yang,  seperti kata Luther, "telah dibebaskan oleh Injil yang saya beritakan." --  Martyn, "Life and Times of Luther," p. 393. Musuh-musuh dan sahabat-sahabatnya datang untuk melihat biarawan pemberani itu. Ia menerima mereka dengan ketenangan yang tak tergoyhkan, menjawab semua pertanyaan dengan berwibawa dan bijaksana.
Pembawaannya kokoh dan berani. Ekspresi wajahnya menunjukkan kebaikan hatinya, bahkan kesukacitaannya, meskipun pucat, kurus dan ditandai oleh kerja keras dan penyakit. Keseriusan dan kesungguh-sungguhan  kata-katanya  yang  mendalam  memberinya  kuasa  yang  bahkan musuh-musuhnyapun tak mampu menahan seluruhnya. Baik kawan-kawan maupun lawan-lawannya  sama-sama takjub. Sebagian yakin bahwa pengaruh ilahi menolongnya, sementara yang lain menyatakan, seperti pernyataan orang Farisi mengenai Kristus, "Ia dipengaruhi Setan."
      Pada  hari  berikutnya,  Luther  dipanggil  untuk  menghadiri  Mahkamah.  Seorang  pejabat kekaisaran ditunjuk untuk membawanya ke ruang pemeriksaan. Setiap jalan telah dipenuhi penonton yang ingin melihat biarawan yang berani menentang kekuasaan paus ini.
      Sementara ia hampir memasuki tempat ia menghadap para hakim, seorang jenderal tua, pahlawan dari banyak peperangan, berkata dengan ramah kepadanya, "Biarawan yang malang, biarawan yang malang, engkau akan berdiri lebih agung dari saya atau dari para kapten lain yang pernah memenangkan peperangan yang paling sengit sekalipun. Akan tetapi jika engkau merasa yakin perjuanganmu itu benar, majulah terus dalam nama Tuhan, dan janganlah takut sesuatupun. Allah tidak akan melupakanmu." -- D'Aubigne, b. 7, ch. 8.
      Akhirnya Luther berdiri dihadapan konsili. Kaisar duduk diatas takhtanya. Ia dikelilingi oleh orang-orang yang terkenal dan terhormat di kekaisaran itu. Belum pernah seseorang menghadap sidang yang lebih mengagumkan dari ini dimana Martin Luther akan memberikan jawaban-jawaban mengenai  imannya.  "Pemunculan  Luther  di  majelis  ini  sebenarnya  adalah  suatu  pertanda kemenangannya atas kepausan. Paus telah menghukum orang ini, tetapi sekarang ia berdiri didepan pengadilan, yang oleh tindakan ini, menempatkan diri di atas paus. Paus telah memutuskan pengucilannya dan melarang masyarakat berhubungan dengan dia. Namun, ia telah dipanggil dengan bahasa yang terhormat, dan diterima menghadap sidang yang paling mulia di dunia ini. Paus telah menghukumnya dengan hukuman berdiam diri selamanya. Tetapi sekarang ia akan berbicara dihadapan ribuan orang pendengar yang datang dari berbagai tempat jauh dari dunia Kekristenan.  Suatu revolusi besar telah dimulai oleh peran Luther. Roma telah merosot dari takhtanya, dan kemerosotan itu disebabkan oleh suara seorang biarawan." --  Idem, b. 7, ch. 8.
      Dihadapan sidang yang berkuasa dan bergengsi itu, Pembaharu, kelahiran orang kebanyakan itu, tampaknya kagum dan malu. Beberapa orang dari para pangeran mengamati emosinya dan mendekatinya. Salah seorang berbisik kepadanya, "Janganlah takut kepada mereka yang membunuh tubuh, tetapi yang tidak dapat membunuh jiwa." Yang lain berkata, "Bilamana engkau dibawa berhadapan  dengan  para  gubernur  dan  raja-raja  oleh  karena  Aku,  Roh  Bapamu  akan memberitahukan kepadamu apa yang akan engkau katakan." Demikianlah kata-kata Kristus telah digunakan oleh orang-orang besar dunia untuk menguatkan hamba-Nya pada saat pencobaan. 
      Luther dibawa pada posisi tepat dihadapan takhta kaisar. Keheningan menyelimuti seluruh sidang. Kemudian pejabat kekaisaran bangkit, dan menunjuk kepada koleksi tulisan-tulisan Luther dan menyuruh Luther menjawab dua pertanyaan, -- apakah dia mengakui buku-buku itu sebagai tulisan-tulisannya, dan apakah ia bermaksud untuk menarik kembali buah pikiran yang telah diajukannya didalam tulisan-tulisan tersebut. Sementara judul buku-buku itu dibacakan, Luther memberi pengakuan bahwa buku-buku itu adalah tulisannya sebagai jawaban kepada pertanyaan yang pertama. "Mengenai pertanyaan kedua," katanya, "berhubung pertanyaan itu menyangkut iman dan keselamatan jiwa-jiwa, dan dalam mana firman Allah, harta termahal dan terbesar di Surga maupun di dunia terlibat, saya akan dianggap bertindak tidak bijaksana kalau saya menjawabnya tidak dengan sungguh-sungguh. Mungkin saya menegaskan kurang dari yang dituntut keadaan, atau lebih dari yang diperlukan oleh kebenaran, dengan demikian berdosa kepada perkataan Kristus ini, 'Tetapi barang siapa menyangkal Aku didepan manusia, Aku juga akan menyangkalnya didepan Bapa-Ku yang di Surga.' (Matius 10:33). Untuk ini aku memohon kepada Yang Mulia, dengan segala kerendahan, untuk memberikan waktu kepadaku, agr aku dapat menjawabnya  tanpa melanggar firman Allah." --  D'Aubigne, b. 7, ch. 8.
      Dalam mengajukan permohonan ini Luther bertindak dengan bijaksana. Sikapnya meyakinkan sidang bahwa ia tidak bertindak secara bernafsu atau gegabah. Keterangan dan penguasaan diri yang demikian itu, menambah kekuatan kepadanya. Sikap seperti itu tidak diharapkan dari seorang yang tegas dan tak mengenal kompromi. Sikap ini menyanggupkannya selanjutnya memberikan jawaban dengan bijaksana, tegas, berakal budi dan berwibawa, sehingga mengejutkan dan mengecewakan musuh-musuhnya, dan menempelak kekurang-ajaran dan kesombongan mereka.
      Hari berikutnya ia harus menghadap kembali untuk memberikan jawabannya yang terakhir. Untuk sementara hatinya remuk pada waktu ia merenungkan kekuatan-kekuatan yang bersatu melawan kebenaran. Imannya goyah, ketakutan dan kegentaran menimpanya, dan kengerian menyelimutinya. Bahaya berlipat ganda dihadapannya. Musuh-musuhnya tampaknya akan menang, dan kuasa kegelapan merajalela.  Awan menutupinya, dan tampaknya memisahkan dirinya dari Allah. Ia sangat rindu jaminan kepastian bahwa Allah yang mahakuasa akan menyertainya. Dalam penderitaan jiwanya, ia tersungkur ketanah dan mencurahkan jeritan hatinya yang hancur, yang tak seorangpun mengerti dengan sesungguhnya selain Allah.
      "O, Allah yang kekal dan mahakuasa," ia memohon, "betapa mengerikan dunia ini! Lihatlah, ia membuka mulutnya untuk menelan aku, dan aku tidak berharap sepenuhnya kepada-Mu . . . . Jikalau hanya pada kuasa dunia ini aku menaruh harap, berarti segalanya sudah selesai . . . . Saatku sudah tiba, hukumanku sudah diumumkan . . . .  O, Allahku, tolonglah aku melawan semua kebijaksanaan dunia ini. Tolongah Tuhan, . . . Engkau sendiri; karena ini bukan pekerjaanku, tetapi pekerjaan-Mu. Tidak ada urusanku disini, tidak ada yang diperdebatkan dengan pembesar-pembesar dunia ini . . . . Tetapi ini adalah urusan-Mu, . . . urusan kebenaran dan kekekalan. O, Tuhan, tolonglah aku!  Allah yang setia dan yang tidak berubah, aku tidak bisa menaruh harap kepada seorang manusiapun . . . .  Segala yang dari manusia tidak ada kepastian. Segala yang datang dari manusia adalah kegagalan . .
. . Engkau telah memilih aku untuk pekerjaan ini . . . . Berdirilah disampingku demi Anak-Mu yang kekasih, Yesus Kristus, yang menjadi pertahananku, perisaiku dan bentengku yang kuat." --  Idem, b. 7, ch. 8.
      Allah, Pemelihara yang maha bijaksana, telah mengizinkan Luther menyadari bahaya yang mengancamnya, agar supaya ia tidak menaruh harap kepada kekuatannya sendiri, dan takabur masuk kedalam bahaya. Namun bukan ketakutan penderitaan diri sendiri, ketakutan penyiksaan atau kematian yang tampaknya segera akan terjadi, yang meresahkannya. Ia menemui kemelut, dan dia merasa tidak sanggup menghadapinya. Oleh karena kelemahannya kebenaran mungkin akan menderita  kerugian.  Ia  bergumul  dengan  Allah  bukan  untuk  keselamatannya,  tetapi  demi kemenangan  Injil.  Seperti  Israel,  yang  pada  malam  itu  bergumul  sendirian  di  tepi  sungai, demikianlah penderitaan dan pergumulan jiwanya. Seperti Israel, ia menang dipihak Allah. Didalam ketidak-berdayaannya, imannya berpegang teguh kepada Kristus, Penyelamat perkasa itu. Ia dikuatkan dengan jaminan bahwa ia tidak akan tampil sendirian dihadapan konsili. Kedamaian kembali memenuhi jiwanya, dan ia bersukacita oleh karena diizinkan untuk meninggikan firman
Allah dihadapan penguasa-penguasa bangsa itu.
      Dengan  pikirannya  tetap  tertuju  kepada  Allah,  Luther  mempersiapkan  diri  menghadapi perjuangan yang menghadangnya. Ia memikirkan rencana jawaban yang akan diberikannya. Ia memeriksa tulisan-tulisannya, dan mengambil bukti-bukti dari Alkitab untuk mempertahankan posisinya. Kemudian, ia meletakkan tangan kirinya di atas Alkitab yang terbuka didepannya, ia mengangkat tangan kanannya ke atas, dan berjanji "tetap setia kepada Injil, dan mengakui imannya dengan bebas, walaupun harus memeteraikan kesaksiannya dengan darahnya sendiri." --  Idem, b. 7, ch. 8.
      Ketika sekali lagi ia dituntun ke hadapan Mahkamah, tidak tampak rasa takut atau malu di wajahnya. Dengan tenang, penuh kedamaian, namun dengan berani dan penuh wibawa, ia berdiri sebagai saksi Allah diantara orang-orang besar dunia. Sekarang pejabat kekaisaran menuntut keputusan Luther, apakah ia ingin menarik kembali ajaran-ajarannya. Luther memberikan jawaban dengan nada yang lembut dan merendah tanpa kekerasan atau emosi. Sikapnya malu-malu dan penuh hormat, namun ia menunjukkan rasa percaya diri dan sukacita, yang membuat hadirin kagum.
      "Kaisar yang agung, para pangeran yang muia, dan tuan-tuan yang budiman," kata Luther, "pada hari ini saya berdiri dihadapan hadirin sesuai dengan perintah yang diberikan kepadaku kemarin. Dan  oleh  rahmat  Allah  saya  memohon  yang  agung  dan  yang  mulia  untuk  mendengarkan pembelaanku terhadap satu hal yang saya yakin tepat dan benar. Jikalau oleh karena kelalaian saya harus melanggar kebiasaan dan tatatertib pengadilan, saya  mohon diampuni, karena saya tidak dibesarkan di istana raja-raja, tetapi di biara terpencil." --  Idem, b. 7, ch. 8.
      Kemudian melanjutkan kepada pertanyaan, ia mengatakan bahwa karya-karyanya yang sudah diterbitkan  itu  tidak  sama  sifatnya.  Dalam  sebagian  ia  membahas  mengenai  iman  dan perbuatan-perbuatan baik, dan musuh-musuhnya sendiri menyatakan bahwa karya-karya itu bukan saja  tak  berbahaya,  tetapi  bahkan  sangat  berguna.  Menarik kembali karya-karya ini berarti mempersalahkan kebenaran yang diakui semua pihak. Kelompok yang kedua dari tulisan-tulisan yang mengungkapkan kebejatan moral dan penyelewengan kepausan. Menarik kembali karya-karya ini akan memperkuat kekejaman Roma, dan membuka pintu lebih lebar lagi terhadap kejahatan yang lebih banyak dan lebih besar. Dalam kelompok ketiga buku-bukunya, ia menyerang idividu-individu yang telah mempertahankan kejahatan-kejahatan yang sedang merajalela. Megenai ini ia mengakui bahwa ia telah bertindak lebih keras. Ia tidak menyatakan dirinya bebas dari kesalahan. Dan buku-buku inipun ia tidak mau menariknya kembali karena dengan berbuat demikian akan memberi semangat kepada musuh-musuh kebenaran, dan mereka akan mengambil kesempatan untuk menghancurkan umat Allah dengan kekejaman yang lebih besar.
      "Namun, saya adalah manusia biasa, bukan Allah,"  ia meneruskan, "Oleh sebab itu saya akan mempertahankan diri seperti yang dilakukan Kristus: 'Jikalau saya berkata jahat, saksikanlah kejahatan itu' .  .  .  .  Oleh rahmat Allah, saya memohon kepadamu kaisar yang agung, dan kepadamu para pangeran yang mulia, dan kepada semua orang dari berbagai tingkatan untuk membuktikan dari tulisan-tulisan para nabi dan para rasul bahwa saya telah bersalah. Dan segera setelah saya diyakinkan mengenai hal ini saya akan menarik kembali semua yang salah itu. Dan sayalah orang yang pertama mengambil buku-buku itu dan melemparkannya kedalam api untuk dibakar.
      "Apa yang baru saja saya katakan menunjukkan dengan jelas, saya harap, bahwa saya telah mempertimbangkannya dengan masak-masak dan memperhitungkan bahaya yang mengancam saya. Tetapi saya jauh dari rasa takut, saya bersukacita bahwa Injil itu sekarang, seperti pada zaman dahulu, penyebab kesusahan dan perselisihan. Inilah sifat dan tujuan firman Allah. 'Aku datang bukan membawa damai ke atas bumi, tetapi Aku datang membawa pedang,'  kata Yesus Kristus. Nasihat-nasihat Allah adalah ajaib dan mengerikan. Berhati-hatilah, jangan menginjak-injak firman Allah yang kudus dengan dalih memadamkan perselisihan, dan dengan demikian mendatangkan bahaya besar dan mengerikan bagi dirimu, malapetaka sekarang dan kehancuran kekal . . . .  Saya dapat mengutip banyak contoh dari firman Allah. Saya dapat berbicara tentang Firaun-firaun, raja-raja  Babilon,  dan  tentang  raja-raja  Israel,  yang  usaha-usahanya  hanya  mendatangkan kebinasaannya sendiri karena mereka tidak meminta nasihat. Kelihatannya mereka paling bijaksana untuk  memperkuat  kekuasaannya.  'Allah  memindahkan  gunung-gunung,  dan  mereka  tidak mengetahui hal itu.' " -- Idem, b. 7, ch. 8.
      Luther berbicara dalam bahasa Jerman. Sekarang ia diminta untuk mengulangi kata-katanya itu dalam bahasa Latin. Meskipun ia sudah letih dengan pidatonya yang sebelumnya, ia menuruti dan menyampaikan pidatonya sekali lagi sejelas dan sebersemangat yang pertama. Pemeliharaan Allah menuntunnya kedalam masalah itu. Pikiran para pangeran telah dibutakan oleh kesalahan dan ketakhyulan sehingga pada penyajian pertama mereka tidak melihat kekuatan dan pemikiran Luther. Tetapi dengan pengulangan ini membuat mereka dapat melihat dengan jelas semua hal yang disampaikan.
      Mereka yang dengan degilnya menutup mata kepada terang, dan bertekad untuk tidak diyakinkan oleh kebenaran, telah dibuat marah oleh kuasa kata-kata Luther. Setelah ia selesai berbicara, jurubicara Mahkamah berkata dengan marah, "Engkau tidak menjawab pertanyaan yang diajukan kepadamu . . . . Engkau diharuskan memberi jawaban yang jelas dan tepat. . . .  Mau atau tidak mau menarik kembali ajaran-ajaranmu?"

      Pembaharu itu menjawab, "Oleh karena yang agung dan yang mulia meminta dari saya jawaban yang jeas, sederhana dan tepat, maka saya akan menjawab begini: Saya tidak dapat menyerahkan imanku baik kepada paus atau kepada konsili ini, sebab sudah jelas seperti terangnya siang bahwa mereka sering bersalah dan bertentangan satu sama lain. Kecuali saya diyakinkan oleh kesaksian Alkitab atau oleh pemikiran yang paling terang, kecuali saya terbujuk oleh kalimat-kalimat yang saya kutip, dan kecuali mereka yang membuat hati nuraniku terikat oleh firman Allah, saya tidak dapat dan tidak akan menarik kembali ajaran-ajaran saya,  karena tidak baik bagi seorang Kristen berbicara melawan hati nuraninya. Disini saya berdiri, saya tidak dapat berbuat yang lain. Kiranya Tuhan Allah menolongku. Amen."
      Begitulah orang benar ini berdiri di atas alasan yang teguh, firman Allah. Terang surga menyinari wajahnya. Kebesarannya dan kesuciannya, kedamaian dan sukacita hatinya, telah dinyatakan kepada semua orang sementara ia bersaksi melawan kuasa kesalahan, dan menyaksikan keunggulan iman yang mengalahkan dunia. 
      Untuk sementara seluruh hadirin terdiam dalam kekaguman. Dalam jawaban Luther yang pertama, ia berbicara dengan nada rendah dan dengan rasa hormat, seolah-olah menyerah. Para pengikut Romanisme menganggap ini suatu tanda bahwa keberanian Luther mulai pudar. Mereka menganggap permohonan penundaan semata-mata hanya pendahuluan kepada penarikannya kembali ajaran-ajarannya. Kaisar Charles sendiri setelah memperhatikan, setengah memandang rendah tubuh biarawan yang sudah merosot, pakaiannya yang sederhana, dan kesederhanaan pidatonya, telah menyatakan, "Biarawan ini tidak akan pernah membuat saya menjadi bida'ah."  Keberanian dan keteguhan yang ditunjukkannya sekarang, serta kuasa dan terangnya pemikirannya, membuat semua pihak terkagum-kagum. Kaisar, oleh karena kekagumannya, berseru, "Biarawan ini berbcara dengan hati yang berani dan dengan semangat yang tidak tergoyahkan."  Banyak pangeran Jerman memandang wakil bangsa mereka ini dengan bangga dan gembira. 
      Para pengikut Roma telah dikalahkan. Kepentingan mereka tampaknya sangat suram. Mereka berusaha untuk mempertahankan kekuasaan mereka, bukan dengan merujuk kepada Alkitab, tetapi dengan menggunakan ancaman-ancaman, argumentasi Roma yang tidak pernah gagal. Juru bicara Mahkamah (Diet) berkata, "Jikalau engkau tidak menarik kembali ajaran-ajaranmu, maka kaisar dan pemerintah negara bagian diseluruh kekaisaran akan merundingkan tindakan apa yang akan dijalankan terhadap seorang bida'ah yang tidak bisa lagi diperbaiki ini."  Sahabat-sahabat Luther, yang dengan kesukaan besar mendengarkan pembelaannya, gemetar mendengar kata-kata ini. Tetapi Dr. Luther sendiri berkata dengan tenang, "Kiranya Allah penolongku, karena tidak ada yang saya dapat tarik kembali."
      Ia disuruh meninggalkan Mahkamah, sementara para pangeran berkonsultasi bersama. Terasa bahwa  kemelut  besar  akan  datang.  Penolakan  terus-menerus  Luther  untuk  menyerah  dapat berpengaruh  kepada  sejarah  gereja    selama  berabad-abad.  Diputuskan  untuk  memberikan kesempatan sekali lagi kepadanya untuk menarik kembali ajaran-ajarannya. Untuk yang terakhir sekali ia dihadapkan ke persidangan. Sekali lagi pertanyaan diajukan, apakah ia mau menarik kembali ajaran-ajarannya. "Saya tidak mempunyai jawaban yang lain," katanya, "selain dari pada yang sudah saya katakan."  Terbukti bahwa ia tidak bisa dipengaruhi, baik dengan janji-janji maupun dengan ancaman untuk menyerah kepada kekuasaan Roma.
      Para pemimpin kepausan merasa kecewa kuasa mereka, yang telah membuat raja-raja dan para bangsawan gemetar, dipandang rendah oleh seorang biarawan yang sederhana. Mereka ingin membuat dia merasakan kemarahan mereka dengan cara menyiksanya. Akan tetapi Luther, yang menyadari bahaya, telah berbicara kepada semua orang dengan keagungan dan ketenangan seorang hKristen. Kata-katanya tidak mengandung kesombongan, emosi dan kesalah-pahaman. Ia tidak lagi memperdulikan dirinya sendiri, dan pembesar-pembesar disekelilingnya, dan hanya merasa bahwa ia berada dihadirat Seorang yang mutlak, yang lebih tinggi dari paus, para pejabat tinggi gereja, raja-raja dan para kaisar. Kristus telah berbicara melalui kesaksian Luther dengan kuasa dan keagungan, sehingga pada waktu itu mengilhami dengan kekaguman dan keheranan baik kawan maupun lawan. Roh Allah telah hadir didalam konsili, untuk mempengaruhi hati para pemimpin kekaisaran. Beberapa orang dari para pangeran dengan tegas mengakui kebenaran perjuangan Luther. Banyak yang diyakinkan mengenai kebenaran, tetapi bagi sebagian orang kesan itu tidak bertahan lama. Ada kelompok lain, yang pada waktu itu tidak menunjukkan keyakinan mereka; tetapi setelah menyelidiki sendiri Alkitab menjadi pendukung Pembaharuan yang tak mengenal takut
dikemudian hari.
      Penguasa Saxony Frederick telah lama mengharapkan kehadiran Luther dihadapan Mahkamah. Dan dengan emosi yang mendalam ia mendengarkan pidato Luther. Dengan gembira dan bangga ia menyaksikan keberanian, keteguhn hati, ketenangan dan rasa percaya diri Dr. Luther, dan tekadnya untuk berdiri lebih teguh lagi dalam mempertahankan diri. Ia membandingkan kedua pihak yang bertikai, dan melihat bahwa kebijaksanaan paus, raja-raja dan pejabat-pejabat tinggi gereja tidak ada artinya  dibandingkan  dengan  kuasa  kebenaran.  Kekuasaan  kepausan  telah  menderita  suatu  kekalahan, yang akan dirasakan diantara semua bangsa dan pada segala zaman.
      Ketika pejabat tinggi gereja menyadari akibat yang ditimbulkan oleh pidato Luther, ia menjadi takut seperti belum pernah sebelumnya, mengenai keamanan kekuasaan Romawi, dan memutuskan akan mengambil segala tindakan yang dibawah kekuasaannya untuk melenyapkan Pembaharu itu. Dengan kemahirannya berbicara dan ketrampilan diplomatiknya yang menonjol, ia mengemukakan kepada kaisar yang masih muda itu betapa bodohnya dan berbahayanya mengorbankan persahabatan dan dukungan kekuasaan Roma, hanya demi seorang biarawan yang tidak berarti.
      Kata-katanya bukan tanpa akibat. Sehari sesudah Luther memberikan jawabannya, Charles mengirim pesan untuk disampaikan kepada Mahkamah, yang mengumumkan keputusannya untuk menjalankan kebijakan pendahulunya untuk mempertahankan dan melindungi agama Katolik. Oleh karena Luther telah menolak menarik kembali ajaran-ajarannya, dan mengakui kesalahannya, maka tindakan  yang  paling  keras  akan  dilakukan  terhadap  Luther  dan  terhadap  ajarannya  yang menyimpang. "Seorang biarawan yang sesat oleh kebodohannya, telah bangkit melawan iman dunia Kristen. Untuk mempertahankan kesesatan seperti itu, berarti saya akan mengorbankan kerajaanku, hartaku, sahabat-sahabatku, darahku, jiwaku dan hidupku. Saya mau menyingkirkan Luther yang mulia, dan melarangnya melakukan kekacauan yang sekecil apapun di antara rakyat. Kemudian saya akan  melawan  dia  dan  pengikut-pengikutnya  sebagai  orang-orang  bida'ah  yang  degil,  oleh mengucilkan, mengasingkan dan apa saja yang diperkirakan dapat menghancurkan mereka. Saya menghimbau para anggota penguasa  kerajaan untuk berlaku sebagai orang-orang Kristen yang setia." -- Idem, b. 7, ch. 9.  Namun demikian, kaisar mengatakan bahwa surat jaminan keselamatan Luther harus dihormati, dan sebelum tindakan terhadapnya dilaksanakan, ia harus diizinkan kembali kerumahnya dengan selamat. 
      Timbul dua pemikiran yang bertentangan diantara anggota-anggota Mahkamah. Para utusan dan wakil-wakil paus menuntut surat jaminan keselamatan itu diabaikan saja. Mereka katakan, "Sungai Rhine harus menerima abunya, sebagaimana telah menerima abu jenazah John Huss seabad yang lalu." --  Idem, b. 7, ch. 9. Tetapi para pangeran Jerman, walaupun mereka adalah pengikut kepausan dan mengaku memusuhi Luther, memprotes terhadap pelanggaran iman umum, sebagai suatu noda pada kehormatan bangsa. Mereka menunjuk kepada malapetaka yang timbul sesudah kematian Huss, dan menyatakan bahwa mereka tidak berani mempersalahkan Jerman dan kaisar mereka yang masih muda, jika kejahatan yang ngeri seperti itu terulang kembali.
      Charles sendiri, dalam menanggapi protes itu, berkata, "Walaupun kehormatan dan iman harus dilenyapkan dari seluruh muka bumi ini, mereka seharusnya mendapatkan perlindungan didalam hati para pangeran." -- Idem, b. 7, ch. 9.  Charles lebih jauh dibujuk oleh musuh Luther yang keras agar  memperlakukan  Pembaharu  itu  seperti  yang  dilakukan  Sigismund  kepada  Huss,  -- menyerahkannya kepada kemurahan hati gereja. Tetapi setelah mengenang peristiwa pada waktu Huss, dihadapan pengadilan, menunjuk kepada rantainya dan mengingatkan raja akan janji imannya, Charles V. menyatakan, "Saya tidak suka dipermalukan seperti Sigismund" --  Lihat Lenfant, "History of the Council of Constance, " Vol. I, p. 422.
      Namun demikian, Charles dengan sengaja menolak kebenaran yang disampaikan oleh Luther. "Saya dengan teguh berketetapan untuk mengikuti teladan leluhur saya," tulis raja. Ia telah memutuskan bahwa ia tidak akan menyimpang dari kebiasaan walaupun dalam jalan kebenaran.Ia akan meninggikan kepausan dengan segala kejahatannya oleh karena ayahnya berbuat demikian. Dengan demikian ia mengambil pendirian, menolak menerima setiap terang yang melebihi apa yang para leluhurnya sudah terima atau melaksanakan sesuatu tugas yang mereka tidak laksanakan. 
      Sekarang ini ada banyak banyak orang yang bergantung kepada adat kebiasaan dan tradisi para leluhurnya. Bilamana Allah mengirimkan kepada mereka terang tambahan, mereka menolaknya, karena tidak diberikan sebelumnya kepada leluhurnya, sehingga mereka tidak mau menerimanya. Kita tidak ditempatkan ditempat leluhur kita. Sebagai akibatnya tugas-tugas dan tanggungjawab kita tidak sama dengan mereka . Kita tidak akan berkenan kepada Allah kalau kita mencari teladan leluhur  untuk  menentukan  tugas,  gantinya  kita  menyelidiki  sendiri  Firman  kebenaran  itu. Tanggungjawab kita lebih besar dari nenek moyang kita. Kita bertanggungjawab ats terang yang mereka  terima,  dan  yang  diturunkan  kepada  kita  sebagai  warisan bagi kita. Dan kita juga bertanggungjawab atas terang tambahan yang sekarang bersinar atas kita dari firman Allah.
      Kristus berkata kepada orang Yahudi yang tidak percaya, "Sekiranya aku tidak datang dan tidak berkata-kata kepada mereka, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang mereka tidak mempunyai dalih bagi dosa mereka"( Johanes 15:22). Kuasa ilahi yang sama telah berbicara melalui Luther kepada kaisar dan para pangeran Jerman. Dan sementara terang bersinar dari firman Allah, Roh-Nya membujuk para hadirin untuk yang terakhir kalinya. Seperti Pilatus berabad-abad yang lalu, membiarkan kesombongan dan popularitas menutup hatinya terhadap Penebus dunia; seperti Felix yang berkata kepada utusan kebenaran, "Cukuplah dahulu dan pergilah sekarang;  apabila ada kesempatan baik, aku akan menyuruh memanggil engkau;"  dan seperti Agrippa yang sombong mengakui, "Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen,"( Kisah 24:25; 26:28), namun berpaling dari pekabaran Surgawi itu, -- demikianlah Charles V., yang menyerah kepada ketentuan kesombongan dan kebijakan duniawi, sehingga memutuskan menolak terang kebenaran.
      Desas desus mengenai tindakan terhadap Luther telah tersebar luas, menyebabkan kegemparan besar diseluruh kota itu. Pembaharu itu telah mempunyai banyak sahabat, yang bertekad untuk tidak mengorbankannya, karena mereka mengetahui kekejaman yang akan dilakukan oleh Roma kepada semua orang yang berani mengungkapkan kekejamannya. Ratusan kaum bangsawan bersumpah untuk melindunginya. Tidak sedikit yang secara terbuka mencela pengumuman kerajaan sebagai tanda  kelemahan,  menyerah  kepada  kekuasaan  Roma.  Digerbang-gerbang  rumah  dan ditempat-tempat umum, ditempelkan kertas pengumuman. Sebagian mengutuk dan sebagian lagi membela Luther. Salah satu kertas pengumuman itu telah dituliskan dengan kata-kata orang bijak, "Wai engkau tanah, kalau rajamu seorang kanak-kanak" (Pengkhotbah 10:16).  Semangat dukungan populer kepada Luther diseluruh Jerman meyakinkan baik kaisar maupun Mahkamah, bahwa setiap tindakan yang tidak adil kepada Luther  akan membahayakan perdamaian diseluruh kekaisaran, dan bahkan stabilitas takhta.
      Frederick dari Saxony tetap tenang namun mengamati keadaan, menyembunyikan dengan hati-hati perasaannya terhadap Pembaharu. Sementara pada waktu yang sama ia menjaga dirinya tanpa mengenal lelah, memperhatikan gerak geriknya dan gerak gerik musuh-musuhnya. Tetapi banyak juga yang tidak berusaha menyembunyikan rasa simpatinya kepada Luther. Ia dikunjungi oleh para pangeran, kaum bangsawan, orang-orang terkemuka, baik awam maupun para ulama. "Kamar doktor yang sempit," tulis Spalatin, "tidak dapat menampung semua pengunjung yang datang." --  Martyn, Vol. I, p. 404.  Orang-orang memandang kepadanya seolah-olah ia lebih dari sekedar manusia. Bahkan orang-orang yang tidak percaya kepada ajaran-ajarannyapun mengagumi integritasnya yang tinggi, yang membuatnya berani mati daripada melanggar hati nuraninya.
      Usaha  yang  sungguh-sungguh  dilakukan  untuk  memperoleh  persetujuan  Luther  untuk berkopromi dengan Roma.  Kaum bangsawan dan para pangeran  menyampaikan kepadanya bahwa jika ia tetap pada pendiriannya menentang gereja dan konsili, ia akan dilenyapkan dari kekaisaran, dan dia tidak akan mempunyai perlindungan lagi. Luther memberi jawaban kepada usaha ini, "Injil Kristus tidak dapat dikhotbahkan tanpa perlawanan . . . . Kalau begitu mengapa rasa takut atau cemas akan bahaya memisahkan aku dari Tuhanku dan dari firman-Nya, yang adalah kebenaran satu-satunya?  Tidak. Lebih baik saya serahkan tubuhku, darahku dan hidupku." -- D'Aubigne, b. 7, ch. 10. 
      Sekali lagi ia didesak agar menyerah kepada pengadilan kaisar, dan kemudian tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. "Aku setuju," jawabnya, "dengan segenap hatiku, agar kaisar, para pangeran dan bahkan orang Kristen yang paling hina, harus memeriksa dan menimbang karya-karyaku, tetapi dengan satu  syarat, bahwa mereka membuat firman Allah sebagai ukuran. Manusia tidak bisa berbuat lain selain menurutinya. Janganlah bertindak kejam terhadap hati nuraniku yang terikat dan terantai kepada Alkitab."  -- Idem, b.7, ch. 10.
      Kepada himbauan lain ia berkata, "Aku setuju melepaskan surat jaminan keselamatanku. Saya menempatkan diriku dan hidupku ditangan kaisar, tetapi firman Allah . . .  sekali lagi tidak!" --  Idem, b. 7, ch. 10. Ia mengatakan kesediaannya menyerah kepada keputusan konsili umum, tetapi hanya dengan syarat bahwa konsili diminta memutuskan sesuai dengan Alkitab. Selanjutnya ia menambahkan, "Dalam urusan apa firman Allah dan iman setiap orang Kristen disamakan dengan paus dalam menghakimi meskipun didukung oleh sejuta konsili." -- Martyn, Vo. I, p. 410.  Akhirnya baik kawan maupun lawan yakin bahwa usaha-usaha  selanjutnya untuk perdamaian tidak akan ada gunanya.
      Kalau saja Pembaharu itu menyerah dalam satu hal saja,  Setan bersama pengikut-pengikutnya akan memperoleh kemenangan. Tetapi keteguhannya yang tak tergoyahkan itu, menjadi sarana pembebasan gereja untuk memulai era baru yang labih baik. Pengaruh orang yang satu ini, yang berani berpikir dan bertindak bagi dirinya dalam masalah-masalah agama, telah mempengaruhi gereja dan dunia, bukan saja pada zamannya, tetapi juga pada semua generasi yang akan datang. Keteguhannya dan kesetiaannya akan menguatkan semua orang yang akan melalui pengalaman yang serupa pada akhir zaman. Kuasa dan kebesaran Allah mengatasi pemikiran manusia dan mengatasi kekuasaan besar Setan. 
      Luther segera diperintahkan oleh kaisar untuk kembali ke kampung halamannya. Dan dia tahu bahwa perintah ini akan segera disusul oleh penghukumannya. Awan gelap yang menakutkan membayangi jalannya. Tetapi sementara ia meninggalkan kota Worms, hatinya dipenuhi sukacita dan pujian.  "Iblis sendiri," katanya, "mengawal benteng paus; tetapi Kristus telah menerobosnya, dan Setan terpaksa mengakui bahwa Tuhan lebih berkuasa daripadanya."  --  D'Aibigne, b. 7, ch. 11. 
      Setelah keberangkatannya, ia masih ingin agar ketetapan pendiriannya jangan dianggap salah sebagai suatu pemberontakan. Ia menulis kepada kaisar. "Allah yang menyelidiki segala hati, adalah saksiku," katanya, "bahwa saya siap sedia dengan sungguh-sungguh mematuhi yang mulia, dalam kehormatan atau tidak, dalam kehidupan atau kematian, dan tanpa kecuali dalam firman Allah, oleh mana manusia hidup. Dalam semua liku-liku permasalahan hidup masa kini, kesetiaanku tidak tergoyahkan, oleh karena disini kalah atau menang tidak mempengaruhi keselamatan. Akan tetapi kalau dikaitkan dengan kekekalan, Allah tidak mau bahwa manusia menyerah kepada manusia. Oleh karena penyerahan seperti itu dalam masalah kerohanian adalah perbaktian yang sebenarnya, maka kita berbakti hanya kepada Allah saja."  --  Idem, b. 7, ch. 11.
      Dalam perjanannya pulang dari Worms, sambutan terhadap Luther lebih semarak dibandingkan dengan pada waktu ia pergi.  Para ulama yang ramah dan baik hati menyambut biarawan yang dikucilkan itu, dan pejabat-pejabat pemerintah menghormati orang yang telah dikutuk oleh kaisar. Ia diminta untuk berkhotbah, dan walaupun ada larangan kekaisaran, ia sekali lagi naik ke mimbar.  "Aku tidak pernah berjanji kepada diriku untuk merantai firman Allah, dan tidak akan saya laukan," katanya.  --  Martyn, Vol. I, p. 420.
      Tidak berapa lama setelah ia meninggalkan Worms, para pengikut kepausan mendesak kaisar untuk mengeluarkan satu dekrit melawan Luther. Dalam dekrit itu Luther dicela sebagai  "Setan sendiri dalam bentuk manusia dan berpakaian jubah biarawan."  -- D'Aubigne, b. 7, ch. 11. Diperintahkan agar segera setelah surat jaminan keselamatan habis masa berlakunya, diambil langkah-langkah  untuk  menghentikan  kegiatannya.    Semua  orang  dilarang  untuk menyembunyikannya, memberinya makanan atau minuman, atau membantunya atau bersekongkol dengannya dengan kata-kata atau tindakan, dimuka umum atau secara pribadi. Ia harus ditangkap dimana saja memungkinkan, dan menyerahkannya kepada penguasa. Pengikut-pengikutnya juga akan dipenjarakan, dan harta mereka disita. Tulisan-tulisannya akan dimusnahkan, dan akhirnya, semua yang berani bertindak bertentangan dengan dekrit ini akan menerima hukuman yang sama.
Penguasa Saxony, dan para pangeran yang bersahabat dengan Luther, telah meninggalkan kota Worms segera setelah Luther meninggalan Worms, dan dekrit kaisar itu mendapat sanksi dari Mahkamah.  Sekarang  para  pengikut  Romawi  kegirangan  karena  merasa  menang.  Mereka menganggap nasib Pembaharuan telah ditutup termeterai. 
      Allah telah menyediakan jalan kelepasan bagi hamba-Nya pada saat genting seperti ni. Mata yang terus waspada, yang tidak pernah tertidur, mengawasi gerak gerik Luther. Dan hati yang benar dan agung telah memutuskan untuk menyelamatkannya. Sudah jelas bahwa Roma tidak akan puas kalau Luther belum mati. Hanya dengan menyembunyikannya nyawanya dapat diselamatkan dari mulut singa. Allah memberikan kebijaksanaan kepada Frederick dari Saxony untuk membuat suatu rencana penyelamatan Pembaharu itu. Dengan kerjasama sahabat-sahabat sejati, rencana penguasa Saxony ini dapat dijalankan, dan Luther dapat disembunyikan dengan baik dari sahabat-sahabat dan musuh-musuhnya. Dalam perjalanan pulang ia ditangkap dan dipisahkan dari pengikut-pengikutnya, dan  dengan  segera  dibawa  melalui  hutan  ke  kastel    Wartburg,  suatu  benteng  terpencil dipengunungan. Baik penangkapannya maupun penyembunyiannya dilakukan secara misterius sehingga Frederick sendiripun, untuk beberapa waktu lamanya, tidak tahu kalau-kalau rencana itu sudah dijalankan. Ketidak-tahuan ini bukanlah secara kebetulan. Selama Frederick tidak tahu dimana Luther berada, selama itu pula ia tidak bisa menyatakannya. Ia merasa puas bahwa Pembaharu itu aman. 

      Musim bunga, musim panas dan musim gugurpun berlalu. Dan musim dinginpun tiba, dan Lutherpun masih tetap sebagai tawanan. Aleander dan pengikut-pengikutnya bergembira karena terang Injil itu seolah-olah akan padam. Tetapi sebaliknya, Pembaharu itu sedang mengisi minyak lampunya dan perbendaharaan kebenaran, agar sinarnya memancar lebih terang.
      Dalam pengamanan Wartburg,  untuk sementara, Luther merasa gembira karena terbebas dari kekacauan dan panasnya peperangan. Tetapi ia tidak merasa puas berlama-lama berdiam diri dan beristirahat. Karena sudah biasa dengan kehidupan yang aktif dan pertentangan yang keras, ia tidak tahan tetap tanpa kegiatan. Selama hari-hari hidup menyendiri itu, gereja bangkit dihadapannya sehingga ia berseru dalam keputus-asaan, "Aduh! tak seorangpun pada hari teakhir murka-Nya, yang dapat berdiri bagaian tembok dihadapan Tuhan, dan menyelamatkan Israel!" --  Idem, b. 9, ch. 2.   Sekali lagi, ia memikirkan dirinya sendiri, dan ia takut dicap sebagai pengecut ole karena menarik diri dari arena perjuangan. Akhirnya ia mempersalahkan dirinya karena bermalas-malas dan memanjakan diri. Namun pada waktu yang sama setiap hari ia melakukan tugas yang tampaknya tidak mungkin dilakukan oleh seorang. Penanya tidak pernah malas. Sementara musuh-musuhnya memuji diri oleh karena Luther sudah diam, mereka dikejutkan dan dibingungkan oleh bukti nyata bahwa Luther masih aktif. Sejumlah besar risalah-risalah yang ditulisnya, diedarkan diseluruh Jerman. Ia juga melakukan suatu jasa kepada bangsanya dengan menerjemahkan buku Perjanjian Baru kedalam bahasa Jerman. Dari "Patmos"nya yang berbatu-batu ia terus menyiarkan Injil hampir sepanjang tahun, menegur dan mencela dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan pada masa itu.
      Akan tetapi bukan hanya sekedar melindungi Luther dari angkara murka musuh-musuhnya, atau bahkan memberinya waktu yang tenang untuk pekerjaan penting ini, sehingga Allah menarik hamba-hamba-Nya dari panggung kehidupan umum. Ada hasil yang lebih berharga dari itu yang akan diperolehnya.  Ditempat pengasingan yang terpencil dan tidak diketahui orang ini, Luther terpisah dari dukungan duniawi, dan dari sanjungan manusia. Dengan demikian ia terhindar dari kesombongan dan kepercayaan pada diri sendiri yang sering disebabkan oleh keberhasilan. Oleh penderitaan dan kehinaan ia telah dipersiapkan kembali untuk berjalan dengan aman diatas ketinggian kemana ia tiba-tiba dinaikkan.
      Pada waktu orang-orang bersukacita dalam kebebasan yang diberikan oleh kebenaran kepada mereka, mereka cenderung menyanjung mereka yang dipakai Allah untuk memutuskan rantai kesalahan dan ketakhyulan. Setan berusaha untuk mengalihkan pikiran dan kasih manusia dari Allah, dan menujukan kepada manusia. Ia memimpin mereka menghormati alat-alat dan melupakan Tangan  yang  mengatur  semua  kejadian-kejadian  dan  pemeliharaan.  Terlalu  sering pemimpin-pemimpin agama yang dipuji-puji dan dihormati kehilangan rasa ketergantungan mereka kepada Allah dan menaruh percaya pada diri sendiri. Akibatnya, mereka berusaha menguasai pikiran dan hati nurani orang-orang, yang cenderung mencari tuntunan dari mereka, gantinya mencari dari firman Allah. Pekerjaan pembaharuan itu sering menjadi lambat karena roh seperti itu dimanjakan oleh para pendukungnya. Allah akan menjaga usaha Pembaharuan dari bahaya ini. Ia rindu agar pekerjaan ini menerima, bukan pengaruh manusia, tetapi pengaruh Allah. Mata orang-orang telah ditujukan kepada Luther sebagai penerang kebenaran. Ia diasingkan agar semua mata boleh ditujukan kepada Pencipta kebenaran abadi itu.

Jumat, 08 Desember 2017

PEMISAHAN DIRI LUTHER DARI ROMA -- 7

Image result for gambar martin luther


Martin Luther adalah seorang yang terkemuka dari orang-orang yang terpanggil untuk memimpin gereja keluar dari kegelapan kepausan kepada terang iman yang lebih murni. Seorang yang bersemangat, rajin dan berserah, tidak mengenal rasa takut kecuali takut kepada Allah, yang mengakui tidak ada dasar iman keagamaan kecuali Alkitab. Luther adalah tokoh pada zamannya. Melalui dia Allah melakukan pekerjaan-pekerjaan besar untuk pembaharuan gereja dan menerangi dunia.
      Seperti pesuruh-pesuruh Injil yang pertama, Luther muncul dari lapisan masyarakat miskin. Masa kecilnya dihabiskan di rumah sederhana seorang petani Jerman. Dengan pekerjaan sehari-hari sebagai seorang pekerja tambang, ayahnya dapat menyekolahkannya. Ayahnya berniat agar Luther kelak  menjadi  seorang  pengacara.  Tetapi  Allah  bermaksud  membuat  dia  menjadi  seorang pembangun di kaabah-Nya yang berkembang begitu lambat selama berabad-abad. Kesukaran, penderitaan dan tindakan disiplin adalah sekolah dimana Yang Mahabijak mempersiapkan Luther bagi suatu misi penting dalam hidupnya.
      Ayah Luther adalah seorang yang berpikiran kuat dan aktif, dan mempunyai tabiat yang teguh, jujur, tabah dan lurus. Ia setia kepada keyakinan tugasnya walau apapun akibatnya. Citarasanya yang sejati menuntunnya tidak percaya kepada sistem biara.  Ia sangat tidak senang pada waktu Luther memasuki biara tanpa persetujuannya. Selama dua tahun hubungan mereka tidak baik karenanya, dan sesudah berdamai kembalipun pendirian ayahnya tetap sama.
      Orang tua Luther sangat memperhatikan pendidikan dan pelatihan anak-anaknya. Mereka berusaha mengajarkan pengetahuan akan Allah dan mempraktekkan kebijakan Kristen. Doa-doa ayahnya sering dinaikkan didengar oleh anaknya, agar anaknya boleh mengingat nama Tuhan, dan pada suatu hari membantu memajukan kebenaran-Nya. Setiap kesempatan untuk memupuk moral dan intelektual yang diberikan oleh kehidupan mereka yang keras kepada mereka untuk dinikmati, selalu dikembangkan oleh orangtua ini. Mereka berusaha dengan sungguh-sungguh dan dengan sabar untuk mempersiapkan anak-anak mereka bagi suatu kehidupan yang saleh dan berguna. Dengan keteguhan dan kekuatan tabiat kadang-kadang mereka melatih terlalu keras. Tetapi Pembaharu itu sendiri, meskipun menyadari bahwa dalam berbagai hal mereka salah, menemukan dalam disiplinnya lebih banyak persetujuan daripada hukuman.
      Di sekolah, dimana ia belajar pada masa mudanya, Luther diperlakukan dengan kasar dan bahkan dengan kejam. Orangtuanya sangat miskin, sehingga pada waktu ia bersekolah di kota lain, diharuskan mencari makan sendiri dengan menyanyi dari satu rumah ke rumah yang lain, dan sering ia harus menahan lapar. Pemikiran agama yang gelap dan penuh ketakhyulan yang merajalela membuat ia ketakutan. Ia berbaring pada waktu malam dengan hati yang sedih, memandang ke masa depan yang gelap dengan gemetar, dan dengan ketakutan yang terus menerus menganggap Allah itu sebagai hakim yang lalim yang tidak menaruh belas kasihan, seorang tiran jahat, daripada seorang Bapa Surgawi yang baik hati.
      Namun, dibawah begitu banyak dan begitu besar yang membuat ia tawar hati, Luther terus berusaha maju menuju standar moral yang tinggi dan keungguluan intelektual yang menarik jiwanya. Ia haus akan pengetahuan, dan kesungguh-sungguhan serta sifat praktis pikirannya menuntunnya menginginkan yang kuat dan berguna, daripada yang menyolok dan dangkal.
      Pada usia 18 tahun, waktu ia memasuki universitas Erfurt, keadaannya sedikit lebih baik, dan hari depannya lebih cerah daripada tahun-tahun sebelumnya. Orangtuanya, oleh karena berhemat dan rajin, telah mampu memberikan bantuan yang diperlukan. Dan pengaruh teman-temannya yang bijaksana telah mengurangi pengaruh suram pendidikan sebelumnya. Ia mempelajari karya-karya pengarang terbaik, dengan rajin mempelajari pikiran-pikiran berbobot, dan membuat kebijaksanaan orang-orang bijak itu menjadi kebijaksanaannya. Bahkan dibawah disiplin kasar guru-gurunya sebelumnya, ia tetap menonjol. Dan dengan pengaruh-pengaruh yang baik pikirannya berkembang dengan pesat. Ingatannya yang tajam, imaginasinya yang kreatif, daya pertimbangannya yang kuat, dan  ketekunannya  yang  tak  mengenal  lelah,  segera  menempatkannya  pada  barisan  depan teman-temannya. Disiplin intelektual mematangkan pengertiannya, dan membangkitkan suatu kegiatan pikiran dan suatu ketajaman persepsi yang mempersiapkan dia bagi perjuangan hidup.
      Perasaan  takut  akan  Allah  selalu  tiggal  dalam  hati  Luther,  yang  menyanggupkannya mempertahankan keteguhan tujuannya, dan  merendahkan diri dihadapan Allah. Ia mempunyai rasa
ketergantungan kepada pertolongan ilahi.  Dan ia tidak pernah lupa memulai setiap hari dengan doa, sementara hatinya terus memohon tuntunan dan dukungan. Sering ia berkata, "Berdoa dengan baik adalah setengah pelajaran yang lebih baik." --  D'Aubigne, "History of the Reformation of the Sixteenth Century," b. 2, ch. 2.
      Ketika sedang memeriksa buku-buku di perpustakaan universitas pada suatu hari, Luther menemukan Alkitab dalam bahasa Latin. Belum pernah ia melihat buku seperti itu sebelumnya. Ia sama sekali tidak tahu keberadaan buku itu. Ia telah pernah mendengar bagian-bagian dari Injil dan Surat-surat Rasul, yang telah dibacakan kepada orang-orang pada waktu kebaktian umum, dan ia  berpikir bahwa  itulah seluruh Alkitab itu. Sekarang, untuk pertama kalinya ia melihat seluruh firman itu. Dengan rasa kagum bercampur heran ia membalik halaman-halaman kudus itu. Dengan denyut nadi yang lebih cepat dan jantung berdebar-debar, ia membaca firman kehidupan itu untuk dirinya sendiri. Setelah berhenti sejenak ia berseru,  "Oh, seandainya Allah memberikan buku seperti ini menjadi milikku sendiri!" -- Idem, b. 2, ch. 2.  Malaikat-malaikat Surga berada disampingnya dan sinar-sinar terang dari takhta Allah menyatakan kekayaan kebenaran itu kepada pengertiannya. Sebelumnya ia selalu takut melanggar kehendak Allah. Tetapi sekarang ia mempunyai kesadaran yang mendalam mengenai keadaannya sebagai orang berdosa dan bergantung kepada Allah seperti belum pernah sebelumnya.
      Suatu  kerinduan  yang  sungguh-sungguh  untuk  bebas  dari  dosa  dan  untuk  memperoleh kedamaian dengan Allah, akhirnya menuntun dia memasuki sebuah biara, dan menyerahkan dirinya kepada kehidupan biara. Di sini ia diharuskan melakukan pekerjaan yang paling rendah, dan meminta-minta dari rumah ke rumah. Pada waktu itu ia berada pada tingkat umur dimana penghormatan dan penghargaan sangat didambakan. Dan pekerjaan yang cocock untuk seorang hamba ini sangat melukai perasaan alamiahnya. Tetapi dengan tabah dan sabar ia tahankan pekerjaan yang merendahkan diri ini, sebab ia percaya bahwa hal itu diperlukan oleh dosa-dosanya.
      Setiap saat diwaktu senggangnya ia gunakan untuk belajar, sehingga mengurangi tidurnya, bahkan sebagian menghabiskan waktu untuk makan yang tidak mencukupi itu. Diatas segalanya yang lain, ia bersuka cita mempelajari firman Allah. Ia menemukan sebuah Alkitab yang dirantai ke dinding biara, dan untuk ini ia sering pergi ke situ. Sementara keyakinannya mengenai dosa semakin mendalam, ia mulai mencari pengampunan dan kedamaian atas usahanya sendiri. Ia menghidupkan suatu kehidupan yang ketat, dengan berpuasa, berjaga dan berdoa sepanjang malam, dan menyiksa diri untuk menundukkan keadaannya yang jahat, yang untuk ini kehidupan biara tidak dapat membebaskannya. Ia tidak menahankan pengorbanan, dengan harapan, mudah-mudahan oleh itu ia memperoleh kesucian hati yang akan menyanggupkannya berdiri berkenan dihadapan Allah.  "Sesungguhnya aku adalah seorang biarawan yang taat," katanya kemudian, "dan mematuhi semua peraturan ordeku lebih ketat daripada yang dapat aku katakan. Jikalau pernah seorang biarawan memperoleh Surga oleh pekerjaannya sebagai biarawan, aku merasa pasti berhak untuk itu . . . .  Jika pekerjaan itu diteruskan lebih lama lagi, pekerjaan penyiksaan diri itu akan menewaskan aku."  -- D'Aubigne, b. 2, ch. 3. Sebagai akibat disiplin yang menyakitkan, ia kehilangan kekuatannya, dan menderita pingsan kejang-kejang, yang tidak pernah sembuh benar dari pengaruhnya. Tetapi dengan semua usahanya ini jiwanya yang menanggung beban tidak menemukan kelegaan. Akhirnya ia berada ditepi jurang keputus-asaan.
      Bilamana tampaknya semua sudah hilang bagi Luther, Allah memberikan seorang sahabat dan penolong baginya.  Staupitz yang saleh membuka firman Allah kedalam pikiran Luther dan mengajaknya mengalihkan pandangannya dari dirinya sendiri, menghentikan merenungkan hukuman tanpa batas karena pelanggaran hukum Allah, dan memandang kepada  Yesus, Juru Selamat yang mengampuni dosa itu. "Daripada menyiksa dirimu oleh karena dosa-dosamu, jatuhkanlah dirimu ketangan Penebus. Percayalah kepada-Nya, kepada kebenaran kehidupan-Nya, kepada penebusan kematian-Nya . . . .  Dengarkanlah Anak Allah. Ia menjelma menjadi manusia untuk memberikan kepadamu jaminan perkenan ilahi."  "Kasihilah Dia yang telah lebih dahulu mengasihimu."  --  Idem, b. 2, ch. 4.  Demikianlah pesuruh kemurahan itu berbicara. Kata-katanya itu membawa kesan mendalam di pikiran Luther. Setelah bergumul dengan kesalahan-kesalahan kesayangan lama, ia akhirnya mampu menerima kebenaran, dan kedamaianpun datang kepada jiwanya yang susah.
      Luther ditahbiskan menjadi imam, dan telah dipanggil keluar dari biara menjadi guru besar di Universitas Wittenberg. Disini ia mempelajari Alkitab dalam bahasa aslinya. Ia mulai memberi ceramah mengenai Alkitab. Dan buku-buku Mazmur, Injil, dan Surat Rasul-rasul telah dibukakan kepada    pengertian  para  pendengar  yang  bergembira.  Staupitz,  sahabatnya  dan  atasannya, mendorongnya untuk naik mimbar dan mengkhotbahkan firman Allah. Luther merasa ragu karena merasa dirinya tidak layak berbicara kepada orang-orang sebagai ganti Kristus. Hanya setelah pergumulan yang lama dia menerima permintaan sahabat-sahabatnya. Ia sudah mahir mengenai Alkitab, dan rakhmat Allah turun keatasnya. Kemampuannya berbicara memikat para pendengarnya, dan penyampaian kebenaran yang jelas dan dengan kuasa meyakinkan pengertian mereka, dan semangatnya yang berapi-api menyentuh hati mereka.
      Luther masih tetap menjadi anggota gereja kepausan yang sugguh-sungguh, dan tidak pernah berpikir yang lain-lain. Dengan pemeliharaan Allah ia telah dituntun untuk mengunjungi Roma. Ia melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, dan menginap di biara-biara sepanjang perjalanan. Di salah satu biara di Italia ia dipenuhi keheranan melihat kekayaan, keindahan dan kemewahan yang disaksikannya.  Para  biarawan  tinggal  di  apartemen  yang  megah,  dengan  pendapatan  yang  memuaskan, berpakaian yang paling mewah dan paling mahal, dan memakan makanan yang mewah. Dengan sangat ragu-ragu, Luther membandingkan pemandangan ini dengan penyangkalan diri dan kesukaran yang dialaminya dalam hidupnya sendiri. Pikirannya menjadi bingung.
      Akhirnya ia melihat dari kejauhan kota tujuh-gunung itu. Dengan perasaan yang mendalam ia tersungkur ke tanah dan berseru, "Roma yang kudus, aku menghormatimu."  Ia memasuki kota itu, mengunjungi gereja-gereja, mendengarkan cerita-cerita dongeng yang diceritakan oleh para imam dan biarawan, dan menjalankan semua upacara yang diharuskan.  Dimana-mana ia melihat pemandangan yang memenuhinya dengan kekaguman dan ketakutan. Ia melihat bahwa kejahatan terjadi di semua tingkat pendeta. Ia mendengar lelucon yang tidak sepantasnya dari para pejabat tinggi gereja, dan dipenuhi dengan kengerian kenajisan mereka, bahkan pada waktu misa. Pada waktu ia berbaur dengan para biarawan dan penduduk, ia menemui pemborosan, pesta pora dan kebejatan.  Berpaling ke tempat yang seharusnya suci, ia dapati kenajisan. "Tak seorangpun bisa membayangkan," ia menulis, "dosa apa dan tindakan tak terpuji apa yang dilakukan di Roma. Mereka harus melihat dan mendengar sendiri supaya percaya. Dengan demikian mereka akan bisa berkata, 'Jika ada neraka, Roma didirikan diatasnya: itu adalah suatu lobang yang dalam darimana
keluar segala jenis dosa.'" -- D'Aubigne, b. 2, ch. 6.
      Dengan dekrit yang baru, paus telah menjanjikan kesenangan kepada semua yang menaiki "Tangga Pilatus" dengan berlutut. Katanya tangga itu telah dituruni oleh Juru Selamat kita pada waktu meninggalkan pengadilan Roma, dan dengan ajaib telah dipindahkan dari Yerusalem ke Roma. Luther pada suatu hari menaiki tangga itu dengan sungguh-sungguh, pada waktu mana ia tiba-tiba mendengar satu suara bagaikan geledek yang berkata, "Orang benar akan hidup oleh iman" (Roma 1:17). Ia langsung berdiri dan segera meninggalkan tempat itu dengan malu dan ngeri. Ayat itu tidak pernah kehilangan kuasa atas jiwanya. Sejak waktu itu ia melihat lebih jelas dari sebelumnya pendapat yang keliru, yang mempercayai keselamatan diperoleh atas usaha manusia, dan pentingnya iman yang terus menerus kepada usaha Kristus. Matanya sekarang terbuka, dan tak akan pernah lagi tertutup, karena penipuan kepausan. Pada waktu ia memalingkan wajahnya dari Roma, hatinya juga ikut berpaling, dan sejak waktu itu jurang perpisahanpun semakin melebar,
sampai akhirnya ia memutuskan semua hubungannya dengan gereja kepausan.
      Sekembalinya  dari  Roma,  Luther  menerima  gelar  Doctor  of  Divinity  dari  Universitas Wittenberg. Sekarang ia bebas membaktikan dirinya kepada Alkitab yang dicintainya, seperti belum pernah sebelumnya. Ia telah bernazar untuk mempelajari dengan teliti firman Allah dan dengan setia akan mengkhotbahkannya seumur hidupnya, bukan kata-kata dan ajaran-ajaran para paus.  Ia bukan lagi sekedar biarawan atau guru besar, tetapi juga bentara dan pejabat yang berwenang Alkitab. Ia telah dipanggil sebagai gembala untuk memberi makan kawanan domba Allah, yang telah lapar dan haus akan kebenaran. Dengan tegas ia menyatakan bahwa orang Kristen tidak boleh menerima ajaran lain selain yang berdasarkan otoritas Alkitab yang suci. Kata-kata ini menghantam dasar supremasi kepausan. Kata-kata ini mengandung prinsip vital Pembaharuan (Reformasi).
      Luther melihat bahayanya meninggikan teori-teori manusia di atas firman Allah. Tanpa gentar ia menyerang ketidak-percayaan pada agama yang spekulatif dari para dosen, dan menentang filsafat dan teologi yang telah begitu lama mempunyai pengaruh menguasai orang-orang. Ia mencela pelayanan yang seperti itu sebagai bukan saja tidak berguna, tetapi juga berbahaya. Dan ia mencoba mengalihkan pikiran pendengarnya dari argumentasi yang tidak benar dengan tujuan menipu dari para ahli filsafat dan ahli teologi, kepada kebenaran kekal yang diletakkan oleh para nabi dan para rasul.
      Begitu berbahaya pekabaran yang dibawanya kepada para pendengar yang rindu dan yang lapar akan kata-katanya. Belum pernah pengajaran seperti itu mereka dengar sebelumnya. Berita kesukaan mengenai kasih Juru Selamat, jaminan pengampunan dan kedamaian melalui penebusan darah-Nya, memberikan sukacita dan mengilhamkan suatu pengharapan kekal didalam hati mereka. Di Wittenberg satu terang sudah dinyalakan yang sinarnya harus meluas sampai ke hujung bumi, dan yang terangnya bertambah menjelang akhir zaman.
      Akan tetapi terang dan kegelapan tidak bisa berbaur. Antara kebenaran dan kesalahan ada pertentangan yang tidak bisa dihilangkan. Untuk meninggikan dan mempertahankan yang satu kita harus melawan dan membuangkan yang lain. Juru Selamat kita sendiri berkata, "Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang" (Matius 10:34). Luther berkata beberapa tahun setelah Pembaharuan, "Allah tidak menuntun aku, Ia mendorong aku kedepan. Ia membawa aku. Aku bukan tuan atas diriku. Aku rindu hidup dengan tenang, tetapi aku telah dilemparkan ke tengah-tengah keributan dan revolusi."  --  D'Aubigne, b. 5, ch. 2.  Sekarang ia hampir terbujuk memasuki pertarungan.  

      Gereja Roma telah membuat rahmat Allah menjadi barang dagangan. Meja-meja penukaran uang (Matius 21:12) disediakan disamping mezbah-mezbah, dan udara dipenuhi hiruk-pikuk teriakan para penjual dan para pembeli. Oleh karena kebutuhan dana yang besar untuk mendirikan gereja St. Petrus di Roma, surat-surat pengampunan dosa telah dijual secara terbuka atas persetujuan paus. Dengan hasil kejahatan sebuah kaabah akan didirikan, tempat berbakti kepada Allah -- batu penjuru telah diletakkan dengan upah kejahatan dan kekjaman! Tetapi cara yang digunakan untuk memperbesar kuasa dan kekayaan Roma telah menimbulkan pukulan yang mematikan kepada kekuasaannya dan kepada kebesarannya sendiri. Inilah yang membangkitkan musuh kepausan yang paling  bertekad  melawan  dan  yang  paling  sukses,  yang  menimbulkan  peperangan  yang menggoncangkan istana kepausan, dan yang telah mendesak mahkota bertingkat tiga itu dari kepala paus.
      Petugas resmi yang ditunjuk melaksanakan penjualan surat pengampunan dosa itu di Jerman -- Tetzel namanya -- telah dipersalahkan melakukan kejahatan terhadap masyarakat dan terhadap hukum Allah. Tetapi ia tidak dihukum atas kejahatannya itu, sebaliknya ia dipekerjakan untuk memajukan proyek mencari keuntungan paus ini. Dengan kelancangan yang sangat ia mengulangi kepalsuan yang menyolok dan menghubungkan cerita-cerita dongeng untuk menipu orang-orang bodoh, orang-orang yang mudah percaya dan yang percaya kepada takhyul. Seandainya mereka mempunyai  firman  Tuhan,  mereka  tidak  akan  tertipu  seperti  itu.  Alkitab  dihindarkan  dari orang-orang agar mereka tetap dibawah kekuasaan kepausan, dan agar kekayaan dan kekuasaan para pemimpinnya terus berkembang. -- Lihat Gieseler, Ecclesiastical History,"  Period IV, sec. 1, par. 5.
      Pada waktu Tetzel memasuki kota, seorang pesuruh mendahului dia dan mengumumkan, "Rahmat Allah dan bapa kudus sekarang berada di pintu gerbang Anda."  --  D'Aubigne, b. 3, ch. 1.  Dan orang-orang menyambut penipu yang penuh hujat itu, seolah-olah ia adalah Allah Sendiri yang datang dari Surga kepada mereka. Perdagangan keji telah dilakukan di gereja, dan Tetzel naik ke mimbar dan mengacung-acungkan surat pengampunan dosa itu sambil mengatakan bahwa itulah pemberian  yang  paling  berharga  dari  Allah.  Ia  mengatakan  bahwa  dengan  jasa  surat pengampunannya itu semua dosa yang akan dilakukan oleh pembeli sesudah ini akan diampuni dan bahwa "pertobatanpun tidak diperlukan." --  Idem, b. 3, ch. 1.  Lebih dari itu, ia juga memastikan kepada para pendengarnya bahwa surat pengampunan ini bukan saja berkuasa menyelamatkan yang hidup, tetapi juga yang sudah meninggal. Pada saat uang itu jatuh ke dasar kotaknya, maka jiwa untuk siapa uang itu dibayarkan, akan lolos dari api penyiksaan (purgatori) dan masuk ke Surga. -- Lihat Hagenbach, "History of the Reformation," Vol. I, p. 96.
      Pada waktu Simon Magus mau membeli dari rasul-rasul kuasa untuk melakukan mujizat, Petrus menjawabnya, "Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang" (Kisah 8:20).  Tetapi tawaran Tetzel itu disambut oleh ribuan orang yang ingin. Keselamatan yang dapat dibeli dengan uang lebih mudah didapatkan daripada keselamatan yng menuntut pertobatan, iman dan usaha yang rajin untuk menolak dan mengalahkan dosa.  --  (Lihat Lampiran).
      Pengajaran mengenai surat pengampunan dosa telah ditentang oleh kaum terpelajar dan oleh orang-orang saleh di dalam Gereja Roma. Dan banyak yang tidak percaya kepura-puraan atau kemunafikan yang bertentangan dengan akal sehat dan nubuatan itu. Tak seorangpun pejabat tinggi gereja yang berani bersuara menentang perdagangan jahat ini. Tetapi pikiran orang-orang telah menjadi terganggu dan gelisah, dan banyak orang yang bertanya mengapa Allah tidak bekerja dengan cara lain untuk menucikan gereja-Nya.
      Luther, meskipun masih pengikut paus yang paling jujur, telah dipenuhi kengerian terhadap perdagangan surat pengampunan dosa yang penuh dengan kesombongan dan hujat itu. Banyak anggota jemaatnya telah membeli surat pengampunan itu, dan mereka segera datang kepada gembala jemaatnya mengakui dosa-dosa mereka, dan mengharapkan pengampunan, bukan karena mereka sudah bertobat dan menginginkan pembaharuan, tetapi atas dasar surat pengampunan itu. Luther menolak memberi pengampunan, dan mengamarkan mereka bahwa kecuali mereka bertobat dan membaharui kehidupan mereka, mereka akan binasa dalam dosa-dosanya. Dalam kebingungan yang sangat, mereka pergi ke Tetzel dengan keluhan bahwa gembala jemaat mereka telah menolak sertifikat pengampunan dosa. Dan sebagian dengan tegas meminta supaya uangnya dikembalikan. Tetzel sangat marah. Ia mengucapkan kutukan yang paling ngeri, dan menyuruh menyalakan api alun-alun kota, dan menyatakan bahwa ia telah menerima perintah dari paus untuk membunuh semua bida'ah yang berusaha melawan surat pengampunan dosa yang mahakudus itu.  --  D'Aubigne, b. 3, ch. 4.
      Sekarang Luther memulai pekerjaannya dengan berani sebagai pejuang kebenaran. Suaranya terdengar  dari  atas  mimbar  memberikan  amaran  yang  sungguh-sungguh  dan  khidmat. Ditunjukkannya dihadapan orang-orang sifat pelanggaran dasar, dan mengajarkan kepada mereka bahwa adalah tidak mungkin bagi manusia, atas usahanya sendiri, mengurangi kesalahannya atau menghindari hukumannya. Tidak ada yang lain kecuali pertobatan kepada Allah dan iman kepada Yesus Kristus yang dapat menyelamatkan orang berdosa. Rahmat Kristus tidak dapat dibeli, itu adalah  pemberian  cuma-cuma.  Ia    menasihati  orang-orang  supaya  jangan  membeli  surat pengampunan dosa, tetapi memandang dengan iman kepada Penebus yang sudah disalibkan itu. Ia menghubungkan pengalamannya yang menyakitkan yang dengan sia-sia mencari kehinaan diri dan pengampunan untuk mendapatkan keselamatan. Ia juga meyakinkan pendengarnya bahwa barulah
setelah ia melihat ke luar dari dirinya dan percaya pada Kristus,  ia menemukan kedamaian dan sukacita.
      Pada waktu Tetzel meneruskan perdagangan dan kepura-puraannya yang tidak percaya kepada Tuhan, Luther memutuskan untuk memprotes dengan lebih efektif terhadap penyalah-gunaan ini. Suatu  kesempatan  segera  didapatkan.  Gereja  kastel  Wittenberg,  yang  mempunyai  beberapa benda-benda kuno yang dianggap bernilai agama, yang pada hari-hari besar tertentu dipamerkan kepada umum, memberikan pengampunan penuh kepada semua orang yang berkunjung ke gereja itu dan yang membuat pengakuan dosa. Sebagai mana biasanya pada hari-hari seperti itu, banyak orang yang berkunjung ke tempat itu. Salah satu kesempatan yang paling penting ini, festival "Semua orang kudus," yang sudah hampir tiba.
      Pada hari sebelum fetival itu, Luther, bersama-sama dengan orang banyak yang pergi ke gereja, memakukan di pintu gereja selembar kertas yang berisi 95 dalil atau tesis yang menentang ajaran surat pengampunan dosa. Ia menyatakan kesediaannya untuk mempertahankan dalil atau tesis ini besoknya di universitas, terhadap semua yang merasa diserang.
      Dalil-dalilnya itu menarik perhatian umum.  Mereka membaca, dan membaca ulang dalil itu, dan
mengulanginya di segala penjuru. Suatu kegemparan besar terjadi di universitas dan seluruh kota itu. Dengan tesis ini telah ditunjukkan bahwa kuasa untuk memberikan pengampunan dosa dan penghapusan hukuman tidak pernah diberikan kepada paus atau seseorang yang lain. Seluruh rencana itu adalah lelucon belaka, --  suatu kecerdikan untuk memeras uang oleh bermain melalui ketakhyulan orang-orang -- suatu alat Setan untuk membinasakan jiwa orang-orang yang mau percaya kepada dusta kepura-puraannya. Juga dengan jelas ditunjukkan bahwa Kristus adalah harta gereja yang paling berharga, dan bahwa rahmat Allah yang dinyatakannya, diberikan dengan cuma-cuma kepada semua orang yang mencarinya oleh pertobatan dan iman.

      Tesis Luther menantang perbincangan, tetapi tak seorangpun berani menerima tantangan itu.  Pertanyaan-pertanyaan yang dihadapkannya telah tersebar ke seluruh Jerman hanya dalam beberapa hari saja. Dalam beberapa minggu telah terdengar ke selurh dunia Kekritenan. Banyak dari pengikut agama Roma yang setia, yang telah melihat dan menyesali kejahatan keji yang merajalela di gereja  tetapi tidak tahu cara menghentikannya, membaca dalil itu dengan sukacita besar, menganggap dalil itu sebagai suara Allah. Mereka merasa bahwa tangan Tuhan yang penuh rahmat telah menghentikan arus kebejatan moral yang cepat membengkak itu yang telah dikeluarkan dari Roma. Para pangeran dan para pejabat tinggi gereja bersukacita secara diam-diam karena sebuah rintangan telah diberlakukan terhadap kuasa yang congkak itu, yang telah menghilangkan hak naik banding atas keputusan-keputusannya.
      Tetapi orang-orang banyak yang mencintai dosa dan ketakhyulan telah ketakutan pada waktu kepura-puraan yang telah menenangkan ketakutan mereka telah hilang.  Para pendeta yang banyak tipu muslihatnya berhenti sementara dalam melakukan kejahatan mereka, dan melihat pendapatan mereka dalam bahaya, telah menjadi marah dan berlomba untuk mempertahankan kepura-puraan mereka. Sang Pembaharu menghadapi para penuduh yang gigih. Sebagian menuduh dia bertindak gegabah dan menurut dorongan hati saja. Yang lain menuduhnya berprasangka dan congkak, menyatakan bahwa ia tidak dipimpin oleh Allah, tetapi bertindak atas kesombongan dan penonjolan diri.  "Siapa yang tidak tahu," katanya, "bahwa seseorang jarang mengemukakan ide baru tanpa kelihatan sombong dan tanpa dituduh menimbulkan pertengkaran? . . . . Mengapa Kristus dan para syuhada  dibunuh?  Oleh  karena  mereka  tampaknya  seperti  penghina  yang  sombong  kepada kebijaksanaan masa itu,  dan oleh sebab mereka memajukan hal-hal baru tanpa terlebih dahulu, dengan rendah hati, meminta nasihat orang-orang bijaksana sebelumnya."
      Sekali lagi ia nyatakan, "Apa saja yang saya lakukan akan saya lakukan, bukan oleh kepintaran manusia, tetapi nasihat Allah. Jika pekerjaan itu datangnya dari Allah,  siapakah yang dapat menghentikannya?  Jikalau  tidak  dari  Allh,  siapakah  yang  sanggup  meneruskannya?  Bukan kehendakku, atau kehendak mereka atau kehendak kami. Tetapi kehendak-Mu, O, Bapa yang kudus, yang di dalam Surga."  --  Idem, b. 3, ch. 6.
      Meskipun Luther telah digerakkan oleh Roh Allah untuk memulai pekerjaannya, ia tidak mengerjakannya  tanpa  pertentangan  hebat.  Celaan-celaan  musuh-musuhnya,  penyelewengan tujuan-tujuannya, dan pencerminan ketidak-adilan dan bahaya atas tabiat dan motifnya, dilancarkan kepadanya seperti banjir yang sedang melanda, dan semuanya bukan tanpa pengaruh. Ia merasa percaya diri bahwa para pemimpin orang-orang baik dalam gereja maupun di sekolah-sekolah akan dengan senang bersatu dengan dia dalam usaha-usaha pembaharuan. Kata-kata dorongan dari mereka yang berada pada kedudukan yang tinggi, telah mengilhaminya dengan sukacita dan pengharapan. Ia telah mengantisipasi bahwa hari yang lebih cerah akan terbit di dalam gereja. Tetapi kata-kata dorongan telah berubah menjadi celaan dan kutukan. Banyak pejabat-pejabat tinggi, baik gereja maupun negara telah diyakinkan oleh kebenaran tesisnya itu; tetapi mereka segera melihat bahwa penerimaan kebenaran ini akan melibatkan perubahan besar. Memberi penerangan kepada rakyat dan mengadakan pembaharuan pada orang-orang jelas-jelas merendahkan kekuasaan Roma, menghentikan arus kekayaan mengalir ke perbendaharaan Roma, dan dengan demikian mengurangi perbuatan melampaui batas, dan kemewahan para pemimpin kepausan. Lebih jauh, mengajar orang berpikir dan bertindak sebagai makhluk yang bertanggungjawab, memandang kepada Kristus satu-satunya jalan keselamatan, akan meruntuhkan tahta paus, yang akhirnya menghancurkan
kekuasaannya. Atas alasan-alasan ini mereka menolak pengetahuan yang ditawarkan kepada mereka oleh Allah, dan mempersiapkan diri mereka melawan Kristus dan kebenaran oleh perlawanan terhadap orang yang telah dikirimnya menerangi mereka.
      Luther gemetar pada waktu dia memandang dirinya -- seorang melawan orang yang paling berkuasa di dunia. Kadang-kadang ia ragu-ragu apakah ia benar-benar dipimpin oleh Allah untuk melawan  otoritas    gereja.  "Siapakah  aku,"  ia  menulis,  "menentang  keagungan  paus,  yang dihadapannya . . .  raja-raja dunia ini dan seluruh dunia gemetar? . . . Tak seorangpun yang tahu betapa hatiku menderita selama dua tahun pertama ini, dan kedalam kemurungan dan keputusasaan aku tenggelam."  --  Idem, b. 3, ch. 6.  Tetapi ia tidak dibiarkan tawar hati.  Bilamana dukungan manusia gagal, ia hanya melihat kepada Allah saja, dan mengetahui bahwa ia dapat bersandar dengan aman di atas tangan Yang Mahakuasa itu.
      Luther menulis kepada seorang sahabat Pembaharuan,  "Kita tidak dapat mengerti Alkitab itu baik oleh mempelajarinya atau oleh kepintaran. Tugas pertamamu ialah memulai dengan berdoa. Mintalah agar Tuhan memberikan kepadamu, oleh kemurahannya yang besar, pengertian yang benar tentang firman-Nya. Tidak ada penafsir firman Allah yang lain selain Pengarang firman itu sendiri, sebagaimana Ia sendiri katakan, 'Mereka semua akan diajar oleh Allah.' Janganlah mengharapkan sesuatu dari usahamu sendiri, dari pengertianmu sendiri. Percayalah kepada Tuhan saja dan kepada pengaruh Roh-Nya. Percayalah kepada perkataan ini dari seorang yang sudah berpengalaman."  --  Idem, b. 3, ch. 7.  Inilah satu pelajaran yang sangat penting bagi mereka yang merasa dipanggil oleh Allah untuk menyajikan satu-satunya kebenaran itu kepada orang lain pada masa ini. Kebenaran itu akan membangkitkan rasa permusuhan Setan dan orang-orang yang menyukai cerita-cerita dongeng yang telah dirancangnya. Dalam pertentangan dengan kuasa kejahatan, ada suatu keperluan yang lebih penting dari pada  sekedar kekuatan intelek dan akal budi manusia. 
      Bilamana musuh menarik perhatian kepada adat dan tradisi,  atau tuntutan dan kekuasaan paus, Luther menghadapinya dengan Alkitab, dan satu-satunya Alkitab. Inilah argumentasi yang tidak dapat dijawab oleh mereka. Oleh sebab itu budak-budak formalisme dan ketakhyulan berteriak menuntut  darahnya, sama seperti orang-orang Yahudi berteriak menuntut darah Kristus. "Dia seorang bida'ah," teriak orang-orang fanatik Roma itu. "Adalah suatu pengkhianatanbesar terhadap gereja membiarkan seorang bida'ah hidup lebih dari sejam. Dirikanlah segera tiang gantungan baginya!"  -- Idem, b. 3, ch. 9.  Akan tetapi Luther tidak jatuh menjadi mangsa keganasan mereka. Allah mempunyai pekerjaan yang akan dikerjakannya, dan malaikat-malaikat Allah telah dikirimkan untuk melindunginya. Namun begitu, banyak orang yang telah menerima terang yang berharga itu dari Luther, telah menjadi sasaran murka Setan, dan demi kebenaran tanpa takut menderita siksaan dan kematian.
      Pengajaran  Luther  menarik  perhatian  orang-orang  cerdik  pandai  diseluruh  Jerman. Dari khotbah-khotbahnya keluarlah sinar-sinar terang yang membangunkan dan menerangi beribu-ribu orang. Iman yang hidup menggantikan formalisme mati yang telah lama dianut gereja.  Setiap hari orang-orang mulai tidak percaya lagi kepada ketakhyulan Roma. Hambatan prasangka mulai hilang. Firman Allah, oleh mana setiap doktrin dan tuntutan diuji oleh Luther, bagaikan pedang bermata dua, menembusi masuk kedalam hati orang-orang. Dimana-mana ada kebangunan kerinduan kepada suatu kemajuan kerohanian. Dimana-mana ada kelaparan dan kehausan kepada kebenaran yang belum pernah terjadi sebelumnya selama berabad-abad. Mata orang-orang yang begitu lama ditujukan kepada upacara-upacara manusia dan pengantara duniawi, sekarang dialihkan kepada pertobatan dan iman kepada Kristus yang disalibkan itu.
      Perhatian orang-orang yang semakin meluas ini menimbulkan rasa takut lebih jauh pada penguasa kepausan. Luther  dipanggil -- menghadap ke Roma, untuk menjawab tuduhan bida'ah. Perintah itu membuat teman-temannya sangat merasa takut.  Mereka mengerti benar bahaya yang mengancamnya di kota yang bejat itu, yang telah mabuk dengan darah para syuhada Yesus. Mereka memprotes kepergiannya ke Roma, dan memohon agar pemeriksaannya dilakukan di Jerman saja.
      Permohonan itu akhirnya disetujui, dan utusan paus dipilih untuk mendengar kasus itu. Dalam instruksi yang disampaikan paus kepada utusannya dikatakan bahwa Luther telah dinyatakan sebagai bida'ah. Oleh sebab itu utusan itu ditugaskan untuk "menuntut dan menahan Luther dengan segera."  Jikalau ia tetap bertahan dan utusan itu gagal untuk menguasainya, maka utusan itu diberi kuasa untuk  "mengucilkan dan mengharamkan dia di seluruh bagian Jerman, dan menghapuskan, mengutuk dan mengucilkan semua orang yang berhubungan dengan dia."  --  Idem, b. 4, ch. 2.  Lebih jauh paus memberi petunjuk kepada utusannya agar membasmi sampai keakar-akarnya bala sampar bida'ah, dan mengucilkan semua pejabat gereja maupun pejabat negara kecuali kaisar, yang melalaikan  penangkapan  Luther  dan  pengikut-pengikutnya,  dan  menyerahkannya  kepada pembalasan Roma.
      Disinilah  diperagakan  roh  kepausan  yang  sebenarnya.    Sedikitpun  tak  terdapat  prinsip Kekristenan, atau bahkan rasa keadilan di dalam seluruh instruksi itu. Luther berada jauh dari Roma. Dia tidak mendapat kesempatan untuk menjelaskan atau mempertahankan posisinya. Namun sebelum kasusya diperiksa ia telah dinyatakan seorang bida'ah, dan pada hari yang sama didorong, dituduh, dihakimi dan dihukum. Semua ini dilakukan oleh bapa kudus, satu-satunya penguasa tertinggi dan mutlak di dalam gereja maupun negara.
      Pada waktu ini, pada saat Luther begitu membuthkan simpati dan nasihat dari sahabat-sahabat sejatinya, pemeliharaan Allah mengirim Melanchthon ke Wittenberg. Meskipun masih muda, rendah hati dan bersahaja, dan masih kurang percaya pada diri sendiri, tetapi pertimbangannya yang baik dan  pengetahuannya  dan  kemahirannya  berbicara  digabung  dengan  kesucian  dan  ketulusan tabiatnya, Melanchthon dikagumi dan dihargai kalangan luas. Kecemerlangan bakatnya sama menonjolnya dengan kelemah-lembutan watak dan tabiatnya. Tidak lama kemudian ia menjadi murid  Injil  yang  sungguh-sungguh  dan  sahabat  Luther  yang  paling  terpercaya. Kelemah-lembutannya, keberhati-hatiannya dan ketepatannya menjadi pelengkap kepada keberanian dan kekuatan Luther. Perpaduan mereka dalam bekerja menambah kekuatan kepada Pembaharuan, dan menjadi sumber dorongan kuat bagi Luther.
      Telah ditetapkan kota Augsburg menjadi tempat pemeriksaan pengadilan, dan sang Pembaharu berjalan kaki ke kota itu.  Ketakutan yang serius memenuhi orang-orang oleh karenanya. Ancaman telah dilancarkan secara terbuka bahwa ia akan ditangkap dan dibunuh dalam perjalanan, sehingga teman-temannya merintanginya agar jangan mengambil risiko. Bahkan, mereka memintanya meninggalkan Wittenberg untuk sementara waktu, dan berlindung pada mereka yang dengan senang melindunginya. Tetapi ia tidak akan meninggalkan posisi dimana Allah telah menempatkannya. Ia harus terus mempertahankan kebenaran itu dengan setia, meskipun badai memukulnya. Inilah ucapannya, "Aku seperti nabi Yeremia, seorang yang penuh dengan pertikaian dan pertentangan. Tetapi semakin bertambah ancaman mereka, semakin bertambah pulalah sukacitaku. . . .  Mereka telah menghancurkan kehormatanku dan reputasiku. Hanya satu perkara saja yang masih tinggal, ialah tubuhku yang hina ini. Biarlah mereka juga mengambilnya, dengan demikian mereka akan memperpendek hidupku beberapa jam. Tetapi mengenai jiwaku, mereka tidak dapat mengambilnya. Ia yang rindu menyiarkan firman Kristus ke dunia ini, harus mengharapkan kematian setiap saat."  -- Idem, b. 4, ch. 4. 
      Berita mengenai tibanya Luther di Augsburg memberikan rasa puas kepada utusan paus. Orang bida'ah yang menyusahkan ini, yang telah membangkitkan perhatian seluruh dunia, tampaknya sekarang sudah berada dalam kekuasaan Roma, dan utusan paus itu telah menetapkan agar ia tidak boleh  lolos.    Sang  Pembaharu  itu  tidak  mempunyai  surat  jalan  jaminan  keselamatan. Sahabat-sahabatnya mendesak dia agar jangan menemui utusan paus itu tanpa surat jalan jaminan keselamatan. Dan mereka sendiri berusaha mendapatkannya dari kaisar. Utusan paus bermaksud untuk memaksa Luther, jika mungkin mundur dari keyakinannya, atau jika gagal dalam hal ini, meneruskannya ke Rom untuk mendapat nasib yang sama seperti Huss dan Jerome. Itulah sebabnya melalui  agen-agennya  ia  berusaha  mengajak  Luther  menghadap  tanpa  surat  jalan  jaminan keselamatan, dengan mempercayai belas kasihan utusan paus. Ajakan ini sama sekali ditolak oleh sang Pembaharu itu. Ia tidak akan menghadap utusan paus sebelum ia menerima dokumen yang menjanjika kepadanya perlindungan kaisar.
      Menurut kebijakan yang diambil, para penguasa Roma telah memutuskan untuk berusaha menundukkan Luther dengan tampak seolah-olah lembut. Utusan paus dalam wawancara dengannya menunjukkan seolah-olah sangat  bersahabat.  Tetapi ia mendesak agar secara implisit tunduk kepada kekuasaan gereja, dan mengalah tanpa argumentasi atau pertanyaan. Utusan paus itu belum memperhitungkan  dengan  benar  tabiat  orang  yang  dihadapinya.  Sebagai  jawaban,  Luther menyatakan  rasa  hormatnya  kepada  gereja,  kerinduannya  kepada  kebenaran,  kesediaannya menjawab semua keberatan-keberatan terhadap apa yang telah diajarkannya, dan menyerahkan ajarannya itu untuk dinilai oleh universitas-universitas terkemuka tertentu. Tetapi pada waktu yang sama ia memprotes sikap kardinal, utusan paus, yang meminta ia mundur tanpa membuktikan dia bersalah.
      Respons satu-satunya ialah, "Mundur, mundur!"  Pembaharu itu menunjukkan bahwa posisinya didukung oleh Alkitab, dan dengan tegas ia katakan bahwa tidak dapat menyangkal kebenaran itu. Utusan paus, yang tidak sanggup menjawab arguen-argumen Luther, menghujaninya dengan celaan, cemoohan, dan rayuan, yang diselingi dengan kutipan-kutipan dari tradisi dan sebutan-sebutan para pater tanpa memberi kesempatan kepada Pembaharu itu untuk berbicara. Setelah melihat bahwa konferensi itu akan berakhir dengan kegagalan jika diteruskan, akhirnya Luther mendapat izin yang terpaksa untuk memberikanjawabannya secara tertulis.
      "Dengan berbuat demikian," katanya dalam suratnya kepada seorang sahabatnya, "yang tertindas mendapat keuntungan ganda.  Pertama, apa yang ditulis itu dapat diserahkan untuk dipertimbangkan oleh orang lain, dan yang kedua, seseorang mempunyai kesempatan untuk mengatasi rasa takut terhadap seseorang yang angkuh, pengocehan dan lalim, yang kalau tidak bisa dikalahkan dengan bahasa yang sombong dan meninggi."  -- Martyn, "The Life and Times of Luther," pp. 271, 272.
      Pada wawancara berikutnya, Luther menyatakan pandangannya dengan jelas, singkat dan berbobot, yang didukung sepenuhnya dengan kutipan-kutipan dari Alkitab. Setelah membacakan tulisannya dengan nyaring, Luther menyerahkannya kepada kardinal, utusan paus itu. Namun utusan paus menganggap rendah tulisan itu dan mengesampingkannya, dan mengatakan bahwa tulisan itu adalah kumpulan dari kata-kata yang tidak berguna dan kutipan-kutipan yang tidak relevan. Luther tersinggung, benar-benar bangkit dan menghadapi pejabat tinggi gereja, utusan paus yang nakal itu dengan dasarnya sendiri, -- tradisi dan ajaran-ajaran gereja -- dan berhasil mengalahkan asumsinya.
      Bilamana kardinal, utusan paus, melihat bahwa pendapat Luther itu tidak bisa dijawab, ia sama sekali tidak dapat lagi mengendalikan dirinya, dan dengan geramnya ia berteriak, "Mundur! atau saya akan kirim engkau ke Roma, meghadap para hakim yang ditugaskan menangani masalahmu. Saya akan mengucilkan engkau dengan semua partisanmu, dan semua yang pada suatu waktu akan membantumu, dan akan mengusir mereka keluar dari gereja." Dan akhirnya ia mengatakan dengan nada sombong dan marah, "Mundur, atau engkau tidak akan kembali lagi."  --  D'Aubigne, b. 4, ch. 8 (London ed.).

      Sang Pembaharu dengan segera meninggalkan tempat itu bersama sahabat-sahabatnya. Dengan demikian menyatakan dengan jelas bahwa tidak akan mundur dari ajaran-ajarannya. Bukanlah ini yang dimaksudkan oleh kardinal. Ia telah menyombongkan diri bahwa dengan kekuasaan ia membuat Luther menyerah. Sekarang ia ditinggalkan bersama para pendukungnya, saling melihat satu sama lain dengan sangat kecewa melihat kegagalan yang tidak diharapkan sebelumnya.
      Usaha-usaha Luther pada waktu ini bukannya tidak berhasil baik. Para hadirin di mahkamah itu berkesempatan membandingkan kedua orang itu, dan menilai roh yang dinyatakan kedua mereka, serta kekuatan dan kebenaran posisi mereka masing-masing.  Sangat bertolak belakang!  Pembaharu itu sederhana, rendah hati, teguh, berdiri dengan kekuatan Allah, kebenaran berada dipihaknya. Kardinal, utusan paus, merasa diri penting, bersifat menguasai, sombong, tidak bisa bermusyawarah, tanpa satu argumentasi dari Alkitab, namun dengan keras berteriak, "Mundur! atau dikirim ke Roma untuk dihukum."
      Meskipun Luther telah memperoleh surat jalan jaminan keselamatan, para penguasa Roma telah berkomplot untuk menangkapnya dan memenjarakannya. Sahabat-sahabatnya mengataka kepada Luther bahwa tidak ada gunanya ia tinggal lebih lama dikota itu, ia harus segera kembali ke Wittenberg, dan ia harus sangat berhati-hati menyembunyikan maksudnya. Ia meninggalkan Augsburg sebelum fajar menyingsing dengan menunggang kuda, ditemani oleh seorang penunjuk jalan  yang  disediakan  oleh  pejabat  kota. Dengan harap-harap cemas, dengan diam-diam ia menyusuri jalan-jalan kota yang gelap dan sepi. Musuh-musuhnya, dengan berjaga-jaga dan dengan kejam telah berkomplot untuk membinasakannya. Apakah ia bisa meloloskan diri dari perangkap yang dipasang baginya? Saat itu adalah saat yang menegangkan dan saat untuk berdoa dengan sungguh-sungguh. Mereka tiba di suatu gerbang di tembok kota. Gerbang itu terbuka baginya, dan bersama penunjuk jalannya melewatinya tanpa halangan. Setelah selamat tiba diluar kota, pelarian itu segera melanjutkan perjalanannya, dan sebelum utusan paus mengetahui kepergian Luther ia
sudah  jauh  berada  diluar  jangkauan  para  penuduhnya.  Setan  bersama  kaki-tangannya  telah dikalahkan. Orang yang mereka sangka sudah berada dalam kekuasaannya telah tiada, seperti burung lepas dari jerat pemburu. 
      Mendengar kaburnya Luther, utusan paus sangat kaget dan marah. Ia telah mengharapkan akan memperoleh penghargaan atas kebijaksanaannya dan keteguhannya dalam menangani pengganggu gereja itu. Tetapi pengharapannya telah pupus semua dan sangat mengecewakannya. Ia menyatakan kegeramannya dalam satu surat kepada Frederick, penguasa Saxony, dengan keras ia mencela Luther dan meminta agar Frederick mengirimkan Pembaharu itu ke Roma atau ia akan diusir dan dibuang dari Saxony.
      Sebagai pembelaannya, Luther meminta agar utusan paus atau paus sendiri menunjukkan kepadanya kesalahannya dari Alkitab, dan berjanji dalam cara yang paling khidmat akan mencela ajaran-ajarannya jika ajaran-ajaran itu bertentangan dengan firman Allah.  Dan ia menyatakan rasa syukurnya kepada Allah karena ia telah dianggap pantas untuk menderita oleh karena-Nya. 
      Penguasa Saxony belum begitu banyak mengetahui tentang ajaran pembaharuan, tetapi ia sangat terkesan oleh keterus-terangan, kuasa dan jelasnya kata-kata Luther. Frederick berketetapan untuk menjadi pelindung Luther sampai sang Pembaharu itu terbukti bersalah. Dalam jawabannya kepada tuntutan utusan paus ia menulis,  " 'Oleh karena Doktor Martin Luther telah menghadap Anda di Augsburg, seharusnya Anda sudah merasa puas. Kami tidak mengharapkan bahwa Anda membuat dia mundur dari keyakinannya tanpa meyakinkannya tentang kesalahannya. Tak seorangpun kaum terpelajar di negeri kami yang memberitahukan kepada saya bahwa ajaran Luther itu tidak menghormati Tuhan atau tidak beriman, anti Kristen, atau bida'ah.'  Disamping itu, pangeran menolak mengirimkannya ke Roma, atau mengusirnya dari negaranya." --  D'Aubigne, b. 4, ch. 10.
      Penguasa Saxony melihat bahwa ada kemerosotan umum moral di masyarakat. Suatu pekerjaan besar pembaharuan diperlukan. Pengaturan yang rumit dan mahal untuk mencegah dan menghukum kejahatan tidak akan diperlukan jika orang-orang mengakui dan menuruti tuntutan Allah dan suara hati nuraninya. Ia melihat bahwa Luther berusaha untuk mencapai tujuan ini, dan secara rahasia ia bersukacita bahwa pengaruh yang lebih baik sedang terasa di dalam gereja.
      Ia juga melihat bahwa sebagai seorang profesor di universitas, Luther adalah seorang yang sukses. Baru setahun berlalu setelah Luther menempelkan tesisnya di gereja kastel, sudah ada penurunan kunjungan peziarah ke gereja itu pada pesta hari raya Seluruh Orang Kudus.  Roma telah kekurangan kelompok orang yang datang berbakti dan kekurangan persembahan. Tetapi tempat mereka ini telah diisi oleh kelompok lain, yang datang ke Wittenberg, bukan menjadi peziarah untuk mengagumi benda-benda bersejarah, tetapi menjadi pelajar-pelajar yang memenuhi ruangan-ruangan belajar. Tulisan-tulisan Luther telah membangkitkan minat baru terhadap Alkitab, bukan hanya dari seluruh bagian Jerman, tetapi juga dari negara-negara lain. Mereka berduyun-duyun memasuki universitas.  Para pemuda yang pertama kali datang ke Wittenberg, "mengangkat tangan mereka ke atas dan memuji Allah yang telah menyebabkan terang kebenaran bersinar dari kota ini, seperti dari Sion pada zaman dahulu, darimana terang itu tersebar bahkan ke negeri-negeri yang jauh."  --  D'Aubigne, b. 6, ch. 10.
      Sampai kini Luther baru sebagian bertobat dari kesalahan-kesalahan Romanisme. Tetapi sementara ia membandingkan Tulisan-tulisan Kudus dengan dekrit kepausan dan undang-undang, ia menjadi sangat keran.  "Saya sedang membaca," ia menulis, "dekrit para paus, dan . . . saya tidak tahu apakah paus itu sendiri antikristus atau rasulnya. Kristus sangat disalah-gambarkan dan disalibkan didalamnya." --  Idem, b. 5, ch. 1.  Namun sampai saat ini tidak ada pikirannya untuk memisahkan diri dari persekutuannya
      Tulisan-tulisan dan doktrin Pembaharu itu telah meluas kesetiap bangsa didunia Kekristenan. Pekerjaan itu meluas ke Swis dan ke Negeri Belanda. Salinan tulisan-tulisannya terdapat juga di Perancis dan Spanyol. Di Inggeris pengajaran Luther diterima sebagai firman kehidupan. Juga ke Belgia dan ke Italia kebenaran itu telah meluas. Beribu-ribu bangkit dari tidur mereka yang bagaikan orang mati itu, kepada kesukaan dan pengharapan suatu kehidupan beriman.
      Roma menjadi semakin jengkel oleh serangan-serangan Luther. Dan telah dinyatakan oleh beberapa lawan-lawannya yang fanatik, bahkan oleh para doktor di universitas-universitas Katolik, bahwa siapa yang membunuh biarawan pemberontak itu tidak berdosa. Pada suatu hari seorang asing, dengan pistol disembunyikan dibalik jubahnya, mendekati Pembaharu itu, dan bertanya mengapa ia berjalan sendirian seperti itu. Luther menjawab, "Aku berada didalam tangan Tuhan. Ia adalah kekuatanku dan perisaiku. Apa yang bisa dilakukan oleh seseorang terhadap aku?" --  Idem, b. 6, ch. 2.  Setelah mendengar perkataan ini orang asing itu menjadi pucat pasi dan melarikan diri, seperti dari hadapan malaikat-malaikat Surga. 
      Roma  bertekad  membinasakan  Luther,  tetapi Allahlah pelindungnya dan pertahanannya. Doktrin-doktrinnya telah terdengar dimana-mana, --  "di gubuk-gubuk dan biara-biara, . . .  di kastel-kastel  para  bangsawan,  di  universitas-universitas,  dan di istana raja-raja."  Dan para bangsawan telah bangkit untuk mendukung usaha-usahanya disegala bidang.  --  Idem, b. 6, ch. 2.
      Kira-kira pada waktu inilah Luther, setelah membaca tulisan-tulisan Huss, mendapati bahwa  kebenaran besar pembenaran oleh iman, yang ia sendiri berusaha tinggikan dan ajarkan, telah dianut oleh pembaharu Bohemia.  "Kami semua," kata Luther, "Paul, Augustine dan saya sendiri, telah menjadi pengikut Huss tanpa mengetahuinya!"  "Allah pasti akan datang melawat dunia ini," lanjutnya,  "bahwa kebenaran itu telah dikhotbahkan kepada dunia ini seabad yang lalu, dan membakarnya."   --  Wylie, b. 6, ch. 1.
      Dalam suatu himbauan kepada kaisar dan para bangsawan Jerman atas nama Pembaharuan Kekristenan, Luther menuliskan mengenai paus, "Adalah suatu yang mengerikan memandang seseorang yang menamakan dirinya sendiri wakil Kristus, yang memperagakan keindahan dan kemuliaan yang tak seorang kaisarpun dapat menyamainya. Apakah ini yang dikatakan seperti Yesus yang malang atau seperti Petrus yang hina? Dia, mereka katakan adalah Tuan dunia ini! Tetapi Kristus, yang diwakilinya dengan menyombongkannya, telah berkata, 'Kerajaanku bukan dari dunia ini.'  Dapatkah kekuasaan wakil melebihi kekuasaan atasannya yang diwakilinya?"  --  D'Aubigne, b. 6, ch. 3.
      Mengenai  beberapa  universitas  ia  menulis,  "Aku  merasa  sangat  khawatir  bahwa universitas-universitas akan menjadi pintu-pintu neraka, kecuali mereka dengan rajin menerangkan Alkitab, dan mengukirkannya didalam hati para pemuda. Saya tidak menasihati seorangpun untuk menempatkan anaknya di sekolah yang tidak meninggikan Alkitab. Setiap lembaga pendidikan dimana orang-orang tidak diisi dengan firman Allah akan korup." --  Idem, b. 6, ch. 3.
      Himbauan ini segera beredar ke seluruh Jerman, dan memberikan suatu pengaruh kuat kepada orang-orang. Seluruh bangsa itu telah digerakkan, dan orang banyak bangkit berkumpul dibawah panji-panji pembaharuan. Penentang-penentang Luther, didorong oleh keinginan untuk membalas, memohon kepada paus agar mengambil tindakan terhadapnya. Dengan segera dikeluarkan dekrit yang melarang dan mengharamkan doktrin-doktrin Luther.  Diberikan waktu enam puluh hari kepada Pembaharu dengan pengikut-pengikutnya, sesudah itu, jika mereka tidak menarik kembali pernyataannya, semua mereka akan dikucilkan dari gereja.
      Keadaan itu adalah suatu kemelut yang mengerikan bagi Pembaharuan. Selama berabad-abad
keputusan pengucilan Roma telah menakutkan raja-raja yang berkuasa sekalipun. Keputusan seperti itu telah membuat kerajaan yang kuat mengalami bencana dan kehancuran. Mereka yang dijatuhi hukuman  pengucilan,  pada  umumnya  dipenuhi  ketakutan  dan  kengerian.  Mereka  tidak diperbolehkan berhubungan dengan sesamanya, dan diperlakukan sebagai orang terbuang yang tidak dilindungi oleh undang-undang, dan akan diburu untuk dibinasakan. Luther tidak buta terhadap topan yang akan menimpanya, tetapi ia tetap teguh, percaya kepada Kristus yang akan menjadi penopangnya dan perisainya. Dengan iman dan keberanian untuk mati syahid atau menjadi syuhada ia menulis,  "Apa yang akan terjadi aku tidak tahu, atau aku tidak perduli untuk mengetahuinya . . . . Biarlah pukulan itu menghantam kemana ia mau menghantam, aku tidak takut. Tidak sehelai daunpun yang jatuh tanpa kehendak Bapa kita. Betapa Dia lebih memeliharakan kita! Adalah suatu perkara enteng untuk mati demi Firman itu, karena Firman yang telah menjadi daging itu Sendiri juga telah mati. Jikalau kita mati bersama Dia, kita akan hidup bersama Dia. Dan melalui apa yang Dia  telah  lalui  sebelum  kita,  kita  akan  berada  dimana  Dia  ada  dan  tinggal  bersama  Dia selama-lamanya."  -- Idem, b. 6, ch. 9 (3d London ed., Walther, 1840).
      Pada waktu surat keputusan paus sampai kepada Luther, ia berkata, "Saya menganggapnya remeh dan menentang itu sebagai palsu, selaku seorang yang beriman kepada Tuhan .  .  .  . Kristus Sendirilah yang dipersalahkan dalam hal ini  .  .  .  . Saya bersukacita menanggung derita seperti itu kalau alasan-alasannya baik. Saya telah merasakan kebebasan yang besar di dalam hati saya, sebab akhirnya saya tahu bahwa paus adalah antikristus, dan bahwa takhtanya adalah takhta Setan sendiri."  --  D'Aubigne, b. 6, ch. 9.
      Namun, perintah Roma itu bukan tanpa akibat. Untuk memaksakan penurutan kepada perintah itu digunakanlah pedang, penyiksaan dan penjara. Orang-orang yang lemah dan yang percaya kepada takhyul gemetar menghadapi dekrit paus itu. Dan sementara banyak yang bersimpati kepada Luther,
banyak juga yang merasa hidup itu terlalu mahal untuk dikorbankan demi pembaharuan. Segala sesuatu tampaknya seolah-olah menyatakan bahwa pekerjaan Pembaharu itu sudah mau terhenti.
      Akan tetapi Luther tetap tidak takut. Roma telah melemparkan lembing kutukannya melawan dia. Dan dunia melihatnya, tanpa ragu-ragu bahwa ia akan binasa atau dipaksa menyerah. Tetapi dengan kuasa yang dahsyat ia balik melemparkan lembing kutukan kepada paus, dan dengan terbuka ia menyatakan ketetapan hatinya untuk meninggalkan kepausan selama-lamanya. Dihadapan kerumunan para mahasiswa, para doktor dan masyarakat dari segala lapisan Luther membakar surat keputusan paus itu, bersama buku undang-undang  serta surat-surat keputusan dan tulisan-tulisan lain yang mendukung kekuasaan kepausan. "Musuh-musuhku telah merusakkan maksud-maksud kebenaran didalam pikiran orang-orang awam dan merusakkan jiwa-jiwa mereka dengan membakar buku-buku saya, dan sebagai gantinya, saya juga membakar buku-buku mereka. Perjuangan yang sungguh-sungguh baru saja mulai. Sampai sekarang saya bermain-main dengan paus. Saya memulai pekerjaan ini dalam nama Allah, dan akan berakhir tanpa saya, dan oleh kuasa-Nya."  --  Idem, b. 6, ch.10
      Terhadap celaan musuh-musuhnya yang mengejeknya dengan kelemahan pekerjaannya, Luther menjawab, "Siapa yang mengetahui kalau-kalau Allah tidak memilih dan memanggil saya, dan kalau mereka tidak harus merasa takut, bukankah dengan menghina saya mereka menghina Allah Sendiri? Musa sendirian pada waktu keberangkatan dari Mesir. Elia sendirian pada waktu pemerintahan Raja Ahab. Nabi Yesaya sendirian di Yerusalem. Nabi Yehezkiel sendirian di Babilon . . . . Allah tidak pernah memilih sebagai seorang nabi oleh karena ia seorang imam besar atau orang-orang penting lainnya; tetapi biasanya Dia memilih orang-orang yang rendah dan hina, bahkan pada suatu kali gembala Amos. Pada setiap zaman, orang-orang kudus harus menegur orang-orang besar, raja-raja, para pangeran, para imam dan para cerdik cendekiawan, dengan mempertaruhkan nyawa mereka . . . . Saya tidak mengatakan bahwa saya ini adalah nabi. Tetapi saya katakan bahwa mereka harus merasa takut sebab saya sendirian, sementara mereka banyak. Saya merasa yakin dalam hal ini, bahwa firman Allah ada bersama saya, dan bukan bersama mereka."  --  Idem, b. 6, ch. 10.
      Keputusan Luther untuk memisahkan diri dari gereja bukan tanpa pergumulan sengit dalam dirinya sendiri. Kira-kira pada saat inilah Luther menulis, "Saya merasa semakin sulit setiap hari untuk melepaskan keengganan yang telah meresap dalam diri sejak masa kanak-kanak.Oh, betapa sakitnya, walaupun Alkitab ada disamping saya untuk membenarkan kepada diri saya, bahwa saya harus berani berdiri sendirian menghadapi paus, dan menganggapnya sebagai antikristus! Betapa hatiku menderita seperti belum pernah terjadi sebelumnya!  Berapa kali saya menanyakan kepada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan yang sering terdengar keluar dari bibir para pengikut kepausan, 'Apakah hanya Anda sendiri yang bijaksana?  Apakah semua orang lain itu salah? Bagaimana jadinya, jika yang salah itu adalah Anda sendiri, dan yang terlibat dalam kesalahanmu itu begitu banyak jiwa, yang akan binasa selama-lamanya? Begitulah saya berjuang melawan diri saya sendiri dan melawan Setan, sampai Kristus, melalui firman-Nya yang tidak pernah salah, menguatkan hatiku melawan keragu-raguan itu."  --  Martyn, "Life and Times of Luther," pp. 372 - 373.
      Paus telah mengancam Luther dengan pengucilan jika ia tidak menarik kembali pernyataannya, dan ancaman itu sekarang sudah dilaksanakan. Surat keputusan yang baru menyusul, menyatakan pemisahan diri Pembaharu itu dari Gereja Roma, dan menyatakannya sebagai yang dikutuk oleh Surga; termasuk dalam pengutukan ini semua orang yang menerima ajarannya. Pertentangan besarpun telah dimulai dengan sepenuhnya.
      Perlawanan adalah salah satu yang Allah  gunakan untuk menyatakan kebenaran yang khusus sesuai dengan zamannya. Ada kebenaran masa kini pada zaman Luther, --  suatu kebenaran yang pada waktu itu mempunyai kepentingan khusus. Ada kebenaran masa kini bagi jemaat sekarang. Dia yang melakukan segala sesuatu sesuai dengan nasihat kehendak-Nya, telah berkenan menempatkan orang-orang dalam berbagai keadaan, dan menyerahkan kepada mereka tugas-tugas yang khusus kepada zaman dimana  mereka hidup dan kepada keadaan-keadaan dimana mereka ditempatkan. Jikalau mereka menghargai terang yang diberikan kepada mereka, maka pandangan yang lebih luas tentang kebenaran akan dibukakan kepada mereka. Tetapi kebenaran itu tidak lebih dirindukan oleh kebanyakan orang sekarang ini daripada oleh para pengikut paus yang menentang Luther. Atas sifat yang sama, menerima teori-teori dan tradisi-tradisi manusia  sebagai gantinya menerima firman Allah, sebagaimana pada zaman-zaman terdahulu. Mereka yang menyatakan kebenaran itu sekarang ini janganlah mengharapkan akan diterima dengan senang hati melebihi para pembaharu yang terdahulu. Pertentangan yang besar antara kebenaran dengan kesalahan, antara Kristus dengan Setan, akan semakin bertambah hebat menjelang penutupan sejarah dunia.
      Jesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia ini, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia ini, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidak lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu" ( Yohanes 15:19,20).  Sebaliknya Tuhan kita menyatakan dengan jelas, "Celakalah kamu jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu." (Lukas 6:26). Roh dunia ini tidak lebih selaras dengan roh Kristus sekarang ini daripada zaman dahulu.  Dan mereka mengkhotbahkan firman Allah dalam kemurniannya sekarang tidak akan diterima dengan lebih baik sekarang ini seperti juga
dahulu. Bentuk-bentuk perlawanan kepada kebenaran itu bisa berubah. Permusuhan mungkin kurang terbuka karena lebih halus. Tetapi antagonisme yang sama akan terjadi, dan akan dinyatakan pada akhir zaman.